Catatan untuk Ope

:Nopandi

Sepiring mie goreng Jawa baru separuh porsi saya santap. Tiba-tiba saya ingat seorang kawan yang hobi sekali mengajak makan mie goreng Jawa. Waktu itu kami sama-sama hidup diperantauan. Kadang kangen masakan lokal seprti mie goreng Jawa. Ya, meski terkadang harga mie Jawa di Jakarta, nyaris dua kali lipat harga mie di Jogja. Pun rasanya.

“Aku inget Ope, Fer kalau makan mie Jawa. Dulu dia suka sekali makan ini,” kataku pada Ferdi, kawan kami juga. Kebetulan, malam itu teman-teman semasa sekolah berkumpul. Ferdi yang ada di hadapanku, jadi kepadanya aku bercerita. Dia tersenyum kecil, dan menjawab.”Iya,” kata dia.

display picture terakhir Ope.

display picture terakhir Ope.

Kepergiannya sudah lebih dari sepekan. Tapi entah, rasanya dia masih ada. Butuh beberapa kali, memastikan pesan yang masuk di Whatsapp grup untuk memastikan kabar kepergiannya. Buru-buru membuka obrolan terakhir dengan dia. Ya, kami berbincang 3 September 2015. Dia bilang sedang dirawat inap, karena sakit infeksi saluran pernafasan. Tapi perbincangan kami hanya sampai di situ saja. Saya bilang, cepat sembuh dan ini adalah waktu untuk beristirahat. Saya tak pernah menduga, itulah obrolan kami terakhir. Saya tidak lagi menanyakan kabarnya, sampai kabar kepergiannya datang. Ya, kamu sudah benar-benar istirahat Ope. Komunikasi kami tidaklah terlalu sering, jarang juga tidak. Media sosial, masih menjadi tempat kami berkomunikasi, tahu kabar satu sama lain.

Saya sedih dan rasanya masih belum percaya kalau seorang kawan baik saya sudah berpulang. Kehilangan? Pasti. Tapi entah kenapa tidak ada airmata yang menetes. Suara saya selalu tercekat ketika berbincang atau bercerita dengan kawan lain tentang kepergiannya.

Saya tidak tahu harus bilang apa. Rasanya sedih dan tidak percaya kalau kepergiannya begitu cepat. Berputarlah dalam ingatan fragmen-fragmen pertemuan dan perbincangan kami. Mulai hal-hal remeh temeh sampai obrolan soal negara. Mulai dari cerita zaman abu-abu putih sampai persoalan jodoh. Saya teringat ketika dia saya tunjukkan foto seorang kawan kami, siapa tahu mereka berjodoh. Dia hanya berkomentar,”Makin cantik ya sekarang. ”

Nopandi, kami biasa menyapanya Ope. Meski belakangan dia punya nama tenar Andi. Sampai sekarang saya enggak tahu alasan dia mengubah nama panggilannya itu. Semasa SMA, Ope termasuk tenar di kalangan teman-teman perempuan. Banyak yang diam-diam jadi fans beratnya. Tapi saya merasa biasa saja. Mungkin karena sudah kebanyakan kali ya. hehehe.

Bekerja di Ibukota dan menjadi perantauan. Senasib, sama-sama perantau membuat komunikasi saya, Ope, dan beberapa teman-teman sekolah kembali terjalin. Meski pertemuan kami bisa dibilang jarang, hanya sekali dalam setahun bebarengan dengan buka puasa. Ya, mau gimana lagi. Kesibukan masing-masing terkadang membuat waktu tidak sinkron.

Ope adalah narasumber saya yang baik. Ketika saya butuh informan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah, terutama tentang hal-hal kekinian, dialah informan yang tepat. Gayanya yang anak muda kekinian, jadi sasaran empuk saya untuk mengerjakan tugas. Ya, Dia pun menjawab satu persatu pertanyaan konyol saya.

Dia juga teman nyinyir yang asyik, ketika nyinyir soal apa saja. Terutama soal pekerjaan yang gila ini. Salah satu fragmen yang saya ingat ketika dia bilang,”Aku pengen punya pasangan yang bisa mengerti pekerjaan ini,”. Ya sih Pe, emang enggak gampang menemukan pasangan yang mengerti pekerjaan ‘gila’ ini. Bahkan kadang yang satu profesi pun masih enggak ngerti.
Kepergiannya membuat saya merasa bahwa kematian itu dekat. Kita tidak pernah tahu kapan umur ini akan berakhir.

Ope, semoga kamu dipertemukan ya dengan bidadari surga di sana. Sudah pasti bidadari surga itu mengerti kamu. Semoga pula kuburmu dilapangkan ya, dijauhkan dari siksa kubur, dan kelak mendapat tempat terbaik di sisiNya. Maaf ya, selama kamu sakit aku bukan teman yang baik, kurang care tanya kesehatanmu.

Terimakasih ya, sudah jadi narasumberku dan teman debat yang cihuyy. Aku tahu, kamu enggak akan pernah bisa baca tulisan ini. Tapi paling enggak, buat aku percaya kalau kamu sudah pergi. Sampai ketemu ya, di sana. Insya Allah.

Tentang armadita

Jurnalis biasa-biasa saja. Manusia yang juga biasa-biasa saja. Mencoba menjadi bisa karena biasa. Belajar dari mana saja dan siapa saja. Termasuk juga kamu. Menerima dengan terbuka segala bentuk makian dan masukan soal tulisan. Boleh di kolom komentar atau via surel arma.dita@gmail.com. Terimakasih sudah singgah ^^
Pos ini dipublikasikan di essaylepas dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s