Aku Mencintaimu, itu Sebabnya Aku Takkan Pernah Selesai Mendoakan Keselamatanmu

sumber foto: tempo.co

sumber foto: tempo.co


Judul di atas panjang ya, padahal saya ini orangnya anti untuk membuat judul panjang maksimal tujuh kata. Tapi kali ini enggak apa-apa saya bikin judul panjang. Judul itu adalah petikan puisi Sapardi Djoko Damono yang judulnya ‘Dalam Doaku’.

Entah kenapa saya suka sekali dengan puisi Eyang Sapardi yang satu ini. Puisi Sapardi yang enggak kalah dahsyatnya yaitu Aku Ingin . Kalimat yang dibuat Sapardi sederhana tapi mengena. Pun dengan puisi yang berjudul Dalam Doaku ini.

Dulu sekali saya pernah memposting penggalam-penggalan puisi ini. Alih-alih nyastra saya malah dibilang galau. Kacaunya hal itu disampaikan oleh seseorang ke orang tua saya. Wal hasil orangtua saya menanyakan, apakah saya baik-baik saja. Wah repot juga ya, padahal waktu itu saya memang sedang jatuh cinta sama puisi ini makanya berulang kali saya posting bait demi baitnya.

Ini memang puisi cinta, tapi kata saya enggak mendayu-dayu. Menggambarkan kecintaan pada seseorang yang tak pernah putus dari membuka mata sampai mata kembali terpejam. Mungkin tidak diungkapkan secara langsung. Hanya melalui bait-bait doa.
Begini salah satu penggalan puisinya:

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman
Tak memejamkan mata, yang meluas bening siap
Menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena
Akan menerima suara-suara

Selayaknya memang kita mencintai seseorang apa adanya. Meski Tulus bilang, jangan cintai aku apa adanya hehehe.
Penggalan lain puisinya demikian:

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang
Dengan sabat bersitahan terhadap rasa sakit yang entah
Batasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia, yang
Tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

Puisi Sapardi lainnya yang saya suka judulnya adalah

Yang Fana Adalah Waktu
Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
Sampai pada suatu hari
Kita lupa untuk apa.
“Tapi,
Yang fana adalah waktu, bukan?
Tanyamu. Kita abadi

Menurut analisa sok tahu saya, itu bisa diartikan seberapa lama saling mengenal bukan persoalan yang penting adalah kecocokan hati.

Saya adalah salah satu penyuka Eyang Sapardi. Saya ikuti twitter dan memberikan tanda ‘like’ pada fanpage di facebook. Sayangnya saya belum bertemu dengannya. Maka dari itu saya suka sirik kalau ada teman liputan dan bisa ngobrol-ngobrol sama dia. Membaca Sapardi membuat saya teringat pada Pak Dosen, bahwa Sapardi adalah orang yang romatis. Dan saya mengamini itu.

Tentang armadita

Jurnalis biasa-biasa saja. Manusia yang juga biasa-biasa saja. Mencoba menjadi bisa karena biasa. Belajar dari mana saja dan siapa saja. Termasuk juga kamu. Menerima dengan terbuka segala bentuk makian dan masukan soal tulisan. Boleh di kolom komentar atau via surel arma.dita@gmail.com. Terimakasih sudah singgah ^^
Pos ini dipublikasikan di bloggingkbm, nyastra dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s