Bukan Pengantinku

Aku baru saja terbangun dari tidurku. Tangan ini otomatis meraih telepon selular yang ada di samping bantal. Jam digital di telepon pintar itu menunjuk angka 04.55, Adzan Subuh sudah berlalu.
“Sial, kenapa tak ada yang membangunkanku?” aku berbicara sediri, tak ada yang mendengar. Yah, aku harus bergegas, ini hari pentingku. 11 Maret 2010, aku akan melepas masa lajang. Aku tak lagi sendiri, besok ketika aku membuka mata sudah ada seorang perempuan cantik di sampingku.

“kreeek…” aku membuka pintu kamar. Tapi masih sepi, kemana orang-orang. Seharusnya semua bersiap-siap sedari pagi agar tak terlambat tiba di rumah calon istriku.

Aku hanya mendengar suara ibu mengaji dari dalam kamar. Kamar adikku masih tertutup rapat, sepi. Tak mau buang waktu aku bergegas mandi .

Segar juga mandi di pagi hari. Meski dinginnya menusuk sampai ke tulang. Asal tahu saja, mandi sepagi itu adalah ritual yang jarang kulakukan. Kecuali aku kebagian masuk pagi.

“Le..kamu yang mandi?” suara ibu terdengar dari luar.
“Iya, ibu sudah mandi, Inda sudah bangun bu? Jangan sampai telat ke rumah Aida,” kataku menjawab pertanyaan Ibu.
Tapi tak ku dengar jawaban dari perempuan yang paling ku cintai, selain Aida calon istriku tentu saja.

istimewa

istimewa


Rumah masih dalam kondisi yang sama seusai aku mandi. Ah, ku ketuk saja kamar Inda. Apa dia tak senang kang masnya ini menikah?. “Nda.. inda… bangun,” aku mengetuk kamar Inda. Tapi tak ada jawaban. “Ayo, kamu nggak mau liat mas-mu ini menikah? Ayo bangun, siap-siap ke rumah Aida,” ujarku sambil berlallu.
Kamar ibi sama, tertutup. Suara ibu tak lagi terdegar. Aku putuskan untuk mengetuk pintunya. “Ibu.. bu… sudah siap semuanya bu? Mas kawin?” kataku sembari berharap jawaban dari Ibu dan Inda membuka pintu kamar.

Ya, sudahlah. Mungkin Ibu dan Inda sedang menyiapkan segala sesuatunya di dalam. Aku kembali masuk ke dalam kamar.
“Aku pasti tampan pakai jas ini,” aku bergumam sambil memperhatikan setelan jas hitam yang sudah ku persiapkan jauh sebelumnya. Aku senyum-senyum di depan cermin, membayangkan Aida berbalut kebaya putih, dia pasti bertambah ayu.
Aku sudah rapi sekarang. Setelan jas hitam lengkap dengan kopiah hitam. Jarang bahkan tak pernah aku berpakaian serapi ini.

Aida. Ya perempuan yang ku kenal lima tahun silam ketika aku bertandang ke Jogjakarta, bersama Sane kawanku. Perempuan sederhana yang mampu meluluhkan hatiku. Perempuan tercantik selain ibu yang pernah ku temui. Akhirnya hari ini dia ku miliki, resmi jadi istriku.

Aku ingat benar ketika kami harus menjalani hubungan jarak jauh. Aku di Surabaya, Aida di Jakarta. Sedikitnya dua bulan sekali aku harus menyisihkan uang ke Jakarta, hanya untuk bertemu Aida. Atau aku harus membeli satu telepon selular satu lagi khusus untuk berkomunikasi dengan Aida.

825 km, jarak terbentang tapi tak jadi soal buat kami. Setiap aku bertandang ke Jakarta Aida selalu memasak buatku. Meski rasanya tak seenak buatan ibu, tapi itu usaha Aida untukku. Masih ingat dalam ingatanku ketika ku datang ke Jakarta. Aida memasak sayur bayam terlalu asin. Muka Aida merah menahan malu.”Kalau terlalu asin, nggak usah di makan, maaf Ai baru belajar,” ujarnya padaku sambil menarik piring yang ada di hadapanku.

Aida memang galak. Tapi dia begitu perhatian, sampai kadang aku malu karena perhatiannya. Kejadian ketika aku bertandang ke Jakarta. Aida mengantarkanku sampai ke tempat kos kawanku. Kami berkeliling menaiki bus trans jakarta. Kalau ingat itu, aku merutuki diriku sendiri. Aku seharusna bisa pulang sendiri, tanpa harus di antar Aida. Itulah nilai lebih Aida di mataku. Perempuan mandiri.

Tapi kadang Aida keterlaluan. Dia pernah membentakku. Masih kuingat benar kata-kata Aida siang itu ditelepon,” Kamu mengangguku.” Aku tak sangka Aida bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu. Padahal aku hanya ingin bertemu dia. Aku tak menyapa bahkan menelepon Aida elama satu minggu. Sakit juga rasanya, rindu membuncah tetapi mengingat perkataan Aida, aku jadi malas meneleponnya.

Pernah dua kali aku memutuskan hubungan dengan Aida dan dua kali pula aku memintanya kembali. Aida menerimaku kembali, tanpa syarat. Pertama kali aku memutuskan hubungan dengan Aida, karena dia terlalu mementingkan pekerjaannya ketimbang aku. Bahkan aku masih mengingatnya, hanya berselang tiga puluh detik aku menutup telepon, aku menyesal telah melepas Aida. Aku berkirim pesan padanya, aku bilang kalau aku masih mencintainya. Tapi tak ada balasan. Sekali lagi aku kirim pesan, kali ini aku bilang kalau aku tak bisa kehilangannya, tapi tak kunjung ada balasan. Mungkin dia masih marah padaku. Besok sajalah, aku meneleponnya.

Belum aku meneleponnya, aku membuka situs jejaring sosial. Aku buka profile Aida, sial. Seorang lelaki sudah menggoda Aidaku dengan komentar dia di status Aida. Lelaki itu memberi perhatian pada Aida, seolah dia tahu Aida udah putus denganu. Ini ak bisa ku biarkan, aku harus meraih Aida kembali.

Aida akhirnya kembali padaku. Aku berjanji akan ku jaga Aida. Hari-hari ku lalui dengan Aida. Amsih sama, aku di Surabaya, Aida di Jakarta. Sampai akhirnya, tanpa sengaja aku mendpati foto Aida di komputer jinjing milik kawan sekantorku yang kebetulan bertugas di Jakarta. Aku berpura-pura bodoh dan bertanya pada kawanku tentang Aida. Dengan wajah berbinar kawanku bercerita kalau perempuan yang menjadi background notebooknya adalah Aida, perempuan yang dia kagumi.

Aku menelepon Aida. Sial, dia hanya tertawa ketika aku meluapkan amarah. Merasa dilecehkan, aku langsung bilang pada Aida,”Sudah aku sudah muak,menikahlah saja kau dengan Rum,” kataku pada Aida, dan menutup telepon. Hubunganku kembali kandas.

Aku menyediri di balkon kantor. Seseorang menepuk bahuku dari belakang, ternyata Rum. “Aida baru saja meneleponku, kamu tak nggak pantas bilang begitu,” ujar Rum pelan. Aku menghela nafas dan membuang wajahku dari Rum. “Aida baik, jujur aku mengangguminya, baru tadi aku tahu kalau dia calon istrimu, dari kawan-kawan,” tambah Rum.

Menahan malu, akhirnya aku menelepon Aida dan meminta maaf. Aida hanya berkata lembut di ujung telepon.”Makanya jangan kebawa emosi, dengar kan dulu kalau ada orang ngomong,” kata dia. Akhirnya aku putuskan untuk melamar Aida, bulan ini juga. Lima tahun aku menjalin hubungan dengan Aida. Dari pada Aida jadi milik orang lain.

Ada perasaan lega setelah aku melamar Aida. Artinya tak ada seorangpun yang bisa merebut Aida dariku. Akhirnya kami menyepakati melangsungkan pernikahan bulan Maret 2010, berselang enam bulan dari aku melamarnya. Aku harus bekerja lebih giat lagi mengumpulkan uang untuk mempersiapkan rumah tanggaku dengan Aida kelak.

Aku memesan cincin emas bermata satu untuk Aida. Tentu saja namaku terukir di sana. Waktu aku melamarnya, Aida berpesan tak perlu memakai cincin, cukup ketika pernikahan nanti. Aku menuruti perkataan Aida.

Menjelang pernikahan komunikasi memang lebih intens. Aida sering pulang ke kotanya, sama ia juga mempersiapkan pernikahan kami.
Enam bulan menjelang pernikahan, dua kali kami bertemu. Pertama secara kebetulan aku ditugasi di Jakarta selama dua minggu, ketika itu hanya sekali aku bertemu Aida. Seharian kami habiskan waktu bersama. Kali ini Aida tak boleh mengantarku, biar aku pulang sendiri ke penginapan.

Kedua, aku bertemu Aida di kota kelahirannya, Jogjakarta. Selisih dua bulan sebelum pernikahan. Aida memang ada-ada saja. Dia memesan sepasang pakaian pengantin.

“Pernikahan sekali seumur hidup, lagi pula ini kado pernikahan dari kawanku,” Aida memberi alasan, ketika aku bertanya kenapa harus ada sepasang pakaian pengantin. Bagiku mengenakan jas hitam saja sudah cukup. Aku hanya mengangguk menuruti kemauan Aida. Dia tampak cantik dengan pakaian pengantin warna putih itu.

Itu pertemuan terakhirku dengan Aida. Wajah Aida terlihat pucat tak sesegar biasanya. Dia juga terlihat lebih kurus. “Aku turuh tujuh kilo, kecapekan,” keluhya padaku. Aida, itu keluhan pertama yang dia lontarkan setelah sekian lama kami berpacaran.
Aku hanya mengusap lembut kepala Aida. “Istirahat, makan yang banyak, jangan sampai kamu terlihat pucat di hari pernikahan kita,” ujarku pada Aida.

Dia mengangguk.” Tenang saja, periasnya jagoan kok, wajah pucat pasti nggak terlihat,” calon istriku itu berujar santai. Itulah Aida, yang selalu tak mau kalah. Tapi aku menggilainya.

Aku melirik jam, sudah pukul 06.15. Jangan terlambat ke rumah Aida, istriku. Aku beranjak keluar kamar.Sepi. “Bu..” aku memanggil ibuku. Terlalu lama aku mengenang kisahku dengan Aida. Perempuan lain yang aku cintai selain ibuku tentu saja.

“Ya, Le, ibu di dapur,” sahut ibuku dari dapur.

“Ibu, ngapain, bukannya bersiap, “ kataku ambil melangkah meyusul Ibu ke dapur.

“Kamu mau kemana Le?” kata Ibu menatapku heran. Aku lebih heran lagi dengan jawaban ibu.

“Lho, ibu ini gimana, ya mau ke rumah Aida, hari ini saya menikah bu, kok ibu belum salin? Mana yang lain?” kataku memberondong ibu dengan pertanyaan.

istimewa

istimewa

Ibu hanya menghela nafas. “Ibu Cuma mau kamu menerima kenyataan Le, Aida nggak bakal jadi istrimu, jangan cengeng,” perkataan ibu begitu tegas terdengar di telinga. Lantas ibu pergi meninggalkan aku yang terpaku di kursi pesakitan. “Aidamu hari ini menikah dengan orang lain,” kata ibu sambil berlalu dariku

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku bergegas menuju kamar. Meraih undangan bersampul biru. Ya, nama Aida Rahayu memang tercantum di surat undangan itu. Tapi bukan aku mempelai prianya. Ibu benar, Aida memang menikah hari ini 11 Maret 2010, tapi bukan dengan aku. Aida bukan pengantinku

Tentang armadita

Jurnalis biasa-biasa saja. Manusia yang juga biasa-biasa saja. Mencoba menjadi bisa karena biasa. Belajar dari mana saja dan siapa saja. Termasuk juga kamu. Menerima dengan terbuka segala bentuk makian dan masukan soal tulisan. Boleh di kolom komentar atau via surel arma.dita@gmail.com. Terimakasih sudah singgah ^^
Pos ini dipublikasikan di bloggingkbm, nyastra dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s