“Mulanya Tersia-sia”

novel tertua yang saya punya. Terbitan tahun 1963. (foto : dokumen pribadi)

novel tertua yang saya punya. Terbitan tahun 1963. (foto : dokumen pribadi)


Novel ini aku temukan secara tak sengaja. Aku lupa kapan tepatnya aku menemukan novel ini. Seingatku novel ini berada ditumpukan buku-buku lawas milik ibu. Dulu pernah aku membacanya sekilas, ah malas membacanya karena masih menggunakan ejaan lama. Novel ini sempat berjajar manis di rak buku di kamar lumayan lama. Aku tak melebelinya, karena bagiku tak penting.

Suatu hari ketika aku disodori daftar seratus buku sastra Indonesia terpenting, novel ini masuk satu di antaranya. Aku sedikit tercengang, aneh apa pentingnya novel itu. Justru rasa penasaran itulah yang membuat aku untuk memilihnya untuk aku cermati. Jujur saja pertama membaca aku membaca ada rasa bosan dan malas membacanya. Pertama karena tulisannya masih menggunakan ejaan lama. Aku melihat identitas buku penerbitnya Djambatan dan diterbitkan pada tahun 1963 tidak jelas buku yang aku baca ini tjetakan ke berapa. Kedua sungguh membosankan menurutku ketika membaca bagian awal cerita.

Buku ini milik M.S. Abbas, begitu tulisan yang tertera di halaman depan buku ini. Entah siapa Abbas, barangkali kawan lama ibu. Seeprtinya pemilik awal buku ini cukup rajin, ia menulisi tetenger pembelian buku ini: 19/5/1976, itu artinya buku ini sudah berusia lebih dari 30 tahun. Di halaman kedua, tertempel sebuah nota pembelian buku ini. Harganya 90 rupiah setelah mendapat potongan 10 rupiah. Dan di beli di toko buku Gunung Agung, yang sekarang sudah almarhum.

Prasasti yang tertulis di buku. (foto: dokumen pribadi)

Prasasti yang tertulis di buku. (foto: dokumen pribadi)

Aku mulai merasa asyik membaca buku ini ketika memasuki bagian tengah cerita. Ketika Herman dan Toto dijebloskan ke dalam penjara. Ada banyak hal menarik, ketika di dalam penjara. Bagaimana pergulatan batin para tawanan, yang sebetulnya tidak terima karena mungkin dirinya tidak berrsalah namun ada juga tawanan yang justru menikmatinya. Lebih enak hidup di dalam tahanan karena semua mereka dapatkan secara gratis, tanpa harus memikirkan biaya makan.

Terlepas dari enjoy atau tidaknya para tawanan itu, novel Pagar Kawat berduri memunyai daya tawar sendiri. Kejiwaan orang-orang yang ada di dalamnyalah yang membuatnya unggul. Manusia dalam beragam karakter dan latar belakang ‘dipaksa’ hidup bersama dalam satu kamar karena satu nasib: tertawan oleh penjajah Belanda.

Penulis cukup jeli membuat beberapa suspense dalam buku ini. Semisal Koenen, Sersan Mayor pimpinan Kamp Salatiga itu. Seorang Belanda yang identik dengan kebengisannya, Koenen justru berkebalikan ia tidak bengis, ia memihak tawanan yang kerap disakiti oleh para pejaga tahanan. Meski demikian Koenen tetap tidak sepakat dengan sikap melawan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Koenen pun menjalin persahabatan dengan Parman, yang sejatinya adalah seorang prajurit Indonesia. Persahabatan terjalin cukup erat meski keduanya berasal dari latar belakang yang berbeda dan memunyai alur pemikiran yang bertolak belakang.

salah satu adegan film. (foto: istimewa)

salah satu adegan film. (foto: istimewa)


Koenen yang berusaha untuk berbuat baik dan ramah terhadap tawanan harus menelan pil pahit. Ia kecewa lantaran ada tawanan yang melarikan diri. Dan kekecewaannya semakin menjadi ketika tahu bahwa Parmanlah dalang dari semua ini. Ia tak bisa berbuat banyak, ia tak bisa meloloeskan Parman dari hukuman tembak karena itu sudah menjadi peraturan. Ia pun tak bisa mengelak dari rasa kecewa pada dirinya sendiri juga pada Parman barangkali karena merasa telah dikhianati. Akhirnya Koenen memilih meregang nyawa dengan pistolnya sendiri, di ruang kerjanya, dan kepalanya terkulai lemas di atas meja kerja.

Ada peristiwa yang cukup menegangkan ketika Toto dan Herman melarikan diri dari Kamp dibantu oleh Parman. Dan lagi-lagi ada kejutan yang diberikan kepada pembaca. Akhirnya justru Toto tertembak mati sedang Herman berhasil melarikan diri, sementara Parman otak dari kaburnya Herman dan Toto dihukum mati, sedang Koenen tidak bisa berbuat apa-apa ia pun mati di bawah pistolnya sendiri.

Tentang armadita

Jurnalis biasa-biasa saja. Manusia yang juga biasa-biasa saja. Mencoba menjadi bisa karena biasa. Belajar dari mana saja dan siapa saja. Termasuk juga kamu. Menerima dengan terbuka segala bentuk makian dan masukan soal tulisan. Boleh di kolom komentar atau via surel arma.dita@gmail.com. Terimakasih sudah singgah ^^
Pos ini dipublikasikan di bloggingkbm, nyastra dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s