Sobat Kecil Saya dan Anak Keduanya

IMG-20171117-WA0002

 

Awal bulan ini saya ditampar oleh sobat kecil saya. Sakit? Bangeettt! sakit, tapi nggak berdarah. Ditampar beneran? Ya enggaklah cuma disindir aja. Lalu ditampar bagaimana? Kawan kecil saya ini baru saja melahirkan ‘anak rohaninya’ yang kedua. Anak pertama ya usianya sudah lima tahun lebih kurang. Anak pertamanya itu lahir menjelang pernikahan dan ulangtahunnya. Lho? Punya anak sebelum nikah? Hehehe. Anak rohani yang saya maksud adalah buku.

Bulan ini lahir ‘anak keduanya’. Saya salut pada keuletan dan kegigihannya menulis. Dan saya masih kalah jauh. Dia sahabat kecil saya.   Tidak pada setiap orang saya bercerita, dia salah satu orang yang menyimpan rapi cerita-cerita saya. Nah, dalam perbincangan tersebut kami berbagi cerita tentang menulis. Saya bilang, jari-jari saya ini tak selincah dulu di atas keyboard laptop. Hihihi. Saya bilang salah satu alasannya adalah saya belum menemukan posisi wueenaaak alias PW untuk menulis. Dan dia bilang itu hanya cari-cari alasan. Saya tertawa, lantaran tudingannya itu benar.

Tanpa pikir panjang saya memesan satu karyanya. Kawan saya bertanya untuk apa? Apalagi buku yang ditulisnya itu nggak ada hubungan dengan latar belakang saya selama ini. Saya hanya menjawab singkat,”Kanggo tondo tresnoku marang sliramu,” (untuk tanda cintaku pada dirimu). Demikian saya bilang padanya. Dan dia hanya terkekeh mengetahui jawaban saya.

Lima belas tahun saya berkawan dengannya. Bukan waktu yang sebentar untuk kami saling berbagi apa saja. Sepuluh tahun kami terpisah jarak. Ketika saya memutuskan untuk bekerja di luar Yogyakarta dan menyusul dia meninggalkan Yogyakarta. Kangen? Jelas… jika ada kesempatan bertemu waktu satu atau dua jam nggak pernah cukup buat kami berbagi cerita.

Membuka buku karyanya membuat saya senyum-senyum sendiri. Pasalnya banyak foto dia sedang berinteraksi dengan murid-muridnya. Entah kenapa saya membayangkan dulu ketika dia mengajarkan lagu bebek-ayam dan kepiting cina kepada mahasiswa baru yang badannya segede gaban.

Berikut ini kata-kata mutiara yang ditulisnya untuk saya, “Kita dibesarkan dengan satu mantra sakral. Cerita seru kita berakar dari satu mantra sakral, walaupun terpisah jarak. Kita tetap menyatu dalam satu mantra sakral. Dan satu mantra sakral itu adalah ‘Membaca dan Menulis.Titik’.

IMG-20171120-WA0003

Iklan
Dipublikasi di Ekspresi, essaylepas, Sahabat | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Kisah Si Papah Pemersatu Netizen

setnov_tidur

foto: istimewa

Nama dan wajahnya kerap kali muncul di media. Sepekan belakangan namanya kembali mencuat, lantaran lembaga antirasuah kembali menetapkannya sebagai tersangka. Siapa lagi kalau bukan Setya Novanto, sang ketua dewan yang terhormat.   Bukan hanya muncul di pemberitaan, Novanto juga kerap jadi objek meme. Bahkan Novanto melaporkan para pembuat meme tentang dirinya ke polisi.

Pertengahan pekan lalu, Novanto sukses bikin saya tidur larut. Lantaran KPK mendatangi rumah Novanto dan berniat menjemput paksa si empunya rumah. Itung-itung nostalgia pekerjaan lama, saya pantengi berita sampai larut malam.  Namun, KPK gagal membawa Novanto malam itu. Sehari berselang beredar kabar kalau Novanto akan menyerahkan diri ke KPK. Pewarta pun bersiap, menjemput kedatangan Novanto. Bukan Novanto yang datang, tetapi kabar kecelakaan lalu lintas yang dialaminya yang datang.

Pengacara bilang, mobil yang membawa Novanto menabrak tiang listrik (belakangan diketahui yang ditabrak adalah tiang lampu penerangan jalam umum). Kepada wartawan, pengacara bilang, kalau kecelakaan parah tersebut menyebabkan pelipis Novanto benjol segede bakpao. Bukannya berempati, warganet malah menduga ini adah drama baru yang dimainkan Novanto.

Warganet memang dibikin terhibur beberapa hari belakangan, pasalnya dari kejadian itu muncul orang-orang kreatif yang bikin acung jempol. Apa saja sih?

  1. Kritik lewat komik yang menghibur
Komik Desta

sumber: facebook/narayarukii

 

 

  1. Jadi trending topic

Sudah bisa ditebak, drama si Papa ini jadi buah bibir di dunia maya. Tagar #Indonesiamencaripapa dan #Savetianglistrik sempat menjadi trending topic. Berikut cuplikan kicauan warganet yang menghibur.

 

  1. Papa ternyata bikin adem timeline
Screenshot_2017-11-16-12-58-24-039_com.android.chrome

foto: istimewa

Timeline media sosial yang biasanya panas dan berisi ujaran saling sindir beberapa hari kemarin mendadak adem dan menyajikan hiburan segar. Mereka yang biasanya beda pendapat satu suara soal si papah.

 

  1. Ada saja cara bakul online untuk mempromosikaan barang dagangannya

Bukan hanya pesaing Toyota yang memanfaatkan momen ini sebagai ajang promosi. Bakul sprei pun memajang sprei yang bermotif sama dengan yang dipakai papah di rumah sakit. Wow kreatif!

daihatsu

foto: istimewa

 

Kendati demikian pihak Daihatsu sepertinya telah menyunting postingan tersebut.

 

  1. Ada game tiang listrik
IMG-20171117-WA0017

foto: dokumen pribadi

Bukan hanya bakul online yang kreatif, para pembuat game pun sigap mengambil kesempatan. Mereka membuat game tiang listrik yang bisa diunduh di playstore. Saya iseng mengunduh dan memainkannya, hasilnya memang nggak mudah untuk menabrak tiang listrik. Saya hanya berhasil sekali, dari tiga kali kesempatan yang diberikan.

Ada-ada saja kreativitas orang Indonesia menanggapi peristiwa pekan lalu yang sukses memberikan tontonan yang cukup menghibur.  Tulisan iseng ini jangan dianggap serius.

 

 

Dipublikasi di essaylepas, hot issue | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Rina Nose, Jilbab, dan Hak Pribadi yang Terusik

Saya termasuk orang yang mengagumi Rina Nose ketika dia memutuskan untuk berjilbab beberapa waktu lalu. Gaya jilbab yang dipilihnya sederhana, nggak neko-neko. Rina, di mata saya terlihat lebih anggun dan asyik berjilbab. Lama saya tak memperhatikan kehidupan Rina Nose, maklum saya termasuk orang yang jarang kepo kehidupan selebriti kecuali kalau sedang heboh dan ramai diperbincangkan. Follow akun Instagramnya pun tidak.

rina nose 2

youtube.com

Sepekan terakhir Rina Nose kembali bikin heboh, lagi-lagi karena jilbabnya. Si Periang itu memutuskan untuk melepas hijabnya. Ada apa? Rina Nose tak bilang blak-blakan. Bahkan dalam wawancara ekslusif dengan Dedy Corbuzer di UCeleb talk, beberapa waktu Rina tak menjawab gamblang. Dia menuliskan alasannya di buku catatan Dedy. Namun Dedy tak membacakannya.”Lo tahu kalau gua nggak mungkin ngomong ini kan?” ujar Dedy, disertai anggukan Rina Nose.

Rina Nose sepertinya ingin menutup rapat alasannya melepas hijab. Sangat pribadi dan sangat Rahasia. Tak tanggung-tanggung 125.000 komentar memenuhi laman Insatgramnya. Rina bilang, nggak semua negatif, Ada juga menguatkannya pada laman Instagramnya. ”Meski bukan berarti mereka membenarkan apa yang aku lakukan, tapi mereka tahu saya sedang down dan ini keputusan berat,” kata Rina, dikutip dari wawancara dengan Deddy Corbuzier, di Ucelebtalk beberapa waktu lalu.

Rina Nose

dream.co.id

Saya yakin bukan perkara mudah bagi Rina untuk memutuskan hal ini. Butuh waktu yang panjang baginya sampai pada keputusan, melepas hijab. Itu terlihat dari ekspresi Rina dan gaya bicara Rina yang cenderung hati-hati. Berbanding terbalik dengan Rina yang biasa kita lihat di televisi. Rina pun mengatakan hal itu, butuh enam bulan baginya untuk mencari dan mempertimbangkan banyak hal. Rina pun menyadari banyak konsekuensi dan risiko yang harus ditanggungnya. Bukan saja dia, tetapi juga kedua orangtuanya.

Saya teringat seorang kawan yang dulu berjilbab, lalu bertemu dengan saya dia melepas jilbabnya. Saya sudah bisa mengira-ira dia bakal melepas jilbab, karena kantor tempatnya bekerja memang tidak memberikan izin kepada karyawan perempuan untuk berjilbab. Kami berbincang lama di sebuah kafe di bilangan Jakarta Selatan. Sampai di tengah perbincangan dia bilang seperti ini,”Mbak, kamu nggak tanya kenapa aku lepas jilbab?” katanya. Saya tertegun, mendengar pertanyaannya. Lalu saya tertawa. ‘Kok malah ketawa mba?”. Bagi saya pertanyaan dia itu lucu, karena saya tidak pernah mengusik urusan orang lain termasuk kenapa dia melepas jilbabnya.

“Itu hak kamu, mau berjilbab atau enggak,” saya hanya menjawab demikian padanya. Dia tersenyum. Lalu bilang lagi,”Makasih mba, tapi jangan bilang teman-teman ya kalau aku lepas jilbab,” kata dia. Saya kembali tertawa dan menimpali,”Kurang kerjaan bilang ke teman-teman kalau kamu lepas jilbab”. Bukan cuma Rina Nose yang kalangan selebriti saja yang resah dan harus menyiapkan mental ketika melepas jilbab. Kawan saya yang hanya pekerja kantoran juga resah dan perlu menyiapkan mental ketika melepas jilbab. Dia tahu konsekuensinya ketika melepas jilbab, akan muncul banyak pertanyaaan,”Apa alasannya?”

Belum lagi banyak orang yang grenengan alias membatin di belakang,”Kok dia lepas jilbab sih?” “Ih, sayang ya, padahal lebih cantik berjilbab lho,” atau komentar lainnya “Pindah agama ya?” dan segudang komentar beragam lainnya yang bikin ingin tutup telinga.

Benar atau salah, tepat atau tidak, bagi saya melepas jilbab adalah hak pribadi seseorang. Termasuk ketika seseorang memutuskan untuk mengubah gaya jilbabnya, itupun hak pribadinya yang tak bisa seorangpun mengusik bahkan menghujatnya.

Saya pun pernah dibikin terkejut oleh seorang kawan yang tiba-tiba melepas jilbab. Bukan karena alasan atau keputusannya, tetapi karena saya pangling. Tiba—tiba seseorang memanggil saya dan kemudian memeluk saya erat. Saya butuh beberapa detik untuk mengenalinya. Dan saya tidak menanyakan alasannya, hanya bilang,”Pangling, gue pikir siapa,” dan dia pun tertawa terbahak.

Ada juga seorang kawan yang semula berjilbab biasa lalu tiba-tiba bercadar. Saya menghakiminya? Atau bertanya alasannya? Sejujurnya ada pertanyaan itu dalam hati dan ingin mencari tahu, tapi niat itu saya urungkan karena bagi saya itu adalah hak dan keyakinannya.

Bagi saya memakai atau melepas jilbab adalah hak seseorang. Alasan pekerjaan, keyakinan, atau apa saja saya tetap menghargai mereka sebagai kawan.   Seperti halnya saya menghargai setiap orang yang memutuskan untuk memakai jilbab dengan gaya apa saja. Saya yakin mereka memutuskan itu semua tidak dengan mudah. Termasuk Rina Nose, yang pada akhirnya mematikan komentar di laman Instagramnya.

Dipublikasi di artis, Uncategorized | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Nyaris tertipu dengan modus transaksi pakai E-Cash

belanja online

foto: istimewa

Saya yakin cerita ini pernah dialami beberapa orang. Minggu (16/4)  siang saya iseng-iseng mengupload dagangan teman adik saya, yaitu matras lipat.  Saya unggah di situs jual beli ternama. Selang tiga puluh menit, ada sebuah pesan masuk melalui WhatsApp dan menanyakan barang jualan yang saya unggah. Tanpa menawar, si pembeli langsung minta  total harga beserta ongkos kirimnya.

Sebagai penjual online dadakan, saya  seneng dong, baru ngiklan 30 menit langsung ada yang minat.  Saya berikan nomor rekening saya, awalnya saya beri rekening BCA, namun dia menolak. Alasannya karena dia menggunakan fasilitas E-Cash dari Bank Mandiri. Kebetulan saya punya rekening Mandiri ya saya berikan.

IMG-20170416-WA0009

foto: barang yang saya  jual di situs jual beli.

Selang 10 menit dia kembali mengirimkan pesan, kalau uang sudah ditransfer. Saya cek lewat internet banking, belum ada transaksi sejumlah nominal belanja orang tersebut.  Saya pun minta bukti transfer darinya. Dia memberikan bukti transfer dan screenshhot cara menggunakan  Mandiri E-Cash.  Perasaan saya sudah nggak enak. Pertama, karena saya baru kali ini bertransaksi menggunakan E-Cash. Kedua, saldo saya nggak bertambah.  Sepemahaman saya, kalau transaksi sesama Mandiri online, kecuali jika transfer antarbank di hari libur, maka baru diproses di hari kerja. Nah, berikut ini screenshoot bukti transfr dari si pelaku.

IMG_20170417_174442

Dia meminta saya ke ATM, untuk mengaktifkan mandiri E-Cash.  Saya makin curiga. Namun, saya coba untuk menuruti permintannya. Anehnya si orang ini meminta saya untuk menghubunginya jika sudah sampai di ATM. “Waduhh modus ini,” batin saya. Tapi, saya coba dan ikuti ‘perintahnya’.  Sesampainya di ATM, saya coba masukkan instruksi yang ada di screenshoot yang dia kirim, tapi di layar ATM ada perintah untuk memasukkan nomor atau kode OTP. Kecurigaan saya makin menjadi karena saya tidak punya nomor ATP.  Nggak lama dia menelpon dan memandu saya.

IMG-20170416-WA0015

Sinyal putus-putus, suara nggak jelas, waktu di ATM pun habis.  Bersamaan dengan itu, satpam Mandiri Jl Kusumanegara, membuka pintu dan langsung bertanya pada saya.”Ibu transaksi menggunakan apa? E-Cash? Itu penipuan Bu,” kata Satpam.  Nah, fiks kecurigaan saya terbukti 75 persen.

Satpam itu bilang, modus itu sering dialami orang yang jual beli online. Biasanya dengan nominal yang tidak begitu besar, di bawah 1 juta rupiah.  Memang iya,  nominal transaksi nggak besar, tapi ya kalau tujuan untuk menipu sih sami mawon. “Biasanya orang itu akan telpon lagi, Bu, dan marah-marah,” kata si satpam. Taraaaa,,,, benar kata Pak Satpam, si penipu ini mengirimkan pesan kepada saya dan menanyakan kenapa telepon mati. Saya bilang, kalau mesin ATM mendadak offline. Dia pun meminta saya untuk mencari ATM lain.

Screenshot_2017-04-17-17-46-12-780_com.whatsapp(1)

Bapak Satpam yang baik hati ini menjelaskan kepada saya, kalau sebagai penerima saya nggak perlu ke ATM, meski si pengirim menggunakan E-Cash. Sedang dijelaskan ke Satpam, si penipu ini menelepon, saya angkat, load speaker dan saya bilang, kalau saya akan dibantu oleh orang Mandiri karena saya belum pernah bertransaksi menggunakan E-Cash. Eitss,,prediksi Bapak Satpam benar, kalau si orang ini akan marah-marah.

“Ngapain pakai orang Mandiri segala?” kata dia, di ujung telepon.

“Iya Pak, saya orang Mandiri,  Bapak akan bertransaksi menggunakan apa? Biar saya bantu,” kata satpam.

 

Krik..krikk dua detik, tiga detik, empat detik. Akhirnya telepon dimatikan. Satpam bilang, kalau dia nggak akan telepon lagi.  Pak Satpam ini memprediksi, karena dia pernah menangani modus macam ini sebelumnya.

Sekali lagi 100 untuk Pak Satpam, karena dia nggak menelpon lagi, tapi kirim WA. Agak berjeda dia kirim WA dan dia menayakan apakah barang bisa dikirim besok.  Saya bilang, barang akan saya kirim jika trasnferan sudah masuk. Saya juga bilang, sebagai penerima saya tidak erlu pergi ke ATM karena otomatis akan terdebet di rekening saya.

Dia protes, bilang kalau saldonya berkurang. Saya jawab pesannya, saya bilang saya akan minta penjelasan ke CS Mandiri mengenai hal ini. Saya juga bilang, jika sudah di CS Mandiri saya akan hubungi dia dan memintanya berbicara langsung dengan CS Mandiri. Daaaaaan dia memblokir nomor saya . Hahahahaha.

Alhamdulillah, saya masih dilindungi. Ternyata ada beberapa teman saya yang juga  nyaris kena jerat si pelaku. Bahkan ada teman yang nyaris digetok Rp 40 juta, untung suaminya waspada curiga dan si penipu diamuk habis-habisan . Bahkan ada juga yang jual beli mobil dan si calon pembeli mengatakan sudah mengirimkan Rp 3 juta sebagai DP.

 

 

Dipublikasi di essaylepas, hot issue | Tag , , , , | 1 Komentar

Nggak usah dibaca ntar nyesel lho…

writing

istimewa

Februari sudah memasuki hari ke 18. Itu artinya tiga minggu sudah saya resmi menyandang ‘pengangguran terselubung’. Terhitung 30 Januari 2017 lalu saya resmi mengundurkan diri dari pekerjaan yang saya cintai. Hanya demi satu alasan, memulai babak kehidupan baru. Selain itu saya harus fokus menyelesaikan study saya yang dalam hitungan hari kemajuannya baru nambah dua halaman. Hehehehe. Ya, daripada saya mentok nulis tesis mending nulis di blog. Itung-itung sudah lama banget ini blog saya anggurin. Seminggu nggak keja, saya ditanya, “Sibuk apa? Nggak bosan di rumah?” Saya jawab,”Saya malah nggak pernah di rumah sejak resign”.

Pekan pertama, saya mulai semedi di lantai dua, lalu berkunjung ke lantai empat FIB UGM. Saking asyiknya semedi saya sampai lupa mempersiapkan apa saja yang mau saya bawa ke Batam. Alhasil banyak banget yang ketinggalan dan kurang, maklum packing dan mencari barang-barang yang saya bawa, cuma dilakukan hanya dalam satu malam saja. Hehehehe.

Wah apa rasanya nggak lagi kerja? Suntuk? Itu yang paling saya takutkan sebetulnya suntuk dan bosan. Apalagi saya punya kecenderungan sakit nggak jelas ketika ritme hidup saya berubah. Saya masih ingat ketika tahun 2008, ketika memutuskan kembali ke Yogyakarta setelah gagal mencari kitab suci di Jawa Timur. Dua minggu pertama saya baik-baik saja. Masih haha-hihi..ketawa-ketiwi. Menginjak minggu ketiga saya tiba-tiba sakit. Iyaa..sakit nggak jelas gitu. Bangun tidur, badan saya panas, kaki dan tangan suah digerakkan. Sekeliling saya seperti berputar. Bahkan bangun subuh dan mengambil air wudlu saja saya harus rambatan dan digandeng ibu saya. Alhamdulillah saya sembuh dalam tiga hari, dengan sakit yang nggak jelas itu. Sembuh aja gitu. Cuma dikasih obat pengurang rasa sakit oleh Pakde Dokter yang kebetulan sahabat ayah saya.

131207bmood

istimewa

Belum cukup badan sakit. Setelah itu, saya sariawan. Bisa bayangkan sariawan satu tempat aja udah nggak enak banget rasanya. Lah ini di bibir iya, di gusi, di lidah kanan kiri, di bagian atas mulut. Rasanya wow banget. Mau makan apa aja salah. Saya cuma mampu menelan cairan panas dalam dan susu ultra saja. Bubur ayam juga deh, tapi dengan daya telan satu sendok persepuluh menit. Sakit yang serba unik tadi berlangsung dua minggu. Sampai akhirnya saya dapat panggilan ke Jakarta untuk ikut tes di Kanalone. Rasanya nano-nano. Kesimpulan sementara ketika itu, saya mengalami streess ringan, efeknya ke badan saya yang meriang dan nggak jelas gitu.

Awal kerja di Ibukota, saya juga sakit yang bisa dibilang,”Kok bisa sih?” wkwkwkw. Pertama nggak sengaja saya kejeglok (nggak nemu padanan bahasa Indonesia yang pas) ketika mengejar narasumber. Awalnya biasa saja dan merasa ‘kuat’. Begitu sampai kantor, kebetulan ada rapat, kaki saya bengkak dan sepatunya nggak muat. Walhasil saya balik dari ke kantor ke kos (waktu itu kantor ada di lantai 31) dengan menyeeret sebelah kaki saya. Dan pulang ke kos jalan kaki. Untung ada teman yang baik hati mengurut kaki saya sehingga rada mendingan.

Lima tahun saya di Ibukota, saya memutuskan kembali ke Yogyakarta. Dengan kondisi psikologis yang betul-betul nggak ingin saya ingat lagi (jadi nggak saya tulis di sini). Hehehe. Pulang ke Yogya dengan status ‘pengagguran’ dan nggak tau mau ngapai saya alami. Setiap hari kerja saya cuma main dan nongkrong nggak jelas sana-sini. Alhamdulillah masa-masa itu terlewati dengan mendapat pekerjaan freelance yang hasilnya nggak seberapa tetapi tetap harus disyukuri nggak minta uang jajan ke orangtua. Meski ibu saya sering tanya,”Kamu masih punya uang?”. Saya menikmati pekerjaan sebagai freelance, karena saya bisa atur waktu sesuka saya. Saya bisa atur kapan saya harus lembur kerja dan kapan saya harus main dan seneng-seneng.

kopi1

istimewa

Agustus 2014 saya resmi menyandang status baru. Mahasiswa pascasarjana. Masa seneng-seneng dan main harus berubah. Seabrek tugas dan bacaan segambreng harus saya lahap tiap hari. Kondisi yanng berubah itu membuat saya sakit. Iyaaa.. sakit lagi. Sakit kali ini batuk nggak berkseudahan, hampir sebulan. Sampai-sampai di kelas saya nggak mau duduk yang terkena ac, karena dijamin saya batuk-batuk. Sakit yang lebih aneh lagi adalah kepala saya pusing, bahkan harus disandarkan setiap pusing itu datang. Mendingan merem sambil nyandar dari pada buka mata dan melihat dunia berputar. Uniknya itu hanya terjadi setiap bada maghrib. Saya harus rela tutup laptop dan nggak lihat monitor karena sakit kepala yang nggak ketulungan itu.

Satu tahun berjalan sebagai mahasiswa ‘esdua’, teori dan tugas sudah mulai berkurang. Alhamdulillah saya mendapat pekerjaan kantoran. Yeaaay. Keisbukan yang tadinya suka-suka, mulai kembali teratur. Ada jamkantor yang harus saya patuhi dan membagi konsentrasi saya dengan satu tugas besar,”tesis”. Hahahaha. Yang sampai detik ini baru nambah tiga halaman. Dua setengah ding. Awal-awal kerja saya mengalamki perubahan hidup yang luar biasa. Saya harus ngantor dan duduk yang dekat dengan AC. Hasilnya, bisa ditebak saya batuk nggak sembuh-sembuh. Dan baru kerja dua minggu saya izin dua hari karena batuk nggak bisa ditolerir lagi.

Semua yang terjadi di atas hanya awal-awal ritme hidup saya berubah kok. Selanjutnya tentu banyak hal menyenangkan dan nggak terlupakan. Kalau ditulis jadi satu di sini bisa bikin paging dan nanti pageview saya nambah banyak hahahaha. Sejatinya kehidupan seseorang memang harus mengalami perubahan. Cerita-cerita unik pembangkit semangat bisa menjadi sebuah kisah nggak terlupakan sepanjang hidup.

pengantin

istimewa

Kalau sekarang bosan nggak? Jawabannya, InsyaAllah nggak bosan. Kehidupan baru saya sekarang ini betul-betul saya nikmati. Mengatur ritme hidup baru, di tempat baru, dan dengan orang-orang baru membuat saya tertantang dan ya ini yang harus dijalani. Banyak yang bertanya,”Nanti setelah pindah ke sana, mau kerja apa?” atau “Rencananya mau ngapain?” adalagi “Udah dapat kerja di sana?”. Saya Cuma menjawab dengann senyuman dan kalimat begini,”Nggak tau nanti, kita lihat saja dulu, sekarang ini yang penting fokus ke satu hal dulu, mau ngapain ya belum terpikirkan”.

Nah, beneran nyeselkan udah dibilang jangan dibaca. Saya curhat nggak penting.. hehehe.  Oh iya kalau ada gambar yang nggak nyambung maafkan ya. Namanya juga asal comot.

Dipublikasi di curcol, essaylepas, urban | Tag , , , , , , , , , , | 2 Komentar

AADC, Cinta, Rangga, dan kenangan masa itu, ah sudahlah!

ada apa dgn cinta - namafilm

 

Bagus atau nggak AADC 2, penontonnya pasti bejubel.

Hampir sepekan belakangan timeline media sosial yang saya punya dipenuhi mereka yang baper AADC. Mulai dari ABG kekinian sampai mereka yang ABG pada zamannya.  Siapa yang tak baper oleh film fenomenal ini. Bagus atau jelek film besutan Riri Riza ini dijamin laris manis tanjung kimpul.  Kalau saya ikutan baper nggak? Agak sih…karena teringat perjuangan nonton AADC zaman ABG dulu #eaaaaa.

Nggak terasa 14 tahun berlalu. Banyak yang memorinya tergugah akan film ini.  Apalagi ketika film ini tayang 14 tahun lalu di Jogja Cuma punya satu bioskop. Iya satu bioskop dengan satu studio (kalau nggak salah, saya lupa). Saya ingat benar, di bioskop Mataram, ketika itu masih model bioskop jadul, jangankan model blitz atau cinemaxx, model 21 saja masih jauh. Tiketnya saja masih sobekan model karcis parkir.

Euforia AADC 14 tahun silam masih terbayang sampai sekarang. Bahkan saya dan teman-teman SMA kala itu rela antre desak-desakan di bioskop yang terletak tepat di kaki sebelah selatan flyover Lempuyangan itu. Nggak tanggung—tanggung, antre tiket pagi, baru dapat untuk jam penayangan sore hari. Huhuhu. Hidup memang penuh perjuangan ya bro. Bahkaan,,, ketika itu calo betebaran menawarkan tiket AADC. Saking ramainya ada insiden kaca pecah dan banyak orang yang pingsan karena kelamaan antre.

Nggak heran ketika itu  selama menunggu nonton rela keleleran di pinggir gedung bioskop. Bahkan ada pula yang menggelar bekal dan makan dengan cueknya. Luar biasa memang, pengorbanan demi menonton akting Mba Dian, dan Mas Nicho yang kala itu masih pendatang baru. Kalau ingat bagian ini bikin senyum-senyum sendiri dan mikir,”Kok dulu mau-maunya ya”. Teman nonton saya kala itu, bilang,”Nggak apa-apa itu namanya proses”. Iya..sekaligus bukti kalau kita pernah alay. heheheh

AADC memang magnet bagi kaum muda kala itu. Segala tren yang ada di AADC, lalu diambil dan dipakai oleh remaja kala itu. Misal dandanan ala Cinta yang pakai bandana batik, padahalbiasanya itu dipakai untuk slayer muka penutup debu. Kaus kaki tinggi ala pemain sepakbola yang dipakai Cinta dan kawan-kawan, rok pendek selutut, dan baju seragam kekecilan jadi tren di kalangan pelajar kala itu. Nggak cuma itu. Buku curhat, bikin mading, dan gandrung buku AKU karya Sjumandjaja juga jadi tren. Saya? Termasuk yang bikin buku curhat bareng teman-teman satu geng dan ikut berburu buku AKU di shopping center (sekarang Taman Pintar).

images (1)

“Ada AKU-nya Sjumandjaja?” tanya saya pada bakul buku bekas di Shopping ketika itu. Lalu merasa jadi Dian Sastro.  Hahaha.. Dapat? Iyaa dapat, meski fotokopian. Rupanya gandrung buku AKU itu dilihat sebagai peluang bisnis bagi bakul buku. Mereka lalu memproduksi buku ‘bajakan’ dan menjualnya dengan harga dua kali lipat.

Mereka yang ter-AADC iya-iya aja dan pasti mau beli. Termasuk saya. Hahahaha. Yah..yah, 14 tahun berlalu kenangan masa SMA itu emang bikin senyum-senyum sendiri kok. Dan Siang tadi, saya berniat nonton AADC. Mumpung libur dan mumpung sempat.  Sebelum nonton saya browsing lebih dulu, kira-kira bioskop mana yang strategis.

Sekarang kan pilihannya banyak dan ada juga yang pakai M-Tix, jadi pastilah dapat. Kemungkinan nggak dapatnya itu kecil. Saya diskusi dengan teman sebelum nonton. Daaaan…prediksi saya keliru. Dua bioskop yang saya datangi penuh.  Lihat parkirannya yang bejubel saja sudah bikin malas. Akhirnya saya dan teman terdampar di bioskop baru di Jogja. Udah pede antre, ternyata AADC habis dan tersisa jam 9 dan 10 malam. Dari pada nunggu sampai jam 9 malam, mending saya nonton aktingnya Mas Chris Evans.

Lebih mengejutkan lagi, penontonnya kebanyakan adalah abege-abege berseragam SMP dan SMA. Kalau dihitung-hitung waktu AADC pertama tayang mereka baru lahir.  Hihihi. Padahal ekspektasi saya,  penonton AADC adalah mereka yang pernah remaja 14 tahun silam. Salah duga lagi saya.

Saya penasaran juga, kira -kira setelah nonton AADC 2 ini seperti apa ya reaksi penonton kekinian? Kalau yang seumuran Cinta dan Rangga bisa jadi bikin reuni. Kalau yang pernah tinggal di Jogja bisa jadi kangen Jogja dan pengen main ke Jogja, terus datengin deh spot-spot syuting film itu. Kira-kira ada nggak ya, yang dandan mirip Dian Sastro di film itu. Atau buku puisi Aan Masnyur jadi buruan nggak ya, sama seperti buku AKU? Atau cuma ya udahlah..

Kalau menurut kamu?

 

 

Dipublikasi di essaylepas, hot issue | Tag , , , , , , , | 1 Komentar

Kartini Muda dari ‘Negara mblusuk’ Indonesia

Saya mengenalnya 10 tahun silam. Ketika itu dia masih perempuan muda yang masih lugu, setidaknya menurut penglihatan saya. Sepeda roda dua berkeranjang setia menemaninya menyusuri Kota Yogyakarta. Bicaranya sedikit tak banyak, saya pernah menduga dia tak bertahan lama di padepokan tempat kami belajar bersama. Tapi saya salah duga,  dia tangguh. Bahkan lebih tangguh dari yang saya duga.

Kendati saya mengenalnya 10 tahun silam, tapi saya baru tahu siapa dia dari dekat tiga tahun terakhir. Dari situlah saya tahu dia tangguh, tak salah saya sematkan padanya Kartini Muda. Sekitar Oktober 2014 dia pamit pada saya untuk pergi ke pedalaman Jambi untuk mengajar anak-anak rimba di sana.  Sebagai teman runtang-runtungnya setelah saya memutuskan untuk meninggalkan ibukota, jujur saya kehilangan. Tapi saya percaya pilihannya ini tak salah.

Ya, namanya Tri Astuti. Kami biasa memanggil dia Tuti. Teman sebayanya menjuluki dia gadis yang beruntung. Barangkali sewaktu kecil, dia adalah orang yang pernah mendapat huruf N di bungkus permen karet YOSAN.

Di pedalaman Jambi itulah dia mengajar anak-anak rimba. Dalam sebulan, tiga minggu dia habiskan di dalam rimba sementara sepekan sisanya dia kembali ke Bangko, kota terdekat dari rimba untuk menyusun laporan, mengambil logistik, dan lain-lain. Bukan perkara mudah bagi Tuti untuk memutuskan pergi ke pedalaman dan mengabdi di sana. Apalagi segalanya serba terbatas dan fasilitas yang ada tentu tak selengkap di kota besar. Setahun di Jambi, Tuti memilih tak meneruskan kontraknya. Bukan karena jenuh, tapi karena panggilan orangtua lah yang membuat Tuti harus meninggalkan rimba. Saya tahu berat untuk dia meninggalkan rimba, apalagi hutan dan anak-anak itu banyak memberinya pelajaran.

Screenshot_2016-04-19-06-51-46_1

Tak sampai enam bulan Tuti pulang, dia kembali mengepack barang-barangnya. Kali ini tak sampai ke pedalaman Jambi. Dia meneruskan pengabdiannya di dusun Sumber Candik, tepatnya di lereng gunung Argopuro di Jember, Jawa Timur.  Lagi-lagi dia mengajar mereka yang tak tersentuh pendidikan formal.

Tuti bukan satu-satunya. Saya tahu ada banyak perempuan muda yang memutuskan untuk mengabdi di pedalaman Indonesia. Bukan untuk jalan-jalan, selfie, lalu upload di media sosial. Bukan, bukan untuk eksistensi diri tapi benar-benar untuk mengabdi dan mengajar mereka yang membutuhkan dan tak terjangkau oleh pendidikan formal yang digadang-gadang pemerintah.

Bukan perkara mengajar di pedalaman dan tidak semua berani ambil keputusan seperti itu. Saya ingat cerita Tuti bagaimana dia harus menaklukan rimba dan menghafal jalanan yang hampir sama. Tak cuma itu dia juga harus berjuang menaklukan anak-anak rimba dan beradaptasi dengan mereka yang pernah menyebutnya ‘betina’. Sampai harus tega makan daging hewan yang sama sekali tak pernah terbayangkan bakal dia makan.

Saya yakin di dalam diri mereka bukan hal mudah untuk memutuskan mblusuk ke pedalaman Indonesia. Apalagi zaman sekarang, ketika banyak orang memimpikan kerja di kota besar dengan fasilitas yang memadai, ruang ac, pakaian rapi, dan wangi. Mereka justru memilih sebaliknya, tinggal di pedalaman dan tentu saja beragam risiko yang harus  mereka tanggung. Tak semua orang berani ambil risiko dan pilihan seperti ini. Bayangkan saja kita-kita yang tinggal di kota, sinyal hilang sedikit sudah menggerutu bahkan ketika lampu padam pun, memilih untuk memaki PLN. Hehehehe.

Tak hanya itu, kesehatan mereka pun jadi taruhannya. Rentan penyakit padahal pelayanan kesehatan yang tersedia belum tentu memadai. Makanan alakadarnya, membuat mereka harus belajar bersahabat dengan alam.  Jauh dari sinyal, harus menanti waktu untuk bisa berkomunikasi dengan keluarga dan orang-orang tercinta. Tuti adalah salah satu contoh, saya yakin dan percaya masih banyak perempuan-perempuan muda yang rela mblusuk tak sekadar untuk foto dan diunggah ke media sosial. Inilah potret Kartini masa kini, yang punya kontribusi besar membangun negeri ini.

*tulisan ini juga dimuat di laman bersatoe.com, untuk memeriahkan Hari Kartini 2016.

Dipublikasi di essaylepas, hot issue, urban | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar