Apa Rasanya 62 Jam Tanpa Air Mengalir di Rumah

air 1

Kali ini saya mau bercerita tentang apa rasanya tanpa air mengalir di rumah selama 62 jam. Jadi begini, ini cerita saya sebagai perantau baru. Cerita ini berawal hari Kamis (15/11) kemarin.  Sekitar pukul 08.00, saya ke kamar mandi dan menyalakan keran. Saya punya kebiasaan cek keran setiap ke kamar mandi, meski itu hanya cuci tangan atau kaki. Maklum di wilayah kami sering sekali mati air. Dan jeeng..jeng… bener, pagi itu air mengalir kecil sekali. Saya tetap hidupkan keran, meski air di ember penuh. Dan benar saja, nggak lama tidak lagi terdengar suara air mengalir dari keran.

Dua jam berselang, tak ada tanda-tanda air mengalir (lagi). Kemudian saya menghubungi CS ATB (perusahaan air di Batam), CS bilang bahwa debit air di perumahan tempat tinggal saya sedang tidak normal karena masih ada beberapa rumah yang mengalir. Saya diminta menunggu, baeeeklaah saya mah udah biasa nunggu. Dua jam berselang nggak ada tanda-tanda juga. Saya coba hubungi lagi, daaan ternyata ada pipa atb segede gaban kena garuk alat berat. Ini bukan pertama kali terjadi, mulai dari pipa kecil sampai pipa yang muat untuk saya ngumpet.

Lalu, beredarlah informasi di media sosial dan juga pesan pendek, bahwa perbaikan sedang dilakukan dan akan selesai pada pukul 24.00. Saya masih merasa ‘tenang’ karena masih punya persediaan air satu ember gede (lebih tepatnya mencoba tenang, karena kalau marah juga nggak simsalabim air ngalir). Ternyata kenyataan tak semanis harapan, estimasi pekerjaan perbaikan selesai jam 24.00 mundur jadi jam 05.00 (hari Jumat) dan mundur lagi jam 15.00 atau pukul 17.00. Ternyata masih kena PHP dan estimasi pekerjaan selesai baru pukul 23.00.

Legaaaa banget waktu ada informasi kalau pekerjaan sudah selesai. Air diperkirakan nyala jam 01.00 baeeklaaah. Saya gak tidur, buka lapak di depan tv nunggu babi ngepet eh nunggu air nyala sambil jaga lilin.  Tapi ternyata belum nyala juga. Daan ternyata untuk pemulihan air itu butuh waktu hampir 24 jam. Lelaah hayati…

Nah, lalu apa rasanya 62 jam tanpa air mengalir di rumah?

Jumat pagi mulai panik.  Untuk antisipasi, suami berinisiatif beli galon, iyaa beli galon bukan isi ulang. Horaang kayaaah. Nggak apa-apa deh, mau gimana lagi. Nggak punya pilihan, karena depot air langganan pun sudah kehabisan stok air. Jumat seharian itu saya pakai air super irit, selesai buang air kecil,kamar mandi langsung saya semprot pakai campuran air dan karbol yang kebetulan selalu ready.

Suami pun saya wanti-wanti ketika mandi pagi,”Boleh mandi tapi nggak boleh lebih dari empat gayung atau setengah ember.” Hehehehehe (sadiiss). Sore hari saya ada kondangan, tapi air belum juga mengalir. Mandi bebek dengan empat gayung pun saya jabanin.

Jumat malam, saya sudah mulai risih, panggilan alam pun tak dapat dibendung. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke masjid yang memang agak jauh dari rumah, dan pastinya tidak di wilayah terdampak mati air. Saya bawa handuk kecil dan sabun..hihihi siapa tahu bisa numpang mandi.  Alhamdulillah badan bisa kena air rada banyak dan lebih segar.

Sampai di rumah, berharap air sudah mengalir ternyata sama juga belum ada air setetes pun sodara-sodara. Saya cek media sosial, beredar informasi kalau pekerjaan perbaikan pipa bocor segede gaban itu sudah selesai kali ini nggak PHP. Alhamdulillaaah saya lega banget dan tentu saja berharap air mengalir dini hari atau subuh. Tetapi sama juga, kami kena PHP lagi cyiin…harapan tinggal harapan, sampai menjelang adzan subuh tak setetespun. Saya yang tertidur di depan tv dibangunkan oleh suami dan mengajak (lagi) ke masjid yang semalam kami sambangi. Tanpa cuci muka (mau cuci muka pakai apa juga) , cuss kami menembus hawa dingin pagi menuju masjid. Alhamdulilah, badan kena air sedikit (meski nggak mandi) yang penting bersih-bersih.

air 33

Pantau grup WA emak-emak kompleks, ada yang bilang kalau air di rumahnya sudah mengalir. Dengan tingkat optimis yang tinggi, saya pun pulang dan membatalkan niat ke pasar dan setia menunggu air datang. Dan lagi-lagi kecewa, karena air tak setetespun mengalir sampai jam 10.00 di hari Sabtu. Pagi hari sempat hujan deras, saya buru-biri mengeluarkan ember untuk menampung air hujan. Lumayan lah, bisa untuk cuci kaki. Saya coba hubungi CS ATB, mereka kembali meminta maaf dan meminta saya bersabar karena air dalam tahap normalisasi. Tenang stok sabar saya masih banyaaaaak.

Iya sih saya paham, di waktu yang bersamaan orang buka keran perjalanan air mampir-mampir dulu di keran yang telah terbuka ini dan mengisi bak dan juga tandon yang kosong. Kalau Cuma satu-dua rumah tidak masalah, tapi ini ada puluhan mungkin juga ratusan rumah. Hikss…

Kami memutuskan untuk pergi ke masjid (lagi)  tapi ini bukan yang semalam atau sabtu subuh. Kami pun numpang mandi (lagi) di masjid hihihihi. Menjelang sore, pulang ke rumah berharap sudah mengalir, lagi-lagi  kami kena PHP,  air belum juga menyalaaa. Sampai akhirnya ada tetangga baik hati yang menawarkan air, kebetulan di rumahnya sudah mengalir lancar. Alhamdulillah, ada banyak orang baik di sekeliling kami.

Air baru mengalir jam 10 malam, ketika kamu sudah pergi (lagi) untuk menghilangkan bete air tak kunjung mengalir. “Daripada suntuk ayo jalan-jalan.” kata suami saya. Begitu menyala saya nyalakan keran depan (nampung air di galon) dan keran kamar mandi. Intinya semua tampungan di depan dan belakang langsung diisi semua. Drama queen air mati selesai sudah setelah genap 62 jam air tidak mengalir di rumah.

Siapa saja yang mengalami ini punya banyak cerita. Mulai yang pasrah dan milih tidur, sampai rela ambil air di daerah yang jauh. Hihhi. Selalu ada hikmah dari setiap peristiwa. Jadi, hadapi ini dengan senyuman aja. Asal nggak lupa pastikan semua tampungan penuh selama air mengalir. Kedua, pastikan air galon terisi terus, jangan biarkan kosong. Untuk jaga-jaga, ketimbang beli galon (lagi) mahaaal cyiiiiiinn. Ketiga jangan malas-malasan cuci piring kalau nggak pengen cucian numpuk ketika mati air.  Tentu saja, jangan lupa guyon dengan teman senasib sepenanggungan biar nggak merana.

Saya jadi merenung, apa kabar ya, mereka yang nyaris tanpa air bersih di belahan bumi manapun. Jadi harus lebih banyak bersyukur dan tak mudah buang-buang air bersih, karena setiap tetesnya sangat berharga.

Iklan
Dipublikasi di curcol, essaylepas, Uncategorized | Tag , , , , , | 17 Komentar

Tips Keuangan Untuk Pekerja Pemula Ibu Kota ala Saya

kafe

istimewa

Beberapa waktu lalu tagar #crazyrichsurabayan menjadi viral di media sosial. Usut punya usut ternyata tagar tersebut bermula dari film Crazy Rich Asian yang sedang tayang di bioskop.Cukup menggelitik dan bikin ngakak sih, penggalan cuitan di Twiiter terkait #crazyrichsurabayan. Seolah tak mau kalah muncullah cuitan tandingan dengan tagar #crazypoorasian. Hihi. Nggak lalah lucu dengan tagar sebelumnya, bikin ngakak dan ada-ada saja.

Saya pun pernah mengalami sebagai #crazypoorasian. Sebagai pekerja pemula, dulu sekitar tahun 2008 dengan gaji minimal dan pekerjaan yang menghabiskan waktu di jalan, membuat saya harus pintar-pintar putar otak. Agar tetap bisa bertahan tanpa harus ngutang atau minta transferan orangtua.

Setiap orang punya pengalaman yang berbeda ya. Tulisan ini adalah bagian dari pengalaman saya hidup irit ala pekerja pemula di ibu kota dengan gaji minimal.

Lalu apa saja yang pernah saya lakukan agar tetap bertahan dengan gaji pas-pasan kala itu? Berikut ini tips singkat untuk pekerja pemula agar tetap bisa hidup kendati gaji minim.

1.Setia gunakan angkutan umum

Jika tidak ada kendaraan pribadi maka alternatifnya adalah kendaraan umum. Nah, sebisa mungkin sering-seringlah naik angkutan umum ketimbang ojek apalagi taksi. Beruntung sekarang ada ojek online, tetapi sepertinya naik angkutan umum tetap lebih murah.

2. Sedia lauk kering dan masak sendiri

Salah satu siasat tetap hidup hemat adalah masak sendiri. Meski hanya masak nasi saja. Dulu saya selalu dibekali lauk kering seperti kering tempe dan abon oleh ibu saya. Lalu, saya membeli ricecooker mini untuk modal hidup hemat. Beli beras pun tak langsung banyak. Cukup seliter (kalau di Jakarta) atau perkilo saja. Ini akan lebih hemat dan ekonomis. Bayangkan saja, kalau beli lima kilo sekaligus dan terlalu lama digunakan bisa-bisa beras kutuan, apek, dan akhirnya tidak dipakai.

Sekali waktu bisa juga masak sendiri. Saya selalu cari kos yang ada dapur dan bisa masak. Meski memasak hanya satu-dua kali setiap minggu. Beli lauk matang di warteg bisa lebih hemat, karena satu porsi bisa dua kali makan. Atau sharing dengan teman kos.

IMG_20170119_185036_HDR (1)

3. Kurangi jajan

Saya pernah mencatat pengeluaran bulanan. Ternyata paling banyak pengeluaran adalah jajan. Jadi, saya coba kurangi jajan (bukan nggak jajan sama sekali ya) misal membeli makanan atau camilan dua atau tiga hari sekali. Dan jangan lapar mata. Duh ini yang berat. Hahahaha.

4. Sisihkan gaji di awal

Begitu terima gaji sisihkan paling tidak 5-10 persen dan masukkan ke rekening berbeda. Ini berfungsi sebagai tabungan sekaligus dana cadangan. Namun, sebaiknya jangan diganggu gugat jika tidak benar-benar darurat. Ini belum termasuk investasi jangka panjang ya. Hehehe.

5. Prioritaskan kebutuhan pokok

Jika kamu hidup merantau pasti tahu, apa saja kebutuhan pokok yang wajib dibayarkan. Misal uang kos, zakat/sedekah. Nah prioritaskan dua hal ini. Setelah itu baru bikin skala prioritas dan rencana anggaran di bulan tersebut. Memang kedisiplinan diperlukan untuk menghindari utang dan minta transferan orangtua. Malu euy, sudah kerja masih minta transferan.

Jika kamu pekerja pemula ibu kota, apa siasatmu?

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | 12 Komentar

Ini Cara Biar Rekeningmu Gendut di Tanggal Tua

celengan-babi

Saya pernah menjadi pekerja yang mendapatkan gaji tiap bulannya. Sejak tidak lagi mengajukan anggaran ke orang tua, saya berusaha untuk menyiasati pengeluaran setiap bulan agar tidak defisit. Tidak sampai utang ke orang lain. Meski sering di akhir bulan itu pas-pasan, artinya tidak ada sisa alias saldo minimal di rekening. Hikss syediiih.

Ketika bekerja di Jakarta, saya lebih banyak hidup di jalan, ketimbang merasakan kursi dan dinginnya AC kantor. Bahkan saking jarangnya ngantor saya sampai nggak tahu teman kantor selain satu desk atau bagian  dengan saya. Pernah suatu ketika duduk sebelahan dengan mbak-mbak yang ternyata dia sudah bekerja lama di kantor saya. Sedangkan saya enggak kenal blas. Hahahaha.

Nah, soal gaji nih seringkali pekerja milenial sekarang ini merasa kurang meskipun gaji lebih dari cukup. Saya bukan orang yang pinter-pinter amat menyisihkan uang, mencoba beberapa kali mengatur keuangan ala financial planner. Hasilnya? Berhasil sih, tapi beberapa bulan saja. Hahahaha. Eitss nggak masalah, saya akan berusaha terus untuk mengatur keuangan. Apalagi sekarang ini kebutuhan hidup dan harga makin mahal.

Nah, berikut ini cara yang pernah saya lakukan untuk menyiasati gaji biar cukup dan nggak utang

1. Bayarkan dulu yang jadi kewajiban

Jika kamu anak kos atau kontrak rumah, tentu hal pertama yang harus dipenuhi adalah biaya sewa tempat tinggal. Atau jika kamu sudah mengajukan kredit rumah pastikanperioritaskan utang dulu. Kalau bayar kosnya tahunan bagaimana? Bayar kos tahunan atau pertiga bulan,bukan berarti kamu tidak menyisihkan biaya setiap gajiankan? Kendati hitungannya lebih murah, kamu tetap harus menyisihkan uang untuk kos atau sewa rumah. Nggak perlu full, bisa separuh atau sepertiganya sehingga tidak berat ketika harus mengeluarkan biaya tahunan dalam jumlah besar.

2. Jauhi kartu kredit

Bukan cuma kredit KPR yang mencekik. Kartu kredit yang dibilang untuk memudahkan justru bisa mempersulit kamu. Apalagi sekarang banyak tawaran kartu kredit dengan berbagai iming-iming. Saran saya abaikan saja kalau memang belum mampu berutang.

3. Tabungan atau investasi?

Nah, ini yang seringkali bingung. Dulu waktu kecil kita didoktrin menabung untuk masa depan. Ya kali, waktu itu belum ada mbanking, marketplace, dan segala macam surga  belanja online. Prinsipnya mungkin diubah, menabung untuk belanja dan piknik, investasi untuk masa depan.  Jadi menabung itu untuk keperluan jangka pendek dan investasi untuk jangka panjang. Hahaha. Saya sih berprinsip seperti itu. Oh iya, menyishkan uang untuk tabungan atau investasi sebisa mungkin jangan uang sisa di bulan ini akan tetapi targetlah berapa persen dari total pendapatan itu untuk tabungan.

IMG_20170119_185036_HDR (1)

4. Jangan banyak gaya naik taksi atau ojek

Ketika saya masih bekerja di Jakarta, seringkali merasa malas naikangkutan umum. Alasannya capek. Hahaha. Suatu ketika saya mencoba untuk tidak naik ojek ataupun taksi ketika berangkat dan pulang kerja. Ohiya waktu itu belum ada ojek online ya. Nah, sebisa mungkin kurang-kurangi deh itu pengeluaran untuk transportasi seperti ojek dan taksi. Itung-itung mengurangi kemacetan. Yekaaan? Insya Allah nanti ada rejeki untuk sopir taksi dan sopir ojek yang budiman.

Hasilnya? saya bisa menyisakan uang seperempat gaji dalam sebulan, di luar tabungan, dan aneka tagihan. Itu sudah termasuk biaya hedon (alias makan enak).

5. Uninstall marketplace

Memang bukan salah marketplace, tapi salah jari yang mencet logo marketplace #eh. Salah satu cara agar  kita tidak boros adalah tidak membuka marketplace.(Kitaaa? Lo aja kali Diiitt ngak usah ajak2) kwkwkwkwk. Apalagi sekarang banyak godaan diskon barang yang harganya terjun bebas, free ongkos kirim, dan lain-lain. Nah, biar jari nggak khilaf uninstall deh itu marketplace.Intinya sih, mau ada atau tidak marketplace sebisa mungkin  belajar menahan diri dari godaan belanja implusif.

 

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

Si Doel, Kisah Sederhana yang Tak Lekang Waktu

IMG_20180806_145553

 

Aseli ini bukan spoiler

Saya termasuk orang yang gembira ketika Si Doel naik ke layar lebar. Menurut saya sejauh ini cuma Si Doel, sinteron yang tak pernah bosan ditonton kendati sudah berulang kali diputar. Bagi saya guyonan dan celetukan khas pemainnya itu natural dan nggak terlalu dibuat-buat. Semua pemain punya karakter kuat. Cerita yang nggak melulu soal harta dan jabatan, kendati bagi Babe Sabeni kerja kantoran adalah harga mati untuk ukuran sukses.

Sederhana. Itu adalah komentar pertama saya usai nonton Si Doel kemarin. Suami saya pun berujar,”Udah segini aja? Simple banget ceritanya”. Hahaha si abang kebanyakan nonton film action sih. Film ini sederhana, di luar bayangan saya. Bayangan saya, khas film Indonesia yang seringkali menye-menye apalagi diangkat dari sinetron.

Tapi ternyata kekhawatiran saya tak terbukti. Sederhana sekali film ini, sesederhana sinetronnya. Meski ada banyak pertanyaan terkait benang merah antara sinetron terakhirnya dan sekarang. Ah tapi sudahlah saya tak mau ambil pusing. Pastinya, sinetron ini menghadirkan nostalgia. Film yang mungkin dianggap receh oleh sebagian orang.”Hah…nonton Si Doel? Hahahahaha,” kata seorang kawan begitu tahu saya nonton Si Doel. “Segitu recehkah? Lalu, kamu yang hobi nonton film Hollywood atau drama Korea lebih berkelas gitu?”

Screenshot_2018-08-06-16-57-29-186_com.google.android.youtube

Sebagian besar orang Indonesia mungkin sudah tak lagi percaya dengan film karya bangsa sendiri. Pun saya. Apalagi ketika tahu siapa sutradara dan pemainnya. Pasti ini bakal menjadi bahasan panjang. Seperti Iqbal Ramadhan yang memerankan Minke. Bagi sebagian orang penggemar Dilan dan Iqbal dan tidak tahu siapa Minke, itu nggak masalah. Tetapi buat sebagian pecinta Pram, tentu ini sebuah kesalahan. Tak urung sumpah serapah dan bully-an terhadap Iqbal terus mengalir. Meski kita belum tahu sesukses apa Iqbal memerankan Minke.

Si Doel dalam layar lebar, adalah kisah sederhana, minim dialog, tetapi ada banyak adegan yang mengena. Doel kecil contohnya dialognya tak lebih dari 10 kalimat. Padahal bayangan saya, dia bakal menanyakan kenapa baru sekarang ayahnya datang? Atau ada drama ala sinetron,”Ngapain orang ini di sini Mama. Dia bukan Papaku!” (jreng jreeng diucapkan dengan bibir bergetar). Percayalah tak ada adegan seperti ini.

Screenshot_2018-08-06-16-56-31-712_com.google.android.youtube

Atau adegan ketika Sarah bertemu Doel di sebuah museum. Pertemuan suami istri setelah 14 tahun, hampir sama kayak Rangga dan Cinta. Bedanya, kalau Rangga dan Cinta menghabiskan waktu berdua semalam suntuk keliling dari Prawirotaman, Sate Klathak, ngopi di Klinik Kopi, nonton PaperMoon, liat sunrise di Gereja Ayam Magelang, sampai balik lagi ke villa Cinta, dkk.

Pertemuan Doel dan Sarah hanya sederhana. Tanya kabar, tak ada adegan Doel balik arah untuk gantian meninggalkan Sarah. Saya sangka semula akan ada adegan kejar-kejaran antara Sarah dan Doel. Tapi ternyata itu cuma imajinasi saya. Hahahaha. Mereka hanya duduk berdua, minum, saling bertukar cerita seperti melepas kangen. Saling meminta maaf, nggak ada kata-kata,”Tega kamu Doel nggak nyariin saya”. Percaya deh dialog ini cuma ilusi. Sementara Mandra? dia terperangah melihat Sarah.

Kemudian mereka bertemu lagi di rumah Sarah untuk makan sayur asem. Konon sayur asem dan ikan asin adalah sayur andalan Maknyak kalau Sarah datang ke rumah Doel. (dan saya jadi pengen masak sayur asem dan ikan goreng, oke besok ke pasar beli ikan). Momen itulah yang mempertemukan dua Doel. Doel besar dan Doel kecil.

Screenshot_2018-08-06-16-57-41-497_com.google.android.youtube

Pertemuan yang tak diduga, dan ya tak ada reaksi apapun dari Doel besar.  Ada sedikit perubahan sikap. Kalau dulu Doel gampang tersinggung, sekarang dia tak banyak bicara ketika anaknya bersikap jutek. Hahaha. Dia juga nggak memilih pergi tetapi tinggal di rumah Sarah. Beda kalau dulu, kalau dia diejek Roy- penggemar sejati Sarah- dia langsung tersinggung dan pergi begitu saja. Tapi Doel bertahan. Entah apa yang dia harapkan.

Endingnya pun bikin komentar,”Oh gini aja?” Hahaha. Kendati sederhana, yakin deh film ini langsung ke jantung pertahanan sodara-sodara. Tenang netizen yang budiman. Anda boleh mencaci, tapi film ini layak diapresiasi karena cerita yang simple itu tadi.

Sekian dan terimakasih.

Dipublikasi di artis, essaylepas, Uncategorized | Tag , , , | Meninggalkan komentar

‘Me time’ aktivitas penting nggak penting, yang bisa kamu lakukan

Tiba-tiba saja saya kepikiran tentang ‘me time’. Kamu pasti sering dengar istilah ‘me time’ atau mungkin kamu sering menggunakannya? Menurut definisi saya atau ini sudah umum ya,’me time’ adalah waktu yang digunakan ketika kita menyenangkan diri sendiri. Setiap orang punya cara yang berbeda untuk ‘me time’.  Ada yang pergi ke salon, baca buku, atau nonton drama Korea sampai mata bengkak.

‘Me time’ pasti berharga banget untuk siapa saja yang sok sibuk. Kalau saya sih, sepanjang waktu adalah ‘me time’. Hahaha. Yaiyalah, semua saya lakukan untuk menyenangkan diri saya. Capek garap kerjaan tiduran, bosen ngetik ya dengerin musik. Pokoknya nikmati waktu yang adalah. Giliran udah sore baru deh gedubrakan masak. (sedikit curcol).

Ada juga yang jarang punya ‘me time’.”Hampir nggak bisa ‘me time’, digelendotin anak codot,” kata teman saya. “Berarti lo emak codot dong?” tanya saya balik. Dia ngakak. Hahaha. YA begitulah ada orang bisa ‘me time’ seharian, ada juga yang cuma bisa mandi dengan tenang dan bisa keramas saja jadi ‘me time’ yang berkualitas.

Nah, iseng-iseng saya tanya lewat status WhatsApp begini,”Apa yang kamu lakukan ketika ‘me time’? “ Berikut ini jawabannya:

1. Tidur lama

IMG-20180801-WA0013 (1)

pic: @audiarama

Ternyata banyak yang menjadikan tidur sebagai ‘me time’ yang berharga. Apalagi setelah seharian kerja keras bagai quda atau ngurusin bocah satu balita penuh aksi dan satu lagi bayi yang ditinggal geser satu centi, nangisnya bikin geger satu kompleks. Ada juga yang tiduran sembari guling-guling ala Shin-Chan atau istilah Jawanya glundang gludung koyok semongko (guling-guling kayak semangka).

2. Jalan-jalan

mall

istimewa

Saya juga sih, pernah melakukan hal ini. Jalan-jalan aja, lihat-lihat barang lucu, cuci mata. Beli atau enggak urusan nanti. Kalau sedang  defisit anggaran belanja ya udah lihat-lihat saja sudah cukup. Kalau ada duit ya udah beli aja, ketimbang mimpi .. hahaha.

 3. Makan apa yang disuka

IMG_20180701_203227

@armaditafikriani

Kadang kita bosan dengan masakan sendiri. Saya pun juga. Lalu, kita keluar rumah dan jajan apa yang kita suka. Meski itu cuma es krim di McD. Dulu saya sering ‘me time’ dengan makan sendiri.  Misal pengen mie ayam, mau ajak teman kok repot, belum tentu dia bisa ketimbang kuciwa ya udah akhirnya jalan sendiri . PD? Banget.. nggak apalah kan makannya bayar enggak minta. Hahaha.

4. Baca buku

IMG_20180801_123943 (3)

@armaditafikriani

Wuiiih. Ini saya banget. Duluuuu. Hahaha. Sesekali saya masih suka menyisihkan waktu untuk membaca, mendengarkan musik, dan nyeruput kopi. Dulu ini pernah saya lakukan waktu masih jadi anak kos. Ketika libur, saya usahakan nggak mbangkong alias bangun siang. Setelah selesai fitness (baca: cuci dan jemur baju) saya pergi ke warung burjo pesen roti bakar, beli kopi saset, beli koran (lihat-lihat siapa tahu ada lowongan kerja menarik), lalu ngopi di kos sambi sarapan roti bakar. Selesai baca koran, lalu baca buku yang dibeli kira-kira beberapa bulan sebelumnya. Hoiyaa..sambi dengerin radio juga.

5. Perawatan di salon atau pijat

salon

istimewa

Sepertinya ini dilakukan hanya ketika habis gajian. Saya pun begitu. Nggak rutin tiap bulan, bisa dua atau tiga bulan sekali pergi ke salon untuk ‘me time’. Ngapain aja? Karena terhitung jarang saya biasanya sekalian tuh satu badan mulai hair spa sampe refleksi kaki. Berharap keluar salon mirip Dian Sastro. Hahaha.

6. Nongkrong di kafe sendirian

kafe

istimewa

“Sambi mengamati kabar dari internet (asline moco gosip artesss),” kata teman saya yang juga dosen. Etapii jangan salah, ini juga pernah saya lakukan. Berkedok bekerja sambi ngopi dan wifi-an realitanya saya buka berita artis. Hahaha. Ya nggak apalah, biar seimbang otak kiri dan kanan, nggak cuma dipakai bekerja saja. à(bisa ajaa cari pembenaran)

7. Nonton film atau drama

drakor

istimewa

Nah, ini dia yang banyak dilakukan. Nonton film atau drama. Apalagi penggemar berat K-Drama. Wow, pasti dibelain ‘me time’ setiap hari hanya untuk nonton drama Korea.”Sekarang saya tahu rasanya ketika buka laptop, tapi malah nontok drama Korea,”. Drama Korea ternyata berhasil mengalihkan duniaku.

Lalu, seberapa penting ‘me time’? Cuma kamu sendiri yang punya jawabannya.

Dipublikasi di essaylepas, Uncategorized | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Sobat Kecil Saya dan Anak Keduanya

IMG-20171117-WA0002

 

Awal bulan ini saya ditampar oleh sobat kecil saya. Sakit? Bangeettt! sakit, tapi nggak berdarah. Ditampar beneran? Ya enggaklah cuma disindir aja. Lalu ditampar bagaimana? Kawan kecil saya ini baru saja melahirkan ‘anak rohaninya’ yang kedua. Anak pertama ya usianya sudah lima tahun lebih kurang. Anak pertamanya itu lahir menjelang pernikahan dan ulangtahunnya. Lho? Punya anak sebelum nikah? Hehehe. Anak rohani yang saya maksud adalah buku.

Bulan ini lahir ‘anak keduanya’. Saya salut pada keuletan dan kegigihannya menulis. Dan saya masih kalah jauh. Dia sahabat kecil saya.   Tidak pada setiap orang saya bercerita, dia salah satu orang yang menyimpan rapi cerita-cerita saya. Nah, dalam perbincangan tersebut kami berbagi cerita tentang menulis. Saya bilang, jari-jari saya ini tak selincah dulu di atas keyboard laptop. Hihihi. Saya bilang salah satu alasannya adalah saya belum menemukan posisi wueenaaak alias PW untuk menulis. Dan dia bilang itu hanya cari-cari alasan. Saya tertawa, lantaran tudingannya itu benar.

Tanpa pikir panjang saya memesan satu karyanya. Kawan saya bertanya untuk apa? Apalagi buku yang ditulisnya itu nggak ada hubungan dengan latar belakang saya selama ini. Saya hanya menjawab singkat,”Kanggo tondo tresnoku marang sliramu,” (untuk tanda cintaku pada dirimu). Demikian saya bilang padanya. Dan dia hanya terkekeh mengetahui jawaban saya.

Lima belas tahun saya berkawan dengannya. Bukan waktu yang sebentar untuk kami saling berbagi apa saja. Sepuluh tahun kami terpisah jarak. Ketika saya memutuskan untuk bekerja di luar Yogyakarta dan menyusul dia meninggalkan Yogyakarta. Kangen? Jelas… jika ada kesempatan bertemu waktu satu atau dua jam nggak pernah cukup buat kami berbagi cerita.

Membuka buku karyanya membuat saya senyum-senyum sendiri. Pasalnya banyak foto dia sedang berinteraksi dengan murid-muridnya. Entah kenapa saya membayangkan dulu ketika dia mengajarkan lagu bebek-ayam dan kepiting cina kepada mahasiswa baru yang badannya segede gaban.

Berikut ini kata-kata mutiara yang ditulisnya untuk saya, “Kita dibesarkan dengan satu mantra sakral. Cerita seru kita berakar dari satu mantra sakral, walaupun terpisah jarak. Kita tetap menyatu dalam satu mantra sakral. Dan satu mantra sakral itu adalah ‘Membaca dan Menulis.Titik’.

IMG-20171120-WA0003

Dipublikasi di Ekspresi, essaylepas, Sahabat | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Kisah Si Papah Pemersatu Netizen

setnov_tidur

foto: istimewa

Nama dan wajahnya kerap kali muncul di media. Sepekan belakangan namanya kembali mencuat, lantaran lembaga antirasuah kembali menetapkannya sebagai tersangka. Siapa lagi kalau bukan Setya Novanto, sang ketua dewan yang terhormat.   Bukan hanya muncul di pemberitaan, Novanto juga kerap jadi objek meme. Bahkan Novanto melaporkan para pembuat meme tentang dirinya ke polisi.

Pertengahan pekan lalu, Novanto sukses bikin saya tidur larut. Lantaran KPK mendatangi rumah Novanto dan berniat menjemput paksa si empunya rumah. Itung-itung nostalgia pekerjaan lama, saya pantengi berita sampai larut malam.  Namun, KPK gagal membawa Novanto malam itu. Sehari berselang beredar kabar kalau Novanto akan menyerahkan diri ke KPK. Pewarta pun bersiap, menjemput kedatangan Novanto. Bukan Novanto yang datang, tetapi kabar kecelakaan lalu lintas yang dialaminya yang datang.

Pengacara bilang, mobil yang membawa Novanto menabrak tiang listrik (belakangan diketahui yang ditabrak adalah tiang lampu penerangan jalam umum). Kepada wartawan, pengacara bilang, kalau kecelakaan parah tersebut menyebabkan pelipis Novanto benjol segede bakpao. Bukannya berempati, warganet malah menduga ini adah drama baru yang dimainkan Novanto.

Warganet memang dibikin terhibur beberapa hari belakangan, pasalnya dari kejadian itu muncul orang-orang kreatif yang bikin acung jempol. Apa saja sih?

  1. Kritik lewat komik yang menghibur
Komik Desta

sumber: facebook/narayarukii

 

 

  1. Jadi trending topic

Sudah bisa ditebak, drama si Papa ini jadi buah bibir di dunia maya. Tagar #Indonesiamencaripapa dan #Savetianglistrik sempat menjadi trending topic. Berikut cuplikan kicauan warganet yang menghibur.

 

  1. Papa ternyata bikin adem timeline
Screenshot_2017-11-16-12-58-24-039_com.android.chrome

foto: istimewa

Timeline media sosial yang biasanya panas dan berisi ujaran saling sindir beberapa hari kemarin mendadak adem dan menyajikan hiburan segar. Mereka yang biasanya beda pendapat satu suara soal si papah.

 

  1. Ada saja cara bakul online untuk mempromosikaan barang dagangannya

Bukan hanya pesaing Toyota yang memanfaatkan momen ini sebagai ajang promosi. Bakul sprei pun memajang sprei yang bermotif sama dengan yang dipakai papah di rumah sakit. Wow kreatif!

daihatsu

foto: istimewa

 

Kendati demikian pihak Daihatsu sepertinya telah menyunting postingan tersebut.

 

  1. Ada game tiang listrik
IMG-20171117-WA0017

foto: dokumen pribadi

Bukan hanya bakul online yang kreatif, para pembuat game pun sigap mengambil kesempatan. Mereka membuat game tiang listrik yang bisa diunduh di playstore. Saya iseng mengunduh dan memainkannya, hasilnya memang nggak mudah untuk menabrak tiang listrik. Saya hanya berhasil sekali, dari tiga kali kesempatan yang diberikan.

Ada-ada saja kreativitas orang Indonesia menanggapi peristiwa pekan lalu yang sukses memberikan tontonan yang cukup menghibur.  Tulisan iseng ini jangan dianggap serius.

 

 

Dipublikasi di essaylepas, hot issue | Tag , , , | Meninggalkan komentar