Tips Keuangan Untuk Pekerja Pemula Ibu Kota ala Saya

kafe

istimewa

Beberapa waktu lalu tagar #crazyrichsurabayan menjadi viral di media sosial. Usut punya usut ternyata tagar tersebut bermula dari film Crazy Rich Asian yang sedang tayang di bioskop.Cukup menggelitik dan bikin ngakak sih, penggalan cuitan di Twiiter terkait #crazyrichsurabayan. Seolah tak mau kalah muncullah cuitan tandingan dengan tagar #crazypoorasian. Hihi. Nggak lalah lucu dengan tagar sebelumnya, bikin ngakak dan ada-ada saja.

Saya pun pernah mengalami sebagai #crazypoorasian. Sebagai pekerja pemula, dulu sekitar tahun 2008 dengan gaji minimal dan pekerjaan yang menghabiskan waktu di jalan, membuat saya harus pintar-pintar putar otak. Agar tetap bisa bertahan tanpa harus ngutang atau minta transferan orangtua.

Setiap orang punya pengalaman yang berbeda ya. Tulisan ini adalah bagian dari pengalaman saya hidup irit ala pekerja pemula di ibu kota dengan gaji minimal.

Lalu apa saja yang pernah saya lakukan agar tetap bertahan dengan gaji pas-pasan kala itu? Berikut ini tips singkat untuk pekerja pemula agar tetap bisa hidup kendati gaji minim.

1.Setia gunakan angkutan umum

Jika tidak ada kendaraan pribadi maka alternatifnya adalah kendaraan umum. Nah, sebisa mungkin sering-seringlah naik angkutan umum ketimbang ojek apalagi taksi. Beruntung sekarang ada ojek online, tetapi sepertinya naik angkutan umum tetap lebih murah.

2. Sedia lauk kering dan masak sendiri

Salah satu siasat tetap hidup hemat adalah masak sendiri. Meski hanya masak nasi saja. Dulu saya selalu dibekali lauk kering seperti kering tempe dan abon oleh ibu saya. Lalu, saya membeli ricecooker mini untuk modal hidup hemat. Beli beras pun tak langsung banyak. Cukup seliter (kalau di Jakarta) atau perkilo saja. Ini akan lebih hemat dan ekonomis. Bayangkan saja, kalau beli lima kilo sekaligus dan terlalu lama digunakan bisa-bisa beras kutuan, apek, dan akhirnya tidak dipakai.

Sekali waktu bisa juga masak sendiri. Saya selalu cari kos yang ada dapur dan bisa masak. Meski memasak hanya satu-dua kali setiap minggu. Beli lauk matang di warteg bisa lebih hemat, karena satu porsi bisa dua kali makan. Atau sharing dengan teman kos.

IMG_20170119_185036_HDR (1)

3. Kurangi jajan

Saya pernah mencatat pengeluaran bulanan. Ternyata paling banyak pengeluaran adalah jajan. Jadi, saya coba kurangi jajan (bukan nggak jajan sama sekali ya) misal membeli makanan atau camilan dua atau tiga hari sekali. Dan jangan lapar mata. Duh ini yang berat. Hahahaha.

4. Sisihkan gaji di awal

Begitu terima gaji sisihkan paling tidak 5-10 persen dan masukkan ke rekening berbeda. Ini berfungsi sebagai tabungan sekaligus dana cadangan. Namun, sebaiknya jangan diganggu gugat jika tidak benar-benar darurat. Ini belum termasuk investasi jangka panjang ya. Hehehe.

5. Prioritaskan kebutuhan pokok

Jika kamu hidup merantau pasti tahu, apa saja kebutuhan pokok yang wajib dibayarkan. Misal uang kos, zakat/sedekah. Nah prioritaskan dua hal ini. Setelah itu baru bikin skala prioritas dan rencana anggaran di bulan tersebut. Memang kedisiplinan diperlukan untuk menghindari utang dan minta transferan orangtua. Malu euy, sudah kerja masih minta transferan.

Jika kamu pekerja pemula ibu kota, apa siasatmu?

 

 

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | 12 Komentar

Ini Cara Biar Rekeningmu Gendut di Tanggal Tua

celengan-babi

Saya pernah menjadi pekerja yang mendapatkan gaji tiap bulannya. Sejak tidak lagi mengajukan anggaran ke orang tua, saya berusaha untuk menyiasati pengeluaran setiap bulan agar tidak defisit. Tidak sampai utang ke orang lain. Meski sering di akhir bulan itu pas-pasan, artinya tidak ada sisa alias saldo minimal di rekening. Hikss syediiih.

Ketika bekerja di Jakarta, saya lebih banyak hidup di jalan, ketimbang merasakan kursi dan dinginnya AC kantor. Bahkan saking jarangnya ngantor saya sampai nggak tahu teman kantor selain satu desk atau bagian  dengan saya. Pernah suatu ketika duduk sebelahan dengan mbak-mbak yang ternyata dia sudah bekerja lama di kantor saya. Sedangkan saya enggak kenal blas. Hahahaha.

Nah, soal gaji nih seringkali pekerja milenial sekarang ini merasa kurang meskipun gaji lebih dari cukup. Saya bukan orang yang pinter-pinter amat menyisihkan uang, mencoba beberapa kali mengatur keuangan ala financial planner. Hasilnya? Berhasil sih, tapi beberapa bulan saja. Hahahaha. Eitss nggak masalah, saya akan berusaha terus untuk mengatur keuangan. Apalagi sekarang ini kebutuhan hidup dan harga makin mahal.

Nah, berikut ini cara yang pernah saya lakukan untuk menyiasati gaji biar cukup dan nggak utang

1. Bayarkan dulu yang jadi kewajiban

Jika kamu anak kos atau kontrak rumah, tentu hal pertama yang harus dipenuhi adalah biaya sewa tempat tinggal. Atau jika kamu sudah mengajukan kredit rumah pastikanperioritaskan utang dulu. Kalau bayar kosnya tahunan bagaimana? Bayar kos tahunan atau pertiga bulan,bukan berarti kamu tidak menyisihkan biaya setiap gajiankan? Kendati hitungannya lebih murah, kamu tetap harus menyisihkan uang untuk kos atau sewa rumah. Nggak perlu full, bisa separuh atau sepertiganya sehingga tidak berat ketika harus mengeluarkan biaya tahunan dalam jumlah besar.

2. Jauhi kartu kredit

Bukan cuma kredit KPR yang mencekik. Kartu kredit yang dibilang untuk memudahkan justru bisa mempersulit kamu. Apalagi sekarang banyak tawaran kartu kredit dengan berbagai iming-iming. Saran saya abaikan saja kalau memang belum mampu berutang.

3. Tabungan atau investasi?

Nah, ini yang seringkali bingung. Dulu waktu kecil kita didoktrin menabung untuk masa depan. Ya kali, waktu itu belum ada mbanking, marketplace, dan segala macam surga  belanja online. Prinsipnya mungkin diubah, menabung untuk belanja dan piknik, investasi untuk masa depan.  Jadi menabung itu untuk keperluan jangka pendek dan investasi untuk jangka panjang. Hahaha. Saya sih berprinsip seperti itu. Oh iya, menyishkan uang untuk tabungan atau investasi sebisa mungkin jangan uang sisa di bulan ini akan tetapi targetlah berapa persen dari total pendapatan itu untuk tabungan.

IMG_20170119_185036_HDR (1)

4. Jangan banyak gaya naik taksi atau ojek

Ketika saya masih bekerja di Jakarta, seringkali merasa malas naikangkutan umum. Alasannya capek. Hahaha. Suatu ketika saya mencoba untuk tidak naik ojek ataupun taksi ketika berangkat dan pulang kerja. Ohiya waktu itu belum ada ojek online ya. Nah, sebisa mungkin kurang-kurangi deh itu pengeluaran untuk transportasi seperti ojek dan taksi. Itung-itung mengurangi kemacetan. Yekaaan? Insya Allah nanti ada rejeki untuk sopir taksi dan sopir ojek yang budiman.

Hasilnya? saya bisa menyisakan uang seperempat gaji dalam sebulan, di luar tabungan, dan aneka tagihan. Itu sudah termasuk biaya hedon (alias makan enak).

5. Uninstall marketplace

Memang bukan salah marketplace, tapi salah jari yang mencet logo marketplace #eh. Salah satu cara agar  kita tidak boros adalah tidak membuka marketplace.(Kitaaa? Lo aja kali Diiitt ngak usah ajak2) kwkwkwkwk. Apalagi sekarang banyak godaan diskon barang yang harganya terjun bebas, free ongkos kirim, dan lain-lain. Nah, biar jari nggak khilaf uninstall deh itu marketplace.Intinya sih, mau ada atau tidak marketplace sebisa mungkin  belajar menahan diri dari godaan belanja implusif.

 

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

Si Doel, Kisah Sederhana yang Tak Lekang Waktu

IMG_20180806_145553

 

Aseli ini bukan spoiler

Saya termasuk orang yang gembira ketika Si Doel naik ke layar lebar. Menurut saya sejauh ini cuma Si Doel, sinteron yang tak pernah bosan ditonton kendati sudah berulang kali diputar. Bagi saya guyonan dan celetukan khas pemainnya itu natural dan nggak terlalu dibuat-buat. Semua pemain punya karakter kuat. Cerita yang nggak melulu soal harta dan jabatan, kendati bagi Babe Sabeni kerja kantoran adalah harga mati untuk ukuran sukses.

Sederhana. Itu adalah komentar pertama saya usai nonton Si Doel kemarin. Suami saya pun berujar,”Udah segini aja? Simple banget ceritanya”. Hahaha si abang kebanyakan nonton film action sih. Film ini sederhana, di luar bayangan saya. Bayangan saya, khas film Indonesia yang seringkali menye-menye apalagi diangkat dari sinetron.

Tapi ternyata kekhawatiran saya tak terbukti. Sederhana sekali film ini, sesederhana sinetronnya. Meski ada banyak pertanyaan terkait benang merah antara sinetron terakhirnya dan sekarang. Ah tapi sudahlah saya tak mau ambil pusing. Pastinya, sinetron ini menghadirkan nostalgia. Film yang mungkin dianggap receh oleh sebagian orang.”Hah…nonton Si Doel? Hahahahaha,” kata seorang kawan begitu tahu saya nonton Si Doel. “Segitu recehkah? Lalu, kamu yang hobi nonton film Hollywood atau drama Korea lebih berkelas gitu?”

Screenshot_2018-08-06-16-57-29-186_com.google.android.youtube

Sebagian besar orang Indonesia mungkin sudah tak lagi percaya dengan film karya bangsa sendiri. Pun saya. Apalagi ketika tahu siapa sutradara dan pemainnya. Pasti ini bakal menjadi bahasan panjang. Seperti Iqbal Ramadhan yang memerankan Minke. Bagi sebagian orang penggemar Dilan dan Iqbal dan tidak tahu siapa Minke, itu nggak masalah. Tetapi buat sebagian pecinta Pram, tentu ini sebuah kesalahan. Tak urung sumpah serapah dan bully-an terhadap Iqbal terus mengalir. Meski kita belum tahu sesukses apa Iqbal memerankan Minke.

Si Doel dalam layar lebar, adalah kisah sederhana, minim dialog, tetapi ada banyak adegan yang mengena. Doel kecil contohnya dialognya tak lebih dari 10 kalimat. Padahal bayangan saya, dia bakal menanyakan kenapa baru sekarang ayahnya datang? Atau ada drama ala sinetron,”Ngapain orang ini di sini Mama. Dia bukan Papaku!” (jreng jreeng diucapkan dengan bibir bergetar). Percayalah tak ada adegan seperti ini.

Screenshot_2018-08-06-16-56-31-712_com.google.android.youtube

Atau adegan ketika Sarah bertemu Doel di sebuah museum. Pertemuan suami istri setelah 14 tahun, hampir sama kayak Rangga dan Cinta. Bedanya, kalau Rangga dan Cinta menghabiskan waktu berdua semalam suntuk keliling dari Prawirotaman, Sate Klathak, ngopi di Klinik Kopi, nonton PaperMoon, liat sunrise di Gereja Ayam Magelang, sampai balik lagi ke villa Cinta, dkk.

Pertemuan Doel dan Sarah hanya sederhana. Tanya kabar, tak ada adegan Doel balik arah untuk gantian meninggalkan Sarah. Saya sangka semula akan ada adegan kejar-kejaran antara Sarah dan Doel. Tapi ternyata itu cuma imajinasi saya. Hahahaha. Mereka hanya duduk berdua, minum, saling bertukar cerita seperti melepas kangen. Saling meminta maaf, nggak ada kata-kata,”Tega kamu Doel nggak nyariin saya”. Percaya deh dialog ini cuma ilusi. Sementara Mandra? dia terperangah melihat Sarah.

Kemudian mereka bertemu lagi di rumah Sarah untuk makan sayur asem. Konon sayur asem dan ikan asin adalah sayur andalan Maknyak kalau Sarah datang ke rumah Doel. (dan saya jadi pengen masak sayur asem dan ikan goreng, oke besok ke pasar beli ikan). Momen itulah yang mempertemukan dua Doel. Doel besar dan Doel kecil.

Screenshot_2018-08-06-16-57-41-497_com.google.android.youtube

Pertemuan yang tak diduga, dan ya tak ada reaksi apapun dari Doel besar.  Ada sedikit perubahan sikap. Kalau dulu Doel gampang tersinggung, sekarang dia tak banyak bicara ketika anaknya bersikap jutek. Hahaha. Dia juga nggak memilih pergi tetapi tinggal di rumah Sarah. Beda kalau dulu, kalau dia diejek Roy- penggemar sejati Sarah- dia langsung tersinggung dan pergi begitu saja. Tapi Doel bertahan. Entah apa yang dia harapkan.

Endingnya pun bikin komentar,”Oh gini aja?” Hahaha. Kendati sederhana, yakin deh film ini langsung ke jantung pertahanan sodara-sodara. Tenang netizen yang budiman. Anda boleh mencaci, tapi film ini layak diapresiasi karena cerita yang simple itu tadi.

Sekian dan terimakasih.

Dipublikasi di artis, essaylepas, Uncategorized | Tag , , , | Meninggalkan komentar

‘Me time’ aktivitas penting nggak penting, yang bisa kamu lakukan

Tiba-tiba saja saya kepikiran tentang ‘me time’. Kamu pasti sering dengar istilah ‘me time’ atau mungkin kamu sering menggunakannya? Menurut definisi saya atau ini sudah umum ya,’me time’ adalah waktu yang digunakan ketika kita menyenangkan diri sendiri. Setiap orang punya cara yang berbeda untuk ‘me time’.  Ada yang pergi ke salon, baca buku, atau nonton drama Korea sampai mata bengkak.

‘Me time’ pasti berharga banget untuk siapa saja yang sok sibuk. Kalau saya sih, sepanjang waktu adalah ‘me time’. Hahaha. Yaiyalah, semua saya lakukan untuk menyenangkan diri saya. Capek garap kerjaan tiduran, bosen ngetik ya dengerin musik. Pokoknya nikmati waktu yang adalah. Giliran udah sore baru deh gedubrakan masak. (sedikit curcol).

Ada juga yang jarang punya ‘me time’.”Hampir nggak bisa ‘me time’, digelendotin anak codot,” kata teman saya. “Berarti lo emak codot dong?” tanya saya balik. Dia ngakak. Hahaha. YA begitulah ada orang bisa ‘me time’ seharian, ada juga yang cuma bisa mandi dengan tenang dan bisa keramas saja jadi ‘me time’ yang berkualitas.

Nah, iseng-iseng saya tanya lewat status WhatsApp begini,”Apa yang kamu lakukan ketika ‘me time’? “ Berikut ini jawabannya:

1. Tidur lama

IMG-20180801-WA0013 (1)

pic: @audiarama

Ternyata banyak yang menjadikan tidur sebagai ‘me time’ yang berharga. Apalagi setelah seharian kerja keras bagai quda atau ngurusin bocah satu balita penuh aksi dan satu lagi bayi yang ditinggal geser satu centi, nangisnya bikin geger satu kompleks. Ada juga yang tiduran sembari guling-guling ala Shin-Chan atau istilah Jawanya glundang gludung koyok semongko (guling-guling kayak semangka).

2. Jalan-jalan

mall

istimewa

Saya juga sih, pernah melakukan hal ini. Jalan-jalan aja, lihat-lihat barang lucu, cuci mata. Beli atau enggak urusan nanti. Kalau sedang  defisit anggaran belanja ya udah lihat-lihat saja sudah cukup. Kalau ada duit ya udah beli aja, ketimbang mimpi .. hahaha.

 3. Makan apa yang disuka

IMG_20180701_203227

@armaditafikriani

Kadang kita bosan dengan masakan sendiri. Saya pun juga. Lalu, kita keluar rumah dan jajan apa yang kita suka. Meski itu cuma es krim di McD. Dulu saya sering ‘me time’ dengan makan sendiri.  Misal pengen mie ayam, mau ajak teman kok repot, belum tentu dia bisa ketimbang kuciwa ya udah akhirnya jalan sendiri . PD? Banget.. nggak apalah kan makannya bayar enggak minta. Hahaha.

4. Baca buku

IMG_20180801_123943 (3)

@armaditafikriani

Wuiiih. Ini saya banget. Duluuuu. Hahaha. Sesekali saya masih suka menyisihkan waktu untuk membaca, mendengarkan musik, dan nyeruput kopi. Dulu ini pernah saya lakukan waktu masih jadi anak kos. Ketika libur, saya usahakan nggak mbangkong alias bangun siang. Setelah selesai fitness (baca: cuci dan jemur baju) saya pergi ke warung burjo pesen roti bakar, beli kopi saset, beli koran (lihat-lihat siapa tahu ada lowongan kerja menarik), lalu ngopi di kos sambi sarapan roti bakar. Selesai baca koran, lalu baca buku yang dibeli kira-kira beberapa bulan sebelumnya. Hoiyaa..sambi dengerin radio juga.

5. Perawatan di salon atau pijat

salon

istimewa

Sepertinya ini dilakukan hanya ketika habis gajian. Saya pun begitu. Nggak rutin tiap bulan, bisa dua atau tiga bulan sekali pergi ke salon untuk ‘me time’. Ngapain aja? Karena terhitung jarang saya biasanya sekalian tuh satu badan mulai hair spa sampe refleksi kaki. Berharap keluar salon mirip Dian Sastro. Hahaha.

6. Nongkrong di kafe sendirian

kafe

istimewa

“Sambi mengamati kabar dari internet (asline moco gosip artesss),” kata teman saya yang juga dosen. Etapii jangan salah, ini juga pernah saya lakukan. Berkedok bekerja sambi ngopi dan wifi-an realitanya saya buka berita artis. Hahaha. Ya nggak apalah, biar seimbang otak kiri dan kanan, nggak cuma dipakai bekerja saja. à(bisa ajaa cari pembenaran)

7. Nonton film atau drama

drakor

istimewa

Nah, ini dia yang banyak dilakukan. Nonton film atau drama. Apalagi penggemar berat K-Drama. Wow, pasti dibelain ‘me time’ setiap hari hanya untuk nonton drama Korea.”Sekarang saya tahu rasanya ketika buka laptop, tapi malah nontok drama Korea,”. Drama Korea ternyata berhasil mengalihkan duniaku.

Lalu, seberapa penting ‘me time’? Cuma kamu sendiri yang punya jawabannya.

Dipublikasi di essaylepas, Uncategorized | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Sobat Kecil Saya dan Anak Keduanya

IMG-20171117-WA0002

 

Awal bulan ini saya ditampar oleh sobat kecil saya. Sakit? Bangeettt! sakit, tapi nggak berdarah. Ditampar beneran? Ya enggaklah cuma disindir aja. Lalu ditampar bagaimana? Kawan kecil saya ini baru saja melahirkan ‘anak rohaninya’ yang kedua. Anak pertama ya usianya sudah lima tahun lebih kurang. Anak pertamanya itu lahir menjelang pernikahan dan ulangtahunnya. Lho? Punya anak sebelum nikah? Hehehe. Anak rohani yang saya maksud adalah buku.

Bulan ini lahir ‘anak keduanya’. Saya salut pada keuletan dan kegigihannya menulis. Dan saya masih kalah jauh. Dia sahabat kecil saya.   Tidak pada setiap orang saya bercerita, dia salah satu orang yang menyimpan rapi cerita-cerita saya. Nah, dalam perbincangan tersebut kami berbagi cerita tentang menulis. Saya bilang, jari-jari saya ini tak selincah dulu di atas keyboard laptop. Hihihi. Saya bilang salah satu alasannya adalah saya belum menemukan posisi wueenaaak alias PW untuk menulis. Dan dia bilang itu hanya cari-cari alasan. Saya tertawa, lantaran tudingannya itu benar.

Tanpa pikir panjang saya memesan satu karyanya. Kawan saya bertanya untuk apa? Apalagi buku yang ditulisnya itu nggak ada hubungan dengan latar belakang saya selama ini. Saya hanya menjawab singkat,”Kanggo tondo tresnoku marang sliramu,” (untuk tanda cintaku pada dirimu). Demikian saya bilang padanya. Dan dia hanya terkekeh mengetahui jawaban saya.

Lima belas tahun saya berkawan dengannya. Bukan waktu yang sebentar untuk kami saling berbagi apa saja. Sepuluh tahun kami terpisah jarak. Ketika saya memutuskan untuk bekerja di luar Yogyakarta dan menyusul dia meninggalkan Yogyakarta. Kangen? Jelas… jika ada kesempatan bertemu waktu satu atau dua jam nggak pernah cukup buat kami berbagi cerita.

Membuka buku karyanya membuat saya senyum-senyum sendiri. Pasalnya banyak foto dia sedang berinteraksi dengan murid-muridnya. Entah kenapa saya membayangkan dulu ketika dia mengajarkan lagu bebek-ayam dan kepiting cina kepada mahasiswa baru yang badannya segede gaban.

Berikut ini kata-kata mutiara yang ditulisnya untuk saya, “Kita dibesarkan dengan satu mantra sakral. Cerita seru kita berakar dari satu mantra sakral, walaupun terpisah jarak. Kita tetap menyatu dalam satu mantra sakral. Dan satu mantra sakral itu adalah ‘Membaca dan Menulis.Titik’.

IMG-20171120-WA0003

Dipublikasi di Ekspresi, essaylepas, Sahabat | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Kisah Si Papah Pemersatu Netizen

setnov_tidur

foto: istimewa

Nama dan wajahnya kerap kali muncul di media. Sepekan belakangan namanya kembali mencuat, lantaran lembaga antirasuah kembali menetapkannya sebagai tersangka. Siapa lagi kalau bukan Setya Novanto, sang ketua dewan yang terhormat.   Bukan hanya muncul di pemberitaan, Novanto juga kerap jadi objek meme. Bahkan Novanto melaporkan para pembuat meme tentang dirinya ke polisi.

Pertengahan pekan lalu, Novanto sukses bikin saya tidur larut. Lantaran KPK mendatangi rumah Novanto dan berniat menjemput paksa si empunya rumah. Itung-itung nostalgia pekerjaan lama, saya pantengi berita sampai larut malam.  Namun, KPK gagal membawa Novanto malam itu. Sehari berselang beredar kabar kalau Novanto akan menyerahkan diri ke KPK. Pewarta pun bersiap, menjemput kedatangan Novanto. Bukan Novanto yang datang, tetapi kabar kecelakaan lalu lintas yang dialaminya yang datang.

Pengacara bilang, mobil yang membawa Novanto menabrak tiang listrik (belakangan diketahui yang ditabrak adalah tiang lampu penerangan jalam umum). Kepada wartawan, pengacara bilang, kalau kecelakaan parah tersebut menyebabkan pelipis Novanto benjol segede bakpao. Bukannya berempati, warganet malah menduga ini adah drama baru yang dimainkan Novanto.

Warganet memang dibikin terhibur beberapa hari belakangan, pasalnya dari kejadian itu muncul orang-orang kreatif yang bikin acung jempol. Apa saja sih?

  1. Kritik lewat komik yang menghibur
Komik Desta

sumber: facebook/narayarukii

 

 

  1. Jadi trending topic

Sudah bisa ditebak, drama si Papa ini jadi buah bibir di dunia maya. Tagar #Indonesiamencaripapa dan #Savetianglistrik sempat menjadi trending topic. Berikut cuplikan kicauan warganet yang menghibur.

 

  1. Papa ternyata bikin adem timeline
Screenshot_2017-11-16-12-58-24-039_com.android.chrome

foto: istimewa

Timeline media sosial yang biasanya panas dan berisi ujaran saling sindir beberapa hari kemarin mendadak adem dan menyajikan hiburan segar. Mereka yang biasanya beda pendapat satu suara soal si papah.

 

  1. Ada saja cara bakul online untuk mempromosikaan barang dagangannya

Bukan hanya pesaing Toyota yang memanfaatkan momen ini sebagai ajang promosi. Bakul sprei pun memajang sprei yang bermotif sama dengan yang dipakai papah di rumah sakit. Wow kreatif!

daihatsu

foto: istimewa

 

Kendati demikian pihak Daihatsu sepertinya telah menyunting postingan tersebut.

 

  1. Ada game tiang listrik
IMG-20171117-WA0017

foto: dokumen pribadi

Bukan hanya bakul online yang kreatif, para pembuat game pun sigap mengambil kesempatan. Mereka membuat game tiang listrik yang bisa diunduh di playstore. Saya iseng mengunduh dan memainkannya, hasilnya memang nggak mudah untuk menabrak tiang listrik. Saya hanya berhasil sekali, dari tiga kali kesempatan yang diberikan.

Ada-ada saja kreativitas orang Indonesia menanggapi peristiwa pekan lalu yang sukses memberikan tontonan yang cukup menghibur.  Tulisan iseng ini jangan dianggap serius.

 

 

Dipublikasi di essaylepas, hot issue | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Rina Nose, Jilbab, dan Hak Pribadi yang Terusik

Saya termasuk orang yang mengagumi Rina Nose ketika dia memutuskan untuk berjilbab beberapa waktu lalu. Gaya jilbab yang dipilihnya sederhana, nggak neko-neko. Rina, di mata saya terlihat lebih anggun dan asyik berjilbab. Lama saya tak memperhatikan kehidupan Rina Nose, maklum saya termasuk orang yang jarang kepo kehidupan selebriti kecuali kalau sedang heboh dan ramai diperbincangkan. Follow akun Instagramnya pun tidak.

rina nose 2

youtube.com

Sepekan terakhir Rina Nose kembali bikin heboh, lagi-lagi karena jilbabnya. Si Periang itu memutuskan untuk melepas hijabnya. Ada apa? Rina Nose tak bilang blak-blakan. Bahkan dalam wawancara ekslusif dengan Dedy Corbuzer di UCeleb talk, beberapa waktu Rina tak menjawab gamblang. Dia menuliskan alasannya di buku catatan Dedy. Namun Dedy tak membacakannya.”Lo tahu kalau gua nggak mungkin ngomong ini kan?” ujar Dedy, disertai anggukan Rina Nose.

Rina Nose sepertinya ingin menutup rapat alasannya melepas hijab. Sangat pribadi dan sangat Rahasia. Tak tanggung-tanggung 125.000 komentar memenuhi laman Insatgramnya. Rina bilang, nggak semua negatif, Ada juga menguatkannya pada laman Instagramnya. ”Meski bukan berarti mereka membenarkan apa yang aku lakukan, tapi mereka tahu saya sedang down dan ini keputusan berat,” kata Rina, dikutip dari wawancara dengan Deddy Corbuzier, di Ucelebtalk beberapa waktu lalu.

Rina Nose

dream.co.id

Saya yakin bukan perkara mudah bagi Rina untuk memutuskan hal ini. Butuh waktu yang panjang baginya sampai pada keputusan, melepas hijab. Itu terlihat dari ekspresi Rina dan gaya bicara Rina yang cenderung hati-hati. Berbanding terbalik dengan Rina yang biasa kita lihat di televisi. Rina pun mengatakan hal itu, butuh enam bulan baginya untuk mencari dan mempertimbangkan banyak hal. Rina pun menyadari banyak konsekuensi dan risiko yang harus ditanggungnya. Bukan saja dia, tetapi juga kedua orangtuanya.

Saya teringat seorang kawan yang dulu berjilbab, lalu bertemu dengan saya dia melepas jilbabnya. Saya sudah bisa mengira-ira dia bakal melepas jilbab, karena kantor tempatnya bekerja memang tidak memberikan izin kepada karyawan perempuan untuk berjilbab. Kami berbincang lama di sebuah kafe di bilangan Jakarta Selatan. Sampai di tengah perbincangan dia bilang seperti ini,”Mbak, kamu nggak tanya kenapa aku lepas jilbab?” katanya. Saya tertegun, mendengar pertanyaannya. Lalu saya tertawa. ‘Kok malah ketawa mba?”. Bagi saya pertanyaan dia itu lucu, karena saya tidak pernah mengusik urusan orang lain termasuk kenapa dia melepas jilbabnya.

“Itu hak kamu, mau berjilbab atau enggak,” saya hanya menjawab demikian padanya. Dia tersenyum. Lalu bilang lagi,”Makasih mba, tapi jangan bilang teman-teman ya kalau aku lepas jilbab,” kata dia. Saya kembali tertawa dan menimpali,”Kurang kerjaan bilang ke teman-teman kalau kamu lepas jilbab”. Bukan cuma Rina Nose yang kalangan selebriti saja yang resah dan harus menyiapkan mental ketika melepas jilbab. Kawan saya yang hanya pekerja kantoran juga resah dan perlu menyiapkan mental ketika melepas jilbab. Dia tahu konsekuensinya ketika melepas jilbab, akan muncul banyak pertanyaaan,”Apa alasannya?”

Belum lagi banyak orang yang grenengan alias membatin di belakang,”Kok dia lepas jilbab sih?” “Ih, sayang ya, padahal lebih cantik berjilbab lho,” atau komentar lainnya “Pindah agama ya?” dan segudang komentar beragam lainnya yang bikin ingin tutup telinga.

Benar atau salah, tepat atau tidak, bagi saya melepas jilbab adalah hak pribadi seseorang. Termasuk ketika seseorang memutuskan untuk mengubah gaya jilbabnya, itupun hak pribadinya yang tak bisa seorangpun mengusik bahkan menghujatnya.

Saya pun pernah dibikin terkejut oleh seorang kawan yang tiba-tiba melepas jilbab. Bukan karena alasan atau keputusannya, tetapi karena saya pangling. Tiba—tiba seseorang memanggil saya dan kemudian memeluk saya erat. Saya butuh beberapa detik untuk mengenalinya. Dan saya tidak menanyakan alasannya, hanya bilang,”Pangling, gue pikir siapa,” dan dia pun tertawa terbahak.

Ada juga seorang kawan yang semula berjilbab biasa lalu tiba-tiba bercadar. Saya menghakiminya? Atau bertanya alasannya? Sejujurnya ada pertanyaan itu dalam hati dan ingin mencari tahu, tapi niat itu saya urungkan karena bagi saya itu adalah hak dan keyakinannya.

Bagi saya memakai atau melepas jilbab adalah hak seseorang. Alasan pekerjaan, keyakinan, atau apa saja saya tetap menghargai mereka sebagai kawan.   Seperti halnya saya menghargai setiap orang yang memutuskan untuk memakai jilbab dengan gaya apa saja. Saya yakin mereka memutuskan itu semua tidak dengan mudah. Termasuk Rina Nose, yang pada akhirnya mematikan komentar di laman Instagramnya.

Dipublikasi di artis, Uncategorized | Tag , , , , | Meninggalkan komentar