Nyaris tertipu dengan modus transaksi pakai E-Cash

belanja online

foto: istimewa

Saya yakin cerita ini pernah dialami beberapa orang. Minggu (16/4)  siang saya iseng-iseng mengupload dagangan teman adik saya, yaitu matras lipat.  Saya unggah di situs jual beli ternama. Selang tiga puluh menit, ada sebuah pesan masuk melalui WhatsApp dan menanyakan barang jualan yang saya unggah. Tanpa menawar, si pembeli langsung minta  total harga beserta ongkos kirimnya.

Sebagai penjual online dadakan, saya  seneng dong, baru ngiklan 30 menit langsung ada yang minat.  Saya berikan nomor rekening saya, awalnya saya beri rekening BCA, namun dia menolak. Alasannya karena dia menggunakan fasilitas E-Cash dari Bank Mandiri. Kebetulan saya punya rekening Mandiri ya saya berikan.

IMG-20170416-WA0009

foto: barang yang saya  jual di situs jual beli.

Selang 10 menit dia kembali mengirimkan pesan, kalau uang sudah ditransfer. Saya cek lewat internet banking, belum ada transaksi sejumlah nominal belanja orang tersebut.  Saya pun minta bukti transfer darinya. Dia memberikan bukti transfer dan screenshhot cara menggunakan  Mandiri E-Cash.  Perasaan saya sudah nggak enak. Pertama, karena saya baru kali ini bertransaksi menggunakan E-Cash. Kedua, saldo saya nggak bertambah.  Sepemahaman saya, kalau transaksi sesama Mandiri online, kecuali jika transfer antarbank di hari libur, maka baru diproses di hari kerja. Nah, berikut ini screenshoot bukti transfr dari si pelaku.

IMG_20170417_174442

Dia meminta saya ke ATM, untuk mengaktifkan mandiri E-Cash.  Saya makin curiga. Namun, saya coba untuk menuruti permintannya. Anehnya si orang ini meminta saya untuk menghubunginya jika sudah sampai di ATM. “Waduhh modus ini,” batin saya. Tapi, saya coba dan ikuti ‘perintahnya’.  Sesampainya di ATM, saya coba masukkan instruksi yang ada di screenshoot yang dia kirim, tapi di layar ATM ada perintah untuk memasukkan nomor atau kode OTP. Kecurigaan saya makin menjadi karena saya tidak punya nomor ATP.  Nggak lama dia menelpon dan memandu saya.

IMG-20170416-WA0015

Sinyal putus-putus, suara nggak jelas, waktu di ATM pun habis.  Bersamaan dengan itu, satpam Mandiri Jl Kusumanegara, membuka pintu dan langsung bertanya pada saya.”Ibu transaksi menggunakan apa? E-Cash? Itu penipuan Bu,” kata Satpam.  Nah, fiks kecurigaan saya terbukti 75 persen.

Satpam itu bilang, modus itu sering dialami orang yang jual beli online. Biasanya dengan nominal yang tidak begitu besar, di bawah 1 juta rupiah.  Memang iya,  nominal transaksi nggak besar, tapi ya kalau tujuan untuk menipu sih sami mawon. “Biasanya orang itu akan telpon lagi, Bu, dan marah-marah,” kata si satpam. Taraaaa,,,, benar kata Pak Satpam, si penipu ini mengirimkan pesan kepada saya dan menanyakan kenapa telepon mati. Saya bilang, kalau mesin ATM mendadak offline. Dia pun meminta saya untuk mencari ATM lain.

Screenshot_2017-04-17-17-46-12-780_com.whatsapp(1)

Bapak Satpam yang baik hati ini menjelaskan kepada saya, kalau sebagai penerima saya nggak perlu ke ATM, meski si pengirim menggunakan E-Cash. Sedang dijelaskan ke Satpam, si penipu ini menelepon, saya angkat, load speaker dan saya bilang, kalau saya akan dibantu oleh orang Mandiri karena saya belum pernah bertransaksi menggunakan E-Cash. Eitss,,prediksi Bapak Satpam benar, kalau si orang ini akan marah-marah.

“Ngapain pakai orang Mandiri segala?” kata dia, di ujung telepon.

“Iya Pak, saya orang Mandiri,  Bapak akan bertransaksi menggunakan apa? Biar saya bantu,” kata satpam.

 

Krik..krikk dua detik, tiga detik, empat detik. Akhirnya telepon dimatikan. Satpam bilang, kalau dia nggak akan telepon lagi.  Pak Satpam ini memprediksi, karena dia pernah menangani modus macam ini sebelumnya.

Sekali lagi 100 untuk Pak Satpam, karena dia nggak menelpon lagi, tapi kirim WA. Agak berjeda dia kirim WA dan dia menayakan apakah barang bisa dikirim besok.  Saya bilang, barang akan saya kirim jika trasnferan sudah masuk. Saya juga bilang, sebagai penerima saya tidak erlu pergi ke ATM karena otomatis akan terdebet di rekening saya.

Dia protes, bilang kalau saldonya berkurang. Saya jawab pesannya, saya bilang saya akan minta penjelasan ke CS Mandiri mengenai hal ini. Saya juga bilang, jika sudah di CS Mandiri saya akan hubungi dia dan memintanya berbicara langsung dengan CS Mandiri. Daaaaaan dia memblokir nomor saya . Hahahahaha.

Alhamdulillah, saya masih dilindungi. Ternyata ada beberapa teman saya yang juga  nyaris kena jerat si pelaku. Bahkan ada teman yang nyaris digetok Rp 40 juta, untung suaminya waspada curiga dan si penipu diamuk habis-habisan . Bahkan ada juga yang jual beli mobil dan si calon pembeli mengatakan sudah mengirimkan Rp 3 juta sebagai DP.

 

 

Iklan
Dipublikasi di essaylepas, hot issue | Tag , , , , | 1 Komentar

Nggak usah dibaca ntar nyesel lho…

writing

istimewa

Februari sudah memasuki hari ke 18. Itu artinya tiga minggu sudah saya resmi menyandang ‘pengangguran terselubung’. Terhitung 30 Januari 2017 lalu saya resmi mengundurkan diri dari pekerjaan yang saya cintai. Hanya demi satu alasan, memulai babak kehidupan baru. Selain itu saya harus fokus menyelesaikan study saya yang dalam hitungan hari kemajuannya baru nambah dua halaman. Hehehehe. Ya, daripada saya mentok nulis tesis mending nulis di blog. Itung-itung sudah lama banget ini blog saya anggurin. Seminggu nggak keja, saya ditanya, “Sibuk apa? Nggak bosan di rumah?” Saya jawab,”Saya malah nggak pernah di rumah sejak resign”.

Pekan pertama, saya mulai semedi di lantai dua, lalu berkunjung ke lantai empat FIB UGM. Saking asyiknya semedi saya sampai lupa mempersiapkan apa saja yang mau saya bawa ke Batam. Alhasil banyak banget yang ketinggalan dan kurang, maklum packing dan mencari barang-barang yang saya bawa, cuma dilakukan hanya dalam satu malam saja. Hehehehe.

Wah apa rasanya nggak lagi kerja? Suntuk? Itu yang paling saya takutkan sebetulnya suntuk dan bosan. Apalagi saya punya kecenderungan sakit nggak jelas ketika ritme hidup saya berubah. Saya masih ingat ketika tahun 2008, ketika memutuskan kembali ke Yogyakarta setelah gagal mencari kitab suci di Jawa Timur. Dua minggu pertama saya baik-baik saja. Masih haha-hihi..ketawa-ketiwi. Menginjak minggu ketiga saya tiba-tiba sakit. Iyaa..sakit nggak jelas gitu. Bangun tidur, badan saya panas, kaki dan tangan suah digerakkan. Sekeliling saya seperti berputar. Bahkan bangun subuh dan mengambil air wudlu saja saya harus rambatan dan digandeng ibu saya. Alhamdulillah saya sembuh dalam tiga hari, dengan sakit yang nggak jelas itu. Sembuh aja gitu. Cuma dikasih obat pengurang rasa sakit oleh Pakde Dokter yang kebetulan sahabat ayah saya.

131207bmood

istimewa

Belum cukup badan sakit. Setelah itu, saya sariawan. Bisa bayangkan sariawan satu tempat aja udah nggak enak banget rasanya. Lah ini di bibir iya, di gusi, di lidah kanan kiri, di bagian atas mulut. Rasanya wow banget. Mau makan apa aja salah. Saya cuma mampu menelan cairan panas dalam dan susu ultra saja. Bubur ayam juga deh, tapi dengan daya telan satu sendok persepuluh menit. Sakit yang serba unik tadi berlangsung dua minggu. Sampai akhirnya saya dapat panggilan ke Jakarta untuk ikut tes di Kanalone. Rasanya nano-nano. Kesimpulan sementara ketika itu, saya mengalami streess ringan, efeknya ke badan saya yang meriang dan nggak jelas gitu.

Awal kerja di Ibukota, saya juga sakit yang bisa dibilang,”Kok bisa sih?” wkwkwkw. Pertama nggak sengaja saya kejeglok (nggak nemu padanan bahasa Indonesia yang pas) ketika mengejar narasumber. Awalnya biasa saja dan merasa ‘kuat’. Begitu sampai kantor, kebetulan ada rapat, kaki saya bengkak dan sepatunya nggak muat. Walhasil saya balik dari ke kantor ke kos (waktu itu kantor ada di lantai 31) dengan menyeeret sebelah kaki saya. Dan pulang ke kos jalan kaki. Untung ada teman yang baik hati mengurut kaki saya sehingga rada mendingan.

Lima tahun saya di Ibukota, saya memutuskan kembali ke Yogyakarta. Dengan kondisi psikologis yang betul-betul nggak ingin saya ingat lagi (jadi nggak saya tulis di sini). Hehehe. Pulang ke Yogya dengan status ‘pengagguran’ dan nggak tau mau ngapai saya alami. Setiap hari kerja saya cuma main dan nongkrong nggak jelas sana-sini. Alhamdulillah masa-masa itu terlewati dengan mendapat pekerjaan freelance yang hasilnya nggak seberapa tetapi tetap harus disyukuri nggak minta uang jajan ke orangtua. Meski ibu saya sering tanya,”Kamu masih punya uang?”. Saya menikmati pekerjaan sebagai freelance, karena saya bisa atur waktu sesuka saya. Saya bisa atur kapan saya harus lembur kerja dan kapan saya harus main dan seneng-seneng.

kopi1

istimewa

Agustus 2014 saya resmi menyandang status baru. Mahasiswa pascasarjana. Masa seneng-seneng dan main harus berubah. Seabrek tugas dan bacaan segambreng harus saya lahap tiap hari. Kondisi yanng berubah itu membuat saya sakit. Iyaaa.. sakit lagi. Sakit kali ini batuk nggak berkseudahan, hampir sebulan. Sampai-sampai di kelas saya nggak mau duduk yang terkena ac, karena dijamin saya batuk-batuk. Sakit yang lebih aneh lagi adalah kepala saya pusing, bahkan harus disandarkan setiap pusing itu datang. Mendingan merem sambil nyandar dari pada buka mata dan melihat dunia berputar. Uniknya itu hanya terjadi setiap bada maghrib. Saya harus rela tutup laptop dan nggak lihat monitor karena sakit kepala yang nggak ketulungan itu.

Satu tahun berjalan sebagai mahasiswa ‘esdua’, teori dan tugas sudah mulai berkurang. Alhamdulillah saya mendapat pekerjaan kantoran. Yeaaay. Keisbukan yang tadinya suka-suka, mulai kembali teratur. Ada jamkantor yang harus saya patuhi dan membagi konsentrasi saya dengan satu tugas besar,”tesis”. Hahahaha. Yang sampai detik ini baru nambah tiga halaman. Dua setengah ding. Awal-awal kerja saya mengalamki perubahan hidup yang luar biasa. Saya harus ngantor dan duduk yang dekat dengan AC. Hasilnya, bisa ditebak saya batuk nggak sembuh-sembuh. Dan baru kerja dua minggu saya izin dua hari karena batuk nggak bisa ditolerir lagi.

Semua yang terjadi di atas hanya awal-awal ritme hidup saya berubah kok. Selanjutnya tentu banyak hal menyenangkan dan nggak terlupakan. Kalau ditulis jadi satu di sini bisa bikin paging dan nanti pageview saya nambah banyak hahahaha. Sejatinya kehidupan seseorang memang harus mengalami perubahan. Cerita-cerita unik pembangkit semangat bisa menjadi sebuah kisah nggak terlupakan sepanjang hidup.

pengantin

istimewa

Kalau sekarang bosan nggak? Jawabannya, InsyaAllah nggak bosan. Kehidupan baru saya sekarang ini betul-betul saya nikmati. Mengatur ritme hidup baru, di tempat baru, dan dengan orang-orang baru membuat saya tertantang dan ya ini yang harus dijalani. Banyak yang bertanya,”Nanti setelah pindah ke sana, mau kerja apa?” atau “Rencananya mau ngapain?” adalagi “Udah dapat kerja di sana?”. Saya Cuma menjawab dengann senyuman dan kalimat begini,”Nggak tau nanti, kita lihat saja dulu, sekarang ini yang penting fokus ke satu hal dulu, mau ngapain ya belum terpikirkan”.

Nah, beneran nyeselkan udah dibilang jangan dibaca. Saya curhat nggak penting.. hehehe.  Oh iya kalau ada gambar yang nggak nyambung maafkan ya. Namanya juga asal comot.

Dipublikasi di curcol, essaylepas, urban | Tag , , , , , , , , , , | 2 Komentar

AADC, Cinta, Rangga, dan kenangan masa itu, ah sudahlah!

ada apa dgn cinta - namafilm

 

Bagus atau nggak AADC 2, penontonnya pasti bejubel.

Hampir sepekan belakangan timeline media sosial yang saya punya dipenuhi mereka yang baper AADC. Mulai dari ABG kekinian sampai mereka yang ABG pada zamannya.  Siapa yang tak baper oleh film fenomenal ini. Bagus atau jelek film besutan Riri Riza ini dijamin laris manis tanjung kimpul.  Kalau saya ikutan baper nggak? Agak sih…karena teringat perjuangan nonton AADC zaman ABG dulu #eaaaaa.

Nggak terasa 14 tahun berlalu. Banyak yang memorinya tergugah akan film ini.  Apalagi ketika film ini tayang 14 tahun lalu di Jogja Cuma punya satu bioskop. Iya satu bioskop dengan satu studio (kalau nggak salah, saya lupa). Saya ingat benar, di bioskop Mataram, ketika itu masih model bioskop jadul, jangankan model blitz atau cinemaxx, model 21 saja masih jauh. Tiketnya saja masih sobekan model karcis parkir.

Euforia AADC 14 tahun silam masih terbayang sampai sekarang. Bahkan saya dan teman-teman SMA kala itu rela antre desak-desakan di bioskop yang terletak tepat di kaki sebelah selatan flyover Lempuyangan itu. Nggak tanggung—tanggung, antre tiket pagi, baru dapat untuk jam penayangan sore hari. Huhuhu. Hidup memang penuh perjuangan ya bro. Bahkaan,,, ketika itu calo betebaran menawarkan tiket AADC. Saking ramainya ada insiden kaca pecah dan banyak orang yang pingsan karena kelamaan antre.

Nggak heran ketika itu  selama menunggu nonton rela keleleran di pinggir gedung bioskop. Bahkan ada pula yang menggelar bekal dan makan dengan cueknya. Luar biasa memang, pengorbanan demi menonton akting Mba Dian, dan Mas Nicho yang kala itu masih pendatang baru. Kalau ingat bagian ini bikin senyum-senyum sendiri dan mikir,”Kok dulu mau-maunya ya”. Teman nonton saya kala itu, bilang,”Nggak apa-apa itu namanya proses”. Iya..sekaligus bukti kalau kita pernah alay. heheheh

AADC memang magnet bagi kaum muda kala itu. Segala tren yang ada di AADC, lalu diambil dan dipakai oleh remaja kala itu. Misal dandanan ala Cinta yang pakai bandana batik, padahalbiasanya itu dipakai untuk slayer muka penutup debu. Kaus kaki tinggi ala pemain sepakbola yang dipakai Cinta dan kawan-kawan, rok pendek selutut, dan baju seragam kekecilan jadi tren di kalangan pelajar kala itu. Nggak cuma itu. Buku curhat, bikin mading, dan gandrung buku AKU karya Sjumandjaja juga jadi tren. Saya? Termasuk yang bikin buku curhat bareng teman-teman satu geng dan ikut berburu buku AKU di shopping center (sekarang Taman Pintar).

images (1)

“Ada AKU-nya Sjumandjaja?” tanya saya pada bakul buku bekas di Shopping ketika itu. Lalu merasa jadi Dian Sastro.  Hahaha.. Dapat? Iyaa dapat, meski fotokopian. Rupanya gandrung buku AKU itu dilihat sebagai peluang bisnis bagi bakul buku. Mereka lalu memproduksi buku ‘bajakan’ dan menjualnya dengan harga dua kali lipat.

Mereka yang ter-AADC iya-iya aja dan pasti mau beli. Termasuk saya. Hahahaha. Yah..yah, 14 tahun berlalu kenangan masa SMA itu emang bikin senyum-senyum sendiri kok. Dan Siang tadi, saya berniat nonton AADC. Mumpung libur dan mumpung sempat.  Sebelum nonton saya browsing lebih dulu, kira-kira bioskop mana yang strategis.

Sekarang kan pilihannya banyak dan ada juga yang pakai M-Tix, jadi pastilah dapat. Kemungkinan nggak dapatnya itu kecil. Saya diskusi dengan teman sebelum nonton. Daaaan…prediksi saya keliru. Dua bioskop yang saya datangi penuh.  Lihat parkirannya yang bejubel saja sudah bikin malas. Akhirnya saya dan teman terdampar di bioskop baru di Jogja. Udah pede antre, ternyata AADC habis dan tersisa jam 9 dan 10 malam. Dari pada nunggu sampai jam 9 malam, mending saya nonton aktingnya Mas Chris Evans.

Lebih mengejutkan lagi, penontonnya kebanyakan adalah abege-abege berseragam SMP dan SMA. Kalau dihitung-hitung waktu AADC pertama tayang mereka baru lahir.  Hihihi. Padahal ekspektasi saya,  penonton AADC adalah mereka yang pernah remaja 14 tahun silam. Salah duga lagi saya.

Saya penasaran juga, kira -kira setelah nonton AADC 2 ini seperti apa ya reaksi penonton kekinian? Kalau yang seumuran Cinta dan Rangga bisa jadi bikin reuni. Kalau yang pernah tinggal di Jogja bisa jadi kangen Jogja dan pengen main ke Jogja, terus datengin deh spot-spot syuting film itu. Kira-kira ada nggak ya, yang dandan mirip Dian Sastro di film itu. Atau buku puisi Aan Masnyur jadi buruan nggak ya, sama seperti buku AKU? Atau cuma ya udahlah..

Kalau menurut kamu?

 

 

Dipublikasi di essaylepas, hot issue | Tag , , , , , , , | 1 Komentar

Kartini Muda dari ‘Negara mblusuk’ Indonesia

Saya mengenalnya 10 tahun silam. Ketika itu dia masih perempuan muda yang masih lugu, setidaknya menurut penglihatan saya. Sepeda roda dua berkeranjang setia menemaninya menyusuri Kota Yogyakarta. Bicaranya sedikit tak banyak, saya pernah menduga dia tak bertahan lama di padepokan tempat kami belajar bersama. Tapi saya salah duga,  dia tangguh. Bahkan lebih tangguh dari yang saya duga.

Kendati saya mengenalnya 10 tahun silam, tapi saya baru tahu siapa dia dari dekat tiga tahun terakhir. Dari situlah saya tahu dia tangguh, tak salah saya sematkan padanya Kartini Muda. Sekitar Oktober 2014 dia pamit pada saya untuk pergi ke pedalaman Jambi untuk mengajar anak-anak rimba di sana.  Sebagai teman runtang-runtungnya setelah saya memutuskan untuk meninggalkan ibukota, jujur saya kehilangan. Tapi saya percaya pilihannya ini tak salah.

Ya, namanya Tri Astuti. Kami biasa memanggil dia Tuti. Teman sebayanya menjuluki dia gadis yang beruntung. Barangkali sewaktu kecil, dia adalah orang yang pernah mendapat huruf N di bungkus permen karet YOSAN.

Di pedalaman Jambi itulah dia mengajar anak-anak rimba. Dalam sebulan, tiga minggu dia habiskan di dalam rimba sementara sepekan sisanya dia kembali ke Bangko, kota terdekat dari rimba untuk menyusun laporan, mengambil logistik, dan lain-lain. Bukan perkara mudah bagi Tuti untuk memutuskan pergi ke pedalaman dan mengabdi di sana. Apalagi segalanya serba terbatas dan fasilitas yang ada tentu tak selengkap di kota besar. Setahun di Jambi, Tuti memilih tak meneruskan kontraknya. Bukan karena jenuh, tapi karena panggilan orangtua lah yang membuat Tuti harus meninggalkan rimba. Saya tahu berat untuk dia meninggalkan rimba, apalagi hutan dan anak-anak itu banyak memberinya pelajaran.

Screenshot_2016-04-19-06-51-46_1

Tak sampai enam bulan Tuti pulang, dia kembali mengepack barang-barangnya. Kali ini tak sampai ke pedalaman Jambi. Dia meneruskan pengabdiannya di dusun Sumber Candik, tepatnya di lereng gunung Argopuro di Jember, Jawa Timur.  Lagi-lagi dia mengajar mereka yang tak tersentuh pendidikan formal.

Tuti bukan satu-satunya. Saya tahu ada banyak perempuan muda yang memutuskan untuk mengabdi di pedalaman Indonesia. Bukan untuk jalan-jalan, selfie, lalu upload di media sosial. Bukan, bukan untuk eksistensi diri tapi benar-benar untuk mengabdi dan mengajar mereka yang membutuhkan dan tak terjangkau oleh pendidikan formal yang digadang-gadang pemerintah.

Bukan perkara mengajar di pedalaman dan tidak semua berani ambil keputusan seperti itu. Saya ingat cerita Tuti bagaimana dia harus menaklukan rimba dan menghafal jalanan yang hampir sama. Tak cuma itu dia juga harus berjuang menaklukan anak-anak rimba dan beradaptasi dengan mereka yang pernah menyebutnya ‘betina’. Sampai harus tega makan daging hewan yang sama sekali tak pernah terbayangkan bakal dia makan.

Saya yakin di dalam diri mereka bukan hal mudah untuk memutuskan mblusuk ke pedalaman Indonesia. Apalagi zaman sekarang, ketika banyak orang memimpikan kerja di kota besar dengan fasilitas yang memadai, ruang ac, pakaian rapi, dan wangi. Mereka justru memilih sebaliknya, tinggal di pedalaman dan tentu saja beragam risiko yang harus  mereka tanggung. Tak semua orang berani ambil risiko dan pilihan seperti ini. Bayangkan saja kita-kita yang tinggal di kota, sinyal hilang sedikit sudah menggerutu bahkan ketika lampu padam pun, memilih untuk memaki PLN. Hehehehe.

Tak hanya itu, kesehatan mereka pun jadi taruhannya. Rentan penyakit padahal pelayanan kesehatan yang tersedia belum tentu memadai. Makanan alakadarnya, membuat mereka harus belajar bersahabat dengan alam.  Jauh dari sinyal, harus menanti waktu untuk bisa berkomunikasi dengan keluarga dan orang-orang tercinta. Tuti adalah salah satu contoh, saya yakin dan percaya masih banyak perempuan-perempuan muda yang rela mblusuk tak sekadar untuk foto dan diunggah ke media sosial. Inilah potret Kartini masa kini, yang punya kontribusi besar membangun negeri ini.

*tulisan ini juga dimuat di laman bersatoe.com, untuk memeriahkan Hari Kartini 2016.

Dipublikasi di essaylepas, hot issue, urban | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Kali Ini Untukmu, Teh Irma!

irma bule

Nama Irma Bule mendadak masyhur sepekan belakangan. Bukan karena goyangan yang fenomenal seperti Inul Daratista yang dulu terkenal karena goyang ngebornya. Bukan pula seperti Ayu Ting-ting yang mendadak tenar karena ‘Alamat Palsunya’. Pedangdut asal Karawang itu meninggal dengan cara tragis, dipatuk ular cobra yang biasa manggung bersamanya.

Bagi sebagian orang mungkin bukan sesuatu yang wow,  Irma Bule meninggal. Apalagi dia adalah penyanyi dangdut pantura yang biasa tampil dari satu panggung ke panggung lainnya. Sekali tampil dia hanya dibayar Rp 500 ribu, tak sepadan dengan risiko yang dia hadapi, kematian.  Ditambah lagi, dangdut pantura selama ini lekat dengan stereotipe musik recehan yang lazim dikonsumsi masyarakat kelas bawah.

Kematian Irma menyedot perhatian dunia, bahkan tak sedikit media asing yang memberitakannya. Tulisan Budi Setiawan, salah satu netizen yang sejak kemarin ramai dibagikan cukup bikin sesak dada. Apalagi ketika saya menuliskan ulang untuk media tempat saya bekerja. Tragis! Irma masih berusaha menuntaskan tugasnya meski dia sudah diminta turun oleh kru.

Kaki Irma tak sengaja menginjak ekor kobra, teman duetnya dipanggung. Kobra yang terusik itupun lalu mematuk paha Irma. Sempat jatuh, tapi dia tak mau turun.  Dia memilih bangkit lagi dan meneruskan ‘tugas’nya. Bisa jadi Irma menghiraukan bahaya itu. Di benaknya hanya ada wajah tiga anaknya yang butuh biaya. Irma barangkali takut bayarannya tak penuh jika dia turun dan tak menyelesaikan tugasnya. Logika yang mungkin tak mudah dipahami oleh orang kebanyakan.

Irma mencoba bertahan hidup dengan bergoyang dan menantang maut. Bukan hanya bertahan hidup dari bisa ular cobra, tapi juga bertahan hidup dan keluar dari jerat kemiskinan. Tragis memang, apalagi Karawang tak jauh dari ibu kota.

Tak sedikit orang yang menganggap kematian Irma adalah kecelakaan kerja biasa. Tak banyak yang peduli, bisa jadi karena Irma hanya dianggap penyanyi dangdut pantura yang selama ini lekat dengan musik recehan.  Bukan sesatu yang penting jika dibandingkan dengan orang dengan strata lebih tinggi. Miris memang.

Bukan, kematian Irma bukan hal biasa. Menurut saya dia adalah potret riil masyarakat Indonesia yang berusaha keluar dari jerat kemiskinan. Irma tak sendiri, masih ada Irma-Irma lain di luar sana yang juga kerap nekat bekerja hanya demi uang yang tak seberapa. Sementara pemerintah masih asyik dengan pembangunan ini itu. Atau ada lagi sebagian masyarakat yang ribut soal agama dan merasa disikriminasi.  Ada lagi mengutuk penguasa karena persoalan keyakinan.

Kontrasnya lagi, di ajang pemilihan penyanyi dangdut berbakat peserta kerap mendapat bonus dari penyanyi dangdut ‘nasional’ itu. Seandainya saja Irma seberuntung mereka, mungkin Irma tak akan bertaruh nyawa.  Irma, si pejuang hidup itu berpulang dengan jalan demikian. Meninggal di panggung yang memberikannya kehidupan.

Selamat jalah Teh Irma!

Dipublikasi di artis, essaylepas, hot issue, selebriti, urban | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Antara Sonya, Florence, dan Media Sosial

kafer sonya

Siang itu  usai mengikuti Ujian Nasional hari terakhir, Sonya Depari tak langsung pulang. Gadis berparas ayu itu memilih berputar-putar kota dengan mobil, tentu saja Sonya tak sendiri dia bersama lima kawannya. Sayang, mobil yang dia kendarai memuat tak semestinya. Ditambah lagi tak tertib lalu lintas, kena sempritlah dia. Bukannya mengalah, Sonya justru berang dan balik memaki si polisi wanita. Sialnya lagi adu mulut antara polisi dan bocah usia belasan itu terekam kamera wartawan.  Barangkali tak pernah terbayangkan di benak Sonya Depari kejadian siang itu bakal berbuntut panjang.

 

Semula mungkin biasa saja. Tapi si perekam tampaknya mulai memainkan zoom ketika gadis berambut panjang itu menyebut nama Arman Depari. Jelas ada kepanikan dan amarah dari kalimat yang terlontar itu. Namun mulutnya mercercau tak jelas dan memalingkan muka ketika si wartawan menanyakan kebenaran perihal ‘ayah’nya.  Sonya berpaling tak menjawab pertanyaan wartawan. Polisi berpangkat inspektur dua itu pun melepas Sonya. “Duaarrr” meledaklah kasus adu mulut Polwan dan Sonya di Media Sosial. Ditambah lagi dia bawa-bawa nama jenderal bintang dua.

Persis seperti dugaan dan yang sudah-sudah. Media sosial berubah sebagai ruang pengadilan, terdakwanya siapa lagi kalau bukan Sonya. Caci maki dan beragam hujatan harus  rela Sonya terima. Suka tak suka, mau tak mau. Dunia maya tambah heboh ketika Arman mengeluarkan statemen, bahwa dia tak punya anak perempuan. Ketiga anaknya laki-laki semua dan ada di Jakarta. Hmm lalu  siapa Sonya?

Pernyataan Arman tersebut bukannya meredam amarah netizen tapi justru makin ramai. Saya tak bisa bayangkan reaksi Sonya melihat respon masyarakat.  Bisa jadi dia nangis di pojokan  atau dia ada di sebuah kafe, menyeruput cokelat panas, sembari menertawan kegaduhan dunia maya yang memperbicangkan dirinya.

Sonya bukan yang pertama dihujat netizen. Dulu ada Florence Sihombing. Lantaran curhatannya di path dicapture dan disebarkan, alhasil Flo diseret ke kantor polisi dan diskorsing dari kampus tercinta, duh!. Apa yang dirasakan Flo adalah imbas dari pengadilan media sosial.  Padahal mereka yang menghujat tanpa sadar juga pernah melakukan hal yang sama dengan Flo, menyerobot antrean. Atau  mereka yang menghujat juga pernah memaki, sama seperti Flo memaki orang-orang Jogja lewat media  Sosial.

Sekarang Sonya kena getah media Sosial.  Bahkan merembet ke keluarganya. Mereka yang menghujat, mungkin tak pernah berpikir panjang. Hanya meluapkan emosi sesaat lalu pergi. Ayah Sonya, Makmur Depari tak kuat hati melihat putri kesayangannya jadi bahan bully.  Makmur meninggal, akibat serangan jantung. Maut memang takdir yang kuasa, tapi penyebab kematiannya itulah yang membuat terenyuh.

Mereka yang menghujat, sontak diam. Ada juga yang berbalik simpati.  Belajar dari Sonya dan Flo, sadarkah bahwa di antara kita kerap melakukan hal yang sama dengan mereka. Menghujat dan memanfaatkan jabatan dan wewenang? Sama seperti Flo, jika tak suka dengan sesuatu kerap kita menghujat dan memaki. Tapi kenapa giliran Flo yang memaki disalahkan? Justru dimaki balik.

Lalu, Sonya. Adakah di antara kita yang pernah memanfaatkan jabatan atau wewenang orang dekat untuk mendapatkan sesuatu? Jujurlah, pasti ada. “Saya keponakan Pak X, bupati Y,” atau saya ini anggota kopassus, dan “Saya butuh tiket pulang, ada orang dalam? “ Jurus maut itu kerap digunakan ketika kepepet. Sama dengan Sonya !

 

Dipublikasi di essaylepas, hot issue, urban | Tag , , , , , | 3 Komentar

Ketika pertanyaan ‘Kapan’ itu sudah nggak lagi horor

syahrini3333

Nggak perlu ngurusin orang lain, iya sebab ngurusin diri sendiri aja udah ribet. Apalagi sekarang makin gendut, mau kurus aja susah. Hehehehe.

Kira-kira pertengahan tahun lalu, salah satu grup whatsapp saya heboh. Pemicunya adalah lontaran kawan saya, yang nggak ada angin nggak ada hujan bilang:”Pernah nggak, orangtua panik soal jodoh?” lebih kurang begitu yang dia tulis di grup.

Ketika membaca itu saya terdiam. Lalu sebuah jawaban muncul,”Ya pernah lah, apalagi usiaku udah kepala 3, pastilah orangtua panik dan bingung, buntutnya mereka jodoh-jodohin deh sama anak temennya”. Jawaban ini jelas semi curcol sih. Jawaban teman lain muncul, apalagi orang Jawa yang masih khawatir ketika anak gadisnya yang sudah kepala 3 belum menikah. “Orangtua khawatir, nanti siapa yang bakal melindungi padahal anaknya santai-santai dan masih hobi main”.

Obrolan lalu mengalir, ke masalah jodoh dan seputar pertanyaan ‘kapan kawin’ maklum, teman-teman saya di grup itu sebagian besar masih berstatus lajang.

Saking seringnya ditanya ‘Kapan’ itu bikin saya kebal dan cuma bisa jawab sambi nyengir. Kalau lagi bener ya dibumbui jawaban,”Insya Allah segera,” kalau lagi kambuh, ya pengen saya jawab,”Lha situ kapan mati?” jawaban sadis sih, tapi yakin deh saya nggak pernah jawab gini kok. Paling kalau lagi males cuma nyegir doang.

Mereka yang nanya itu bukan cuma sekali dua kali. Apalagi kalau ada bumbunya,”Aku aja nyesel baru nikah sekarang, kenapa nggak dari dulu”. Atau ada lagi”Pertanyaan standart nih kalau ada nikahan, kapan nyusul? Nunggu apa?” Atau pertanyaan lain lagi,”Kamu cari yang kayak gimana sih?” ketika dijawab,” kamu cariin dong, kenalin aku sama siapa gitu, nggak Cuma nanya doang,” eh, dia diem nggak bisa jawab lagi.

Dulu, waktu masih usia 25-28an ketika ditanya’Kapan’ emang sensi abis.  Ya, mau jawab pertanyaan itu juga nggak bisa, apalagi emang nggak ada jawabannya. Tapi setelah melewati usia itu dan sampai tulisan ini diturunkan, saya kebal.  Pertanyaan itu sempat membuat hubungan saya dan kawan renggang lho. Jadi gini ceritanya, saya dan kawan itu udah lost contact sekian tahun. Tiba-tiba dia muncul di friend request, ya saya seneng dong..bertemanlah kami di dunia maya. Setiap chat, dia selalu tanya,”Kapan aku mbok kirimi undangan,” masih saya jawab baik-baik.

Sampai suatu saat dia nanya pertanyaan yang sama,”Kapan sidane undangane? Kok ora ono progress ki piye?”. Saya yang sedang capek, kesal abis alias muntap. Saya jawab agak sedikit keras,”Menikah itu bukan soal usia, dan itu bukan urusanmu kapan saya menikah!” eh dia jawab lagi, “Kok kowe oleh kata-kata ngono sinau nang ndi?”

Tapi pernah pertanyaan ‘kapan’ itu bikin saya meleleh. Pertanyaan itu datang dari sahabat saya dia bilang gini”Piye kowe kapan? Selak anakku 3 lho,” kata dia. Saya Cuma jawab dengan emoticon senyuman waktu itu. Lalu, dia bilang lagi,”Aku ming pengen kowe bahagia,”. Duh.. meleleh sih dibilang gitu, tapi juga ngakak.  Masalahnya teman saya ini preman abis. Padahal ukuran kebahagiaan bukan hanya dari sudah menikah atau belum

Sampai sekarang saya hindari pertanyaan2 ‘kapan’ ke teman saya. Apapun itu. Kapan nikah, kapan punya anak, kapan dan kapan lainnya.

Hanya satu pertanyaan ‘kapan’ yang bikin saya horor belakangan ini.’Kapan bimbingan’, ‘kapan lulus’ dan ‘Kapan Wisuda’ hehehehe.

Dipublikasi di curcol, essaylepas, Uncategorized, urban | Tag , , , , , , | 4 Komentar