Menabung Itu nggak Harus di Bank, Ini Cara Lainnya

istimewa

Suatu hari seorang teman mengirimkan pendek. Begini lebih kurang bbunyinya,”Mbak, kalau ada duit satu juta, mending buka tabungan emas atau beli kalung emas ya?” Saya jawab,” buka tabungan emas”. Maklum, ketika itu saya sedang getol-getolnya menabung emas. New bie begitu ceritanya.

Kok tiba-tiba tertarik menabung emas? Sebetulnya sudah sejak lama saya tahu, kalau menabung emas itu disarankan untuk jangka panjang karena tidak tergerus inflasi. Waktu itu saya sempat tanya kanan kiri, kemudian menghitung dana yang saya saya punya, dan saya putuskan,”Nggak berani,” hahahahaha. Padahal kalau mau diniatkan sih sebetulnya bisa saja. Hehehe.

Setelah menikah, barulah saya berpikir tentang menabung secara serius. Saya coba memperhitungkan, kalau kita biarkan uang di bank, lama kelamaan akan habis terpotong biaya administrasi dan macam-macam. Jumlahnya nggak main-main cuy.  Kalau kata teman saya,”Rasanya pengen nangis, kalau ngitung biaya admin bank”.  Saya mencoba mencari tahu, akhirnya menemukan salah satu instrumen menabung emas yang cocok, yaitu menabung emas di pegadaian. Selain terjangkau biaya administrasinya juga murah.  

Saya mulai mencari tahu, di mana pegadaian paling dekat dan mudah dijangkau oleh saya sendiri. Maklum ketika hari kerja, kalau mau pergi ya harus sendiri. Selain itu saya juga nggak berani pergi jauh sendiri (jiriihh). Alhamdulillah ada pegadaian di dekat rumah, lebih tepatnya dekat pasar tempat saya biasa belanja.

Ketika pertama kali membuka rekening, saya putuskan menabung Rp150.000.  Kalau nggak salah sih, pembukaan pertama yang ditetapkan pegadaian sekitar Rp55.000. Sejak itu saya niatkan bisa menabung emas setiap bulan. Besarnya? Rahasiyaaa…pastinya saya sisihkan dari sisa uang belanja dan juga penghasilan saya yang nggak seberapa. Ya, pokoknya setiap bulan diusahakan ada nominal yang masuk, berapapun. Boleh lho, bikin target pribadi, misal satu gram emas setiap bulan. Kalau dari pegadaian sih, tidak menetapkan besaran tabungan. Sama seperti menabung di bank.

Salah satu tujuan adalah menabung untuk jangka panjang, meminjam istilah orba, rencana pembangunan lima tahun (repelita) hahahahaha. Misalnya, untuk pendidikan Anak.Kalau belum ada anaknya? Ya, nggak salah kan jika dipersiapkan dari sekarang. Atau utnuk tabungan persiapan haji, bisa juga menggunakan tabungan emas. Nilai emas juga cenderung naik lho, dan dari situlah keuntungan yang bisa didapat.

Jika malas ke pegadaian, ada juga fasilitas transfer atau setor melalui m-banking, tetapi hanya bank tertentu saja. Kalau saya lebih suka datang langsung ke pegadaian, karena kita akan melihat buku tabungan dicetak dan tentu saja tertera nominal. Rasanya bikin makin semangat untuk nabung dan nabung.

Ohiya, menabung emas juga nggak harus di pegadaian. Ada beberapa cara. Ini sih cara yang menurut saya terjangkau. Bisa juga membeli emas batangan, namun jika ingin harga lebihh murah tentu harus membeli emas dengan nominal lebih besar. Kan syedddih kalau uangnya belum cukup.

Menabung emas membuat saya rutin mengontrol harga emas, padahal sih tabungan nggak seberapa. Kalau pas harga turun, rasanya ingin segera menabung. Padahal konsep menabung tidak seperti itu, berapapun harga emas, kalau diniatkan menabung  ya sudah setoran saja. Hasilnya memang untuk jangka panjang.

Lalu, boleh nggak  intip harga emas? Tentu boleh lah.  sebagai investor wajib hukumnya mengetahui kisaran harga. Hahaha, siapa tahu sudah cuan alias untung. Ketika orang lain datang ke pegadaian untuk gadai atau tebus, kita datang ke pegadaian untuk menabung emas.

Ohiya, satu lagi salah satu keuntungan menabung emas adalah keinginan untuk belanja online berkurang jauh, apalagi untuk barang printilan yang hanya lapar mata.  Jadi saya sudah nggak mantengin flash sale lagi juga nggak tergiur dengan iming-iming harbolnas akhir tahun kemarin. Tapi tetap nggak bisa lepas dari godaan beli buku. Kok bisa nggak tergiur belanja online? Karena saya selalu berpikir,”Harga barang ini, kalau ditabungkan emas jadi berapa gram ya?”. Hehehehe. Nggak percaya? Coba saja

Iklan
Dipublikasi di essaylepas | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Siapa Bilang Diet Plastik Itu Sulit?

belanja di pasar tanpa kantong plastik

Belakangan bisa dibilang saya getol untuk diet kantong plastik. Sebetulnya sudah lama, tapi ya masih angot-angotan karena terkadang suka lupa bawa tas belanja. Lalu dari kejadian demi kejadian, yang menunjukkan fakta bahwa memang Indonesia ini darurat sampah plastik. Menteri Perikanan Susi Pudjiastuti pernah mengatakan bahwa Indonesia adalah negara kedua terbesar penyumbang sampah plastik.

Berdasar data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), dikutip dari kompas.com, ada 64 juta ton per tahun sampah plastik di Indonesia dan sebanyak 3,2 juta ton adalah sampah plastik yang dibuang ke laut. Sementara itu kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 miliar lembar per tahun atau sekitar 85.000 kantong plastik.

Memang sih, kita sudah membuang sampah di tempatnya tetapi setelah diangkut truk sampah, apa kita pernah tahu? Saya mengalaminya di lingkungan tempat tinggal Kebetulan selokan air di depan rumah itu tersumbat, singkat cerita setelah dibongkar ada lebih dari 20 botol minuman kemasan tersumbat di sana. Belum termasuk sampah-sampah minuman gelas lainnya yang memenuhi selokan. Saya rasanya harus marah tapi nggak tahu marah sama siapa. Padahal sampah saya juga bukan. Peristiwa itulah yang membuat saya membulatkan tekad untuk mengurangi penggunaan plastik.

Semula saya mencoba hanya membutuhkan satu kantong plastik ketika belanja dan semua belanjaan nyemplung di situ, kemudian bawa tas sendiri tapi masih pakai kantong plastik kecil untuk wadang bawang, cabe, dan lain-lain. Sampai kemudian berusaha tanpa kantong plastik ketika belanja baik ke supermarket, pasar, bahkan ke warung tetangga.

Ada seorang kawan yang pesimis.”Mana bisa, kalau ke pasar kita beli ikan pasti dikasih kantong plastik,” kata dia. Ucapan itu membuat saya terhenyak dan berpikir, apa tidak ada alternatif lain. Lalu saya iseng-iseng mencoba bawa kotak sendiri ketika beli ayam atau ikan. Mulanya penjual masih terlihat gagap. Mereka kekeuh menawarkan kantong plastik. Hadeeeuh, saya tolak dong. “Basah mbak tasnya,” kata si penjual. “Nggak apa-apa Pak, nanti juga kering,” jawab saya. Sekarang, penjual ikan dan ayam langganan saya di pasar sudah hafal kebiasaan saya. Alhamdulillah senang.

beli ikan di pasar pakai kotak sendiri.

Postingan seorang kawan membuat kantong belanja dari kerudung yang sudah tak lagi terpakai, menginspirasi saya. Lalu saya bongkar-bongkar jilbab lama, dan taraaaaa.. saya bikin kantong untuk wadah bumbu dapur, cabe, dan bawang ketika belanja. Komentar para penjual juga beragam.”Ih cantik kali kantongnya, ini bikin sendiri?” tanya ibu penjual bawang di pasar. Saya mesem-mesem. ”Iya bu,” jawab saya. Duh padahal andai ibu tahu, saya jahitnya ngasal dan penuh perjuangan pakai tusuk jait bermacam-macam mulai dari silang, jelujur, sampai tikam jejak, pokoke nyambung lah. Hahahahaha.

kantong bawang/cabe alakadarnya kreasi sendir

Penjual lain komentar,”Sayang mbak, nanti kotor ini”. Kebetulan saya pakai kantong warna putih. “Nggak apa-apa Pak, nanti bisa dicuci kalau kotor,” jawab saya. Akhirnya si penjual mengalah. “Masuk sini semua mba?Emang cukup” kata penjual lain. “Insya Allah cukup Bu, kalau nggak cukup tenang, saya ada kantong lain,” jawab saya sembari ngubek-ngubek tas nyari kantong ajaib lainnya. “Kenapa sih mba kok nggak mau pakai kantong plastik, aneh banget,” kata penjual lainnya. “Biar nggak nambah volume sampah Bu,” jawab saya.

“Ibue go green yo?” kata mas penjual sayur berlogat ngapak tanggung. Lain waktu, saya belanja lagi. Si penjual sayur ini sudah mafhum. Suatu hari, saya berbelanja. Eh, si mas ngapak ini ambil plastik. Spontan saya teriak,”Ora nganggo plastik, Mas”.

“Iya, ngarti. Nggo ibune kuwe,” kata dia sambil menunjuk ibu-ibu lain di depan saya. Hahahahaha.

Rejeki saya, ketika dihitung eh saya diberi diskon. Lumayan tiga ribu rupiah. Si penjual sayur bilang,”Udah hemat kantong, diskon tiga ribu”. Alhamdulillah, asal yang ngasih diskon penjual artinya halal.  

Biar Ribet , Patut Dicoba

Buat apa mbak, kotaknya banyak banget,” kata penjual tahu yang saya datangi pagi itu. Saya jawab,”Ya biar nggak pakai plastik bu, nggak nyampah,” kata saya. Coba ya, bayangkan saja kalau saya beli tahu di tukang tahu langganan itu si ibu ngasih kresek dobel belum lagi kemasan tahunya. Sebetulnya, kalau datang agak pagi bisa dapat tahu tanpa kemasan tapi karena kesiangan ya saya  cuma bisa beli tanpa kantong plastik saja. 

Ribet ya, mau belanja ke pasar saja pakai macam-macam bawaannya. Untuk mencoba lebih ramah terhadap bumi, nggak ada salahnya dicoba. Memang sih belum seutuhnya terbebas dari plastik, tetapi jika tidak dimulai mau kapan lagi?

Seorang teman pernah bilang ke saya,”Saya pengen, tapi kok rasanya sulit ya”. Itu karena kamu nggak pernah mencoba. Jadi sulit terus. Seperti halnya  tesis atau skripsi, nggak akan pernah selesai kalau hanya dipikirkan terus. Mau selesai, ya ditulis dan dikerjakan. Sesederhana itu.

Keribetan saya nggak hanya di pasar saja. Tetapi juga ketika belanja di supermarket. Saya bawa tas belanja sendiri, yang sering bikin si kasir bingung. Pernah saya sodorkan tas belanja, lalu si kasir malah ambik kresek dan memasukkan belanjaan saya ke kresek, lalu baru dimasukkan ke tas belanja. Saya bilang,”Mbak, langsung saja masuk ke tas itu, nggak perlu pakai kresek”. Baru dia paham dan memasukkan belanjaan ke tas belanja.

Kejadian ini bukan untuk pertama kalinya. Pernah juga si mas kasir malah bengong, dan memandang takjub tas belanja saya. Mungkin karena unyu ya, kuning bunga-bunga gitu. “Ini maksudnya gimana bu?” kata dia, sambil membolak-balikan tas belanja saya. “Nggak usah pakai kresek Mas, langsung masukkan situ saja,” kata saya. Padahal sebelumnya saya sudah bilang, “Pakai ini ya Mas”. Miris ya, padahal ritel-ritel itu menjual kantong belanja reuseable juga.

beli buah di supermarket bawa kantong sendiri

Ohiya saya juga pernah mencoba belanja buah di supermarket pakai kantong sendiri. Ini memang iseng nyoba, seramah apa mereka. Semula si mas di bagian timbangan sudah mengambil plastik.

“Nggak usah pakai plastik Mas, ini saja kalau boleh,”kata saya.

Si mas bingung. Untung temannya satu lagi paham, dan langsung mengangguk tanda setuju.”Boleh bu, nggak apa-apa,” kata dia. Si mas yang pertama ini bingung.”Nanti kalau dimarahi gimana?” tanyanya. “Nggak, nggak apa-apa,” kata temannya satu lagi. So, apa alasanmu untuk nggak mencoba diet kantong plastik. Nggak punya kotak? Ya belilah, nggak harus merek tupperware kok, Merek lain asal nutup rapat juga oke. Nggak punya kantong belanja? Ya belilah..harganya juga nggak mahal kok, nggak perlu jual alun-alun. Hehehehe.

Ohiya, ada pertanyaan lagi.”Buang sampah gimana? Saya baru saja mencoba telo bag, alias plastik dari pati singkong. Harganya  belum bersahabat, kemarin saya beli waktu kebetulan ada promo ongkir belanja Rp 22 rb di shopee. Jadi lumayankan yeee… ehehehehe.

Sebetulnya ada banyak cara untuk meminimalisir sampah. Ini yang belum saya coba dan ingin saya coba. Yaitu memilah sampah organik dan anorganik. Sampah organik diolah menjadi komposter (saya sedang belajar cara bikinnya) kemudian sampah anorganik bisa diolah menjadi bahan tepat guna lainya. Botol-botol kopi misalnya, saya manfaatkan untuk bikin sunlight oplosan. Jadi apapun itu bisa bermanfaat dan nggak hanya berakhir di tempat sampah.

Dipublikasi di essaylepas | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Apa Rasanya 62 Jam Tanpa Air Mengalir di Rumah

air 1

Kali ini saya mau bercerita tentang apa rasanya tanpa air mengalir di rumah selama 62 jam. Jadi begini, ini cerita saya sebagai perantau baru. Cerita ini berawal hari Kamis (15/11) kemarin.  Sekitar pukul 08.00, saya ke kamar mandi dan menyalakan keran. Saya punya kebiasaan cek keran setiap ke kamar mandi, meski itu hanya cuci tangan atau kaki. Maklum di wilayah kami sering sekali mati air. Dan jeeng..jeng… bener, pagi itu air mengalir kecil sekali. Saya tetap hidupkan keran, meski air di ember penuh. Dan benar saja, nggak lama tidak lagi terdengar suara air mengalir dari keran.

Dua jam berselang, tak ada tanda-tanda air mengalir (lagi). Kemudian saya menghubungi CS ATB (perusahaan air di Batam), CS bilang bahwa debit air di perumahan tempat tinggal saya sedang tidak normal karena masih ada beberapa rumah yang mengalir. Saya diminta menunggu, baeeeklaah saya mah udah biasa nunggu. Dua jam berselang nggak ada tanda-tanda juga. Saya coba hubungi lagi, daaan ternyata ada pipa atb segede gaban kena garuk alat berat. Ini bukan pertama kali terjadi, mulai dari pipa kecil sampai pipa yang muat untuk saya ngumpet.

Lalu, beredarlah informasi di media sosial dan juga pesan pendek, bahwa perbaikan sedang dilakukan dan akan selesai pada pukul 24.00. Saya masih merasa ‘tenang’ karena masih punya persediaan air satu ember gede (lebih tepatnya mencoba tenang, karena kalau marah juga nggak simsalabim air ngalir). Ternyata kenyataan tak semanis harapan, estimasi pekerjaan perbaikan selesai jam 24.00 mundur jadi jam 05.00 (hari Jumat) dan mundur lagi jam 15.00 atau pukul 17.00. Ternyata masih kena PHP dan estimasi pekerjaan selesai baru pukul 23.00.

Legaaaa banget waktu ada informasi kalau pekerjaan sudah selesai. Air diperkirakan nyala jam 01.00 baeeklaaah. Saya gak tidur, buka lapak di depan tv nunggu babi ngepet eh nunggu air nyala sambil jaga lilin.  Tapi ternyata belum nyala juga. Daan ternyata untuk pemulihan air itu butuh waktu hampir 24 jam. Lelaah hayati…

Nah, lalu apa rasanya 62 jam tanpa air mengalir di rumah?

Jumat pagi mulai panik.  Untuk antisipasi, suami berinisiatif beli galon, iyaa beli galon bukan isi ulang. Horaang kayaaah. Nggak apa-apa deh, mau gimana lagi. Nggak punya pilihan, karena depot air langganan pun sudah kehabisan stok air. Jumat seharian itu saya pakai air super irit, selesai buang air kecil,kamar mandi langsung saya semprot pakai campuran air dan karbol yang kebetulan selalu ready.

Suami pun saya wanti-wanti ketika mandi pagi,”Boleh mandi tapi nggak boleh lebih dari empat gayung atau setengah ember.” Hehehehehe (sadiiss). Sore hari saya ada kondangan, tapi air belum juga mengalir. Mandi bebek dengan empat gayung pun saya jabanin.

Jumat malam, saya sudah mulai risih, panggilan alam pun tak dapat dibendung. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke masjid yang memang agak jauh dari rumah, dan pastinya tidak di wilayah terdampak mati air. Saya bawa handuk kecil dan sabun..hihihi siapa tahu bisa numpang mandi.  Alhamdulillah badan bisa kena air rada banyak dan lebih segar.

Sampai di rumah, berharap air sudah mengalir ternyata sama juga belum ada air setetes pun sodara-sodara. Saya cek media sosial, beredar informasi kalau pekerjaan perbaikan pipa bocor segede gaban itu sudah selesai kali ini nggak PHP. Alhamdulillaaah saya lega banget dan tentu saja berharap air mengalir dini hari atau subuh. Tetapi sama juga, kami kena PHP lagi cyiin…harapan tinggal harapan, sampai menjelang adzan subuh tak setetespun. Saya yang tertidur di depan tv dibangunkan oleh suami dan mengajak (lagi) ke masjid yang semalam kami sambangi. Tanpa cuci muka (mau cuci muka pakai apa juga) , cuss kami menembus hawa dingin pagi menuju masjid. Alhamdulilah, badan kena air sedikit (meski nggak mandi) yang penting bersih-bersih.

air 33

Pantau grup WA emak-emak kompleks, ada yang bilang kalau air di rumahnya sudah mengalir. Dengan tingkat optimis yang tinggi, saya pun pulang dan membatalkan niat ke pasar dan setia menunggu air datang. Dan lagi-lagi kecewa, karena air tak setetespun mengalir sampai jam 10.00 di hari Sabtu. Pagi hari sempat hujan deras, saya buru-biri mengeluarkan ember untuk menampung air hujan. Lumayan lah, bisa untuk cuci kaki. Saya coba hubungi CS ATB, mereka kembali meminta maaf dan meminta saya bersabar karena air dalam tahap normalisasi. Tenang stok sabar saya masih banyaaaaak.

Iya sih saya paham, di waktu yang bersamaan orang buka keran perjalanan air mampir-mampir dulu di keran yang telah terbuka ini dan mengisi bak dan juga tandon yang kosong. Kalau Cuma satu-dua rumah tidak masalah, tapi ini ada puluhan mungkin juga ratusan rumah. Hikss…

Kami memutuskan untuk pergi ke masjid (lagi)  tapi ini bukan yang semalam atau sabtu subuh. Kami pun numpang mandi (lagi) di masjid hihihihi. Menjelang sore, pulang ke rumah berharap sudah mengalir, lagi-lagi  kami kena PHP,  air belum juga menyalaaa. Sampai akhirnya ada tetangga baik hati yang menawarkan air, kebetulan di rumahnya sudah mengalir lancar. Alhamdulillah, ada banyak orang baik di sekeliling kami.

Air baru mengalir jam 10 malam, ketika kamu sudah pergi (lagi) untuk menghilangkan bete air tak kunjung mengalir. “Daripada suntuk ayo jalan-jalan.” kata suami saya. Begitu menyala saya nyalakan keran depan (nampung air di galon) dan keran kamar mandi. Intinya semua tampungan di depan dan belakang langsung diisi semua. Drama queen air mati selesai sudah setelah genap 62 jam air tidak mengalir di rumah.

Siapa saja yang mengalami ini punya banyak cerita. Mulai yang pasrah dan milih tidur, sampai rela ambil air di daerah yang jauh. Hihhi. Selalu ada hikmah dari setiap peristiwa. Jadi, hadapi ini dengan senyuman aja. Asal nggak lupa pastikan semua tampungan penuh selama air mengalir. Kedua, pastikan air galon terisi terus, jangan biarkan kosong. Untuk jaga-jaga, ketimbang beli galon (lagi) mahaaal cyiiiiiinn. Ketiga jangan malas-malasan cuci piring kalau nggak pengen cucian numpuk ketika mati air.  Tentu saja, jangan lupa guyon dengan teman senasib sepenanggungan biar nggak merana.

Saya jadi merenung, apa kabar ya, mereka yang nyaris tanpa air bersih di belahan bumi manapun. Jadi harus lebih banyak bersyukur dan tak mudah buang-buang air bersih, karena setiap tetesnya sangat berharga.

Dipublikasi di curcol, essaylepas, Uncategorized | Tag , , , , , | 17 Komentar

Tips Keuangan Untuk Pekerja Pemula Ibu Kota ala Saya

kafe

istimewa

Beberapa waktu lalu tagar #crazyrichsurabayan menjadi viral di media sosial. Usut punya usut ternyata tagar tersebut bermula dari film Crazy Rich Asian yang sedang tayang di bioskop.Cukup menggelitik dan bikin ngakak sih, penggalan cuitan di Twiiter terkait #crazyrichsurabayan. Seolah tak mau kalah muncullah cuitan tandingan dengan tagar #crazypoorasian. Hihi. Nggak lalah lucu dengan tagar sebelumnya, bikin ngakak dan ada-ada saja.

Saya pun pernah mengalami sebagai #crazypoorasian. Sebagai pekerja pemula, dulu sekitar tahun 2008 dengan gaji minimal dan pekerjaan yang menghabiskan waktu di jalan, membuat saya harus pintar-pintar putar otak. Agar tetap bisa bertahan tanpa harus ngutang atau minta transferan orangtua.

Setiap orang punya pengalaman yang berbeda ya. Tulisan ini adalah bagian dari pengalaman saya hidup irit ala pekerja pemula di ibu kota dengan gaji minimal.

Lalu apa saja yang pernah saya lakukan agar tetap bertahan dengan gaji pas-pasan kala itu? Berikut ini tips singkat untuk pekerja pemula agar tetap bisa hidup kendati gaji minim.

1.Setia gunakan angkutan umum

Jika tidak ada kendaraan pribadi maka alternatifnya adalah kendaraan umum. Nah, sebisa mungkin sering-seringlah naik angkutan umum ketimbang ojek apalagi taksi. Beruntung sekarang ada ojek online, tetapi sepertinya naik angkutan umum tetap lebih murah.

2. Sedia lauk kering dan masak sendiri

Salah satu siasat tetap hidup hemat adalah masak sendiri. Meski hanya masak nasi saja. Dulu saya selalu dibekali lauk kering seperti kering tempe dan abon oleh ibu saya. Lalu, saya membeli ricecooker mini untuk modal hidup hemat. Beli beras pun tak langsung banyak. Cukup seliter (kalau di Jakarta) atau perkilo saja. Ini akan lebih hemat dan ekonomis. Bayangkan saja, kalau beli lima kilo sekaligus dan terlalu lama digunakan bisa-bisa beras kutuan, apek, dan akhirnya tidak dipakai.

Sekali waktu bisa juga masak sendiri. Saya selalu cari kos yang ada dapur dan bisa masak. Meski memasak hanya satu-dua kali setiap minggu. Beli lauk matang di warteg bisa lebih hemat, karena satu porsi bisa dua kali makan. Atau sharing dengan teman kos.

IMG_20170119_185036_HDR (1)

3. Kurangi jajan

Saya pernah mencatat pengeluaran bulanan. Ternyata paling banyak pengeluaran adalah jajan. Jadi, saya coba kurangi jajan (bukan nggak jajan sama sekali ya) misal membeli makanan atau camilan dua atau tiga hari sekali. Dan jangan lapar mata. Duh ini yang berat. Hahahaha.

4. Sisihkan gaji di awal

Begitu terima gaji sisihkan paling tidak 5-10 persen dan masukkan ke rekening berbeda. Ini berfungsi sebagai tabungan sekaligus dana cadangan. Namun, sebaiknya jangan diganggu gugat jika tidak benar-benar darurat. Ini belum termasuk investasi jangka panjang ya. Hehehe.

5. Prioritaskan kebutuhan pokok

Jika kamu hidup merantau pasti tahu, apa saja kebutuhan pokok yang wajib dibayarkan. Misal uang kos, zakat/sedekah. Nah prioritaskan dua hal ini. Setelah itu baru bikin skala prioritas dan rencana anggaran di bulan tersebut. Memang kedisiplinan diperlukan untuk menghindari utang dan minta transferan orangtua. Malu euy, sudah kerja masih minta transferan.

Jika kamu pekerja pemula ibu kota, apa siasatmu?

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | 12 Komentar

Ini Cara Biar Rekeningmu Gendut di Tanggal Tua

celengan-babi

Saya pernah menjadi pekerja yang mendapatkan gaji tiap bulannya. Sejak tidak lagi mengajukan anggaran ke orang tua, saya berusaha untuk menyiasati pengeluaran setiap bulan agar tidak defisit. Tidak sampai utang ke orang lain. Meski sering di akhir bulan itu pas-pasan, artinya tidak ada sisa alias saldo minimal di rekening. Hikss syediiih.

Ketika bekerja di Jakarta, saya lebih banyak hidup di jalan, ketimbang merasakan kursi dan dinginnya AC kantor. Bahkan saking jarangnya ngantor saya sampai nggak tahu teman kantor selain satu desk atau bagian  dengan saya. Pernah suatu ketika duduk sebelahan dengan mbak-mbak yang ternyata dia sudah bekerja lama di kantor saya. Sedangkan saya enggak kenal blas. Hahahaha.

Nah, soal gaji nih seringkali pekerja milenial sekarang ini merasa kurang meskipun gaji lebih dari cukup. Saya bukan orang yang pinter-pinter amat menyisihkan uang, mencoba beberapa kali mengatur keuangan ala financial planner. Hasilnya? Berhasil sih, tapi beberapa bulan saja. Hahahaha. Eitss nggak masalah, saya akan berusaha terus untuk mengatur keuangan. Apalagi sekarang ini kebutuhan hidup dan harga makin mahal.

Nah, berikut ini cara yang pernah saya lakukan untuk menyiasati gaji biar cukup dan nggak utang

1. Bayarkan dulu yang jadi kewajiban

Jika kamu anak kos atau kontrak rumah, tentu hal pertama yang harus dipenuhi adalah biaya sewa tempat tinggal. Atau jika kamu sudah mengajukan kredit rumah pastikanperioritaskan utang dulu. Kalau bayar kosnya tahunan bagaimana? Bayar kos tahunan atau pertiga bulan,bukan berarti kamu tidak menyisihkan biaya setiap gajiankan? Kendati hitungannya lebih murah, kamu tetap harus menyisihkan uang untuk kos atau sewa rumah. Nggak perlu full, bisa separuh atau sepertiganya sehingga tidak berat ketika harus mengeluarkan biaya tahunan dalam jumlah besar.

2. Jauhi kartu kredit

Bukan cuma kredit KPR yang mencekik. Kartu kredit yang dibilang untuk memudahkan justru bisa mempersulit kamu. Apalagi sekarang banyak tawaran kartu kredit dengan berbagai iming-iming. Saran saya abaikan saja kalau memang belum mampu berutang.

3. Tabungan atau investasi?

Nah, ini yang seringkali bingung. Dulu waktu kecil kita didoktrin menabung untuk masa depan. Ya kali, waktu itu belum ada mbanking, marketplace, dan segala macam surga  belanja online. Prinsipnya mungkin diubah, menabung untuk belanja dan piknik, investasi untuk masa depan.  Jadi menabung itu untuk keperluan jangka pendek dan investasi untuk jangka panjang. Hahaha. Saya sih berprinsip seperti itu. Oh iya, menyishkan uang untuk tabungan atau investasi sebisa mungkin jangan uang sisa di bulan ini akan tetapi targetlah berapa persen dari total pendapatan itu untuk tabungan.

IMG_20170119_185036_HDR (1)

4. Jangan banyak gaya naik taksi atau ojek

Ketika saya masih bekerja di Jakarta, seringkali merasa malas naikangkutan umum. Alasannya capek. Hahaha. Suatu ketika saya mencoba untuk tidak naik ojek ataupun taksi ketika berangkat dan pulang kerja. Ohiya waktu itu belum ada ojek online ya. Nah, sebisa mungkin kurang-kurangi deh itu pengeluaran untuk transportasi seperti ojek dan taksi. Itung-itung mengurangi kemacetan. Yekaaan? Insya Allah nanti ada rejeki untuk sopir taksi dan sopir ojek yang budiman.

Hasilnya? saya bisa menyisakan uang seperempat gaji dalam sebulan, di luar tabungan, dan aneka tagihan. Itu sudah termasuk biaya hedon (alias makan enak).

5. Uninstall marketplace

Memang bukan salah marketplace, tapi salah jari yang mencet logo marketplace #eh. Salah satu cara agar  kita tidak boros adalah tidak membuka marketplace.(Kitaaa? Lo aja kali Diiitt ngak usah ajak2) kwkwkwkwk. Apalagi sekarang banyak godaan diskon barang yang harganya terjun bebas, free ongkos kirim, dan lain-lain. Nah, biar jari nggak khilaf uninstall deh itu marketplace.Intinya sih, mau ada atau tidak marketplace sebisa mungkin  belajar menahan diri dari godaan belanja implusif.

 

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

Si Doel, Kisah Sederhana yang Tak Lekang Waktu

IMG_20180806_145553

 

Aseli ini bukan spoiler

Saya termasuk orang yang gembira ketika Si Doel naik ke layar lebar. Menurut saya sejauh ini cuma Si Doel, sinteron yang tak pernah bosan ditonton kendati sudah berulang kali diputar. Bagi saya guyonan dan celetukan khas pemainnya itu natural dan nggak terlalu dibuat-buat. Semua pemain punya karakter kuat. Cerita yang nggak melulu soal harta dan jabatan, kendati bagi Babe Sabeni kerja kantoran adalah harga mati untuk ukuran sukses.

Sederhana. Itu adalah komentar pertama saya usai nonton Si Doel kemarin. Suami saya pun berujar,”Udah segini aja? Simple banget ceritanya”. Hahaha si abang kebanyakan nonton film action sih. Film ini sederhana, di luar bayangan saya. Bayangan saya, khas film Indonesia yang seringkali menye-menye apalagi diangkat dari sinetron.

Tapi ternyata kekhawatiran saya tak terbukti. Sederhana sekali film ini, sesederhana sinetronnya. Meski ada banyak pertanyaan terkait benang merah antara sinetron terakhirnya dan sekarang. Ah tapi sudahlah saya tak mau ambil pusing. Pastinya, sinetron ini menghadirkan nostalgia. Film yang mungkin dianggap receh oleh sebagian orang.”Hah…nonton Si Doel? Hahahahaha,” kata seorang kawan begitu tahu saya nonton Si Doel. “Segitu recehkah? Lalu, kamu yang hobi nonton film Hollywood atau drama Korea lebih berkelas gitu?”

Screenshot_2018-08-06-16-57-29-186_com.google.android.youtube

Sebagian besar orang Indonesia mungkin sudah tak lagi percaya dengan film karya bangsa sendiri. Pun saya. Apalagi ketika tahu siapa sutradara dan pemainnya. Pasti ini bakal menjadi bahasan panjang. Seperti Iqbal Ramadhan yang memerankan Minke. Bagi sebagian orang penggemar Dilan dan Iqbal dan tidak tahu siapa Minke, itu nggak masalah. Tetapi buat sebagian pecinta Pram, tentu ini sebuah kesalahan. Tak urung sumpah serapah dan bully-an terhadap Iqbal terus mengalir. Meski kita belum tahu sesukses apa Iqbal memerankan Minke.

Si Doel dalam layar lebar, adalah kisah sederhana, minim dialog, tetapi ada banyak adegan yang mengena. Doel kecil contohnya dialognya tak lebih dari 10 kalimat. Padahal bayangan saya, dia bakal menanyakan kenapa baru sekarang ayahnya datang? Atau ada drama ala sinetron,”Ngapain orang ini di sini Mama. Dia bukan Papaku!” (jreng jreeng diucapkan dengan bibir bergetar). Percayalah tak ada adegan seperti ini.

Screenshot_2018-08-06-16-56-31-712_com.google.android.youtube

Atau adegan ketika Sarah bertemu Doel di sebuah museum. Pertemuan suami istri setelah 14 tahun, hampir sama kayak Rangga dan Cinta. Bedanya, kalau Rangga dan Cinta menghabiskan waktu berdua semalam suntuk keliling dari Prawirotaman, Sate Klathak, ngopi di Klinik Kopi, nonton PaperMoon, liat sunrise di Gereja Ayam Magelang, sampai balik lagi ke villa Cinta, dkk.

Pertemuan Doel dan Sarah hanya sederhana. Tanya kabar, tak ada adegan Doel balik arah untuk gantian meninggalkan Sarah. Saya sangka semula akan ada adegan kejar-kejaran antara Sarah dan Doel. Tapi ternyata itu cuma imajinasi saya. Hahahaha. Mereka hanya duduk berdua, minum, saling bertukar cerita seperti melepas kangen. Saling meminta maaf, nggak ada kata-kata,”Tega kamu Doel nggak nyariin saya”. Percaya deh dialog ini cuma ilusi. Sementara Mandra? dia terperangah melihat Sarah.

Kemudian mereka bertemu lagi di rumah Sarah untuk makan sayur asem. Konon sayur asem dan ikan asin adalah sayur andalan Maknyak kalau Sarah datang ke rumah Doel. (dan saya jadi pengen masak sayur asem dan ikan goreng, oke besok ke pasar beli ikan). Momen itulah yang mempertemukan dua Doel. Doel besar dan Doel kecil.

Screenshot_2018-08-06-16-57-41-497_com.google.android.youtube

Pertemuan yang tak diduga, dan ya tak ada reaksi apapun dari Doel besar.  Ada sedikit perubahan sikap. Kalau dulu Doel gampang tersinggung, sekarang dia tak banyak bicara ketika anaknya bersikap jutek. Hahaha. Dia juga nggak memilih pergi tetapi tinggal di rumah Sarah. Beda kalau dulu, kalau dia diejek Roy- penggemar sejati Sarah- dia langsung tersinggung dan pergi begitu saja. Tapi Doel bertahan. Entah apa yang dia harapkan.

Endingnya pun bikin komentar,”Oh gini aja?” Hahaha. Kendati sederhana, yakin deh film ini langsung ke jantung pertahanan sodara-sodara. Tenang netizen yang budiman. Anda boleh mencaci, tapi film ini layak diapresiasi karena cerita yang simple itu tadi.

Sekian dan terimakasih.

Dipublikasi di artis, essaylepas, Uncategorized | Tag , , , | Meninggalkan komentar

‘Me time’ aktivitas penting nggak penting, yang bisa kamu lakukan

Tiba-tiba saja saya kepikiran tentang ‘me time’. Kamu pasti sering dengar istilah ‘me time’ atau mungkin kamu sering menggunakannya? Menurut definisi saya atau ini sudah umum ya,’me time’ adalah waktu yang digunakan ketika kita menyenangkan diri sendiri. Setiap orang punya cara yang berbeda untuk ‘me time’.  Ada yang pergi ke salon, baca buku, atau nonton drama Korea sampai mata bengkak.

‘Me time’ pasti berharga banget untuk siapa saja yang sok sibuk. Kalau saya sih, sepanjang waktu adalah ‘me time’. Hahaha. Yaiyalah, semua saya lakukan untuk menyenangkan diri saya. Capek garap kerjaan tiduran, bosen ngetik ya dengerin musik. Pokoknya nikmati waktu yang adalah. Giliran udah sore baru deh gedubrakan masak. (sedikit curcol).

Ada juga yang jarang punya ‘me time’.”Hampir nggak bisa ‘me time’, digelendotin anak codot,” kata teman saya. “Berarti lo emak codot dong?” tanya saya balik. Dia ngakak. Hahaha. YA begitulah ada orang bisa ‘me time’ seharian, ada juga yang cuma bisa mandi dengan tenang dan bisa keramas saja jadi ‘me time’ yang berkualitas.

Nah, iseng-iseng saya tanya lewat status WhatsApp begini,”Apa yang kamu lakukan ketika ‘me time’? “ Berikut ini jawabannya:

1. Tidur lama

IMG-20180801-WA0013 (1)

pic: @audiarama

Ternyata banyak yang menjadikan tidur sebagai ‘me time’ yang berharga. Apalagi setelah seharian kerja keras bagai quda atau ngurusin bocah satu balita penuh aksi dan satu lagi bayi yang ditinggal geser satu centi, nangisnya bikin geger satu kompleks. Ada juga yang tiduran sembari guling-guling ala Shin-Chan atau istilah Jawanya glundang gludung koyok semongko (guling-guling kayak semangka).

2. Jalan-jalan

mall

istimewa

Saya juga sih, pernah melakukan hal ini. Jalan-jalan aja, lihat-lihat barang lucu, cuci mata. Beli atau enggak urusan nanti. Kalau sedang  defisit anggaran belanja ya udah lihat-lihat saja sudah cukup. Kalau ada duit ya udah beli aja, ketimbang mimpi .. hahaha.

 3. Makan apa yang disuka

IMG_20180701_203227

@armaditafikriani

Kadang kita bosan dengan masakan sendiri. Saya pun juga. Lalu, kita keluar rumah dan jajan apa yang kita suka. Meski itu cuma es krim di McD. Dulu saya sering ‘me time’ dengan makan sendiri.  Misal pengen mie ayam, mau ajak teman kok repot, belum tentu dia bisa ketimbang kuciwa ya udah akhirnya jalan sendiri . PD? Banget.. nggak apalah kan makannya bayar enggak minta. Hahaha.

4. Baca buku

IMG_20180801_123943 (3)

@armaditafikriani

Wuiiih. Ini saya banget. Duluuuu. Hahaha. Sesekali saya masih suka menyisihkan waktu untuk membaca, mendengarkan musik, dan nyeruput kopi. Dulu ini pernah saya lakukan waktu masih jadi anak kos. Ketika libur, saya usahakan nggak mbangkong alias bangun siang. Setelah selesai fitness (baca: cuci dan jemur baju) saya pergi ke warung burjo pesen roti bakar, beli kopi saset, beli koran (lihat-lihat siapa tahu ada lowongan kerja menarik), lalu ngopi di kos sambi sarapan roti bakar. Selesai baca koran, lalu baca buku yang dibeli kira-kira beberapa bulan sebelumnya. Hoiyaa..sambi dengerin radio juga.

5. Perawatan di salon atau pijat

salon

istimewa

Sepertinya ini dilakukan hanya ketika habis gajian. Saya pun begitu. Nggak rutin tiap bulan, bisa dua atau tiga bulan sekali pergi ke salon untuk ‘me time’. Ngapain aja? Karena terhitung jarang saya biasanya sekalian tuh satu badan mulai hair spa sampe refleksi kaki. Berharap keluar salon mirip Dian Sastro. Hahaha.

6. Nongkrong di kafe sendirian

kafe

istimewa

“Sambi mengamati kabar dari internet (asline moco gosip artesss),” kata teman saya yang juga dosen. Etapii jangan salah, ini juga pernah saya lakukan. Berkedok bekerja sambi ngopi dan wifi-an realitanya saya buka berita artis. Hahaha. Ya nggak apalah, biar seimbang otak kiri dan kanan, nggak cuma dipakai bekerja saja. à(bisa ajaa cari pembenaran)

7. Nonton film atau drama

drakor

istimewa

Nah, ini dia yang banyak dilakukan. Nonton film atau drama. Apalagi penggemar berat K-Drama. Wow, pasti dibelain ‘me time’ setiap hari hanya untuk nonton drama Korea.”Sekarang saya tahu rasanya ketika buka laptop, tapi malah nontok drama Korea,”. Drama Korea ternyata berhasil mengalihkan duniaku.

Lalu, seberapa penting ‘me time’? Cuma kamu sendiri yang punya jawabannya.

Dipublikasi di essaylepas, Uncategorized | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar