Saya Bilang Jakarta itu ‘magnet’

Jakarta itu seolah masih menjadi magnet bagi banyak orang. Iya, saya bilang magnet karena masih banyak orang yang nJakarta, bukan cuma tempat mencari penghasilan tapi tempat yang dianggap gaul se-antero Indonesia. Saya pernah nJakarta selama lima tahun. Selama itu saya punya duit sendiri, beli ini itu sendiri dari penghasilan saya selama di Jakarta.

Jakarta bagi sebagian orang mungkin membawa perubahan. Gaya berpenampilan, yang tadinya cuek jadi hobi dandan, dulu kumuh sekarang modis, dulu cantik sekarang tambah cantik, dulu pake tas kain kanvas sekarang pake tas merek, meski KW.  Dulu hobi nongkrong di angkringan sekarang nongkrong di kafe-kafe. Iya mereka kaum urban  yang dari kota kecil ke kota besar. Termasuk cara bicara yang lama-kelamaan jadi seperti orang Jakarta. Memang nggak semua, hanya sebagian orang saja.

jakartafoto: istimewa

Ini sekadar cerita, dulu waktu saya awal di Jakarta masih sangat kagok bilang ‘gue-elo’. Aduh makjaaaang.. ndeso banget saya yah. Itu mungkin kesan beberapa orang yang aneh dengar saya bilang ‘aku-kamu’ di Jakarta. Akhirnya saya menyesuaikan diri dengan lawan bicara. Kalau si lawan bicara orang Jakarta raya dan sekitarnya bolehlah saya bicara ‘gue-elo’ tapi kalau lawan bicara berasal dari suku Jawa, ya ngapain saya ajak bicara ‘gue-elo’ langsung ber-‘aku-kamu’ ria bahkan kadang berbahasa Jawa sakkarepe dewe. Sampai-sampai orang yang ada di sekitar dan bukan berasal dari Suku Jawa ‘roaming’ alias nggak mudeng.

Lalu, saya tahu kenapa orang Jakarta itu sangat sedikit menggunakan ‘aku-kamu’ di pergaulan sehari-hari. Nggak tahunya’ aku kamu’ yang lazim jadi kata sapaan di Yogyakarta, kalau di Jakarta rupanya punya arti khusus. ‘aku-kamu’ di Jakarta itu bisa diartikan hubungan antara laki-laki dan perempuan yang sudah dekat. “Hati-hati kalau ngomong sama cowok pakai ‘kamu’ nanti dia salah arti, apalagi orang Jakarta,” begitu kurang lebih penjelasan seorang kawan. Saya pun manggut-manggut ketika itu.

Saya bilang Jakarta itu magnet, karena nggak sedikit orang yang mengadaptasi bahasa itu ke kehidupan sehari-hari. Bahkan ketika berada jauh dari Jakarta. Ntah apakah ‘gue-elo’ sudah jadi bahasa yang menasional. Atau mungkin ‘gue-elo’ itu menjadi sapaan gaul ntahlah saya nggak tahu. Pastinya, itu adalah salah satu alasan Jakarta itu menjadi magnet.

 

Tentang armadita

Jurnalis biasa-biasa saja. Manusia yang juga biasa-biasa saja. Mencoba menjadi bisa karena biasa. Belajar dari mana saja dan siapa saja. Termasuk juga kamu. Menerima dengan terbuka segala bentuk makian dan masukan soal tulisan. Boleh di kolom komentar atau via surel arma.dita@gmail.com. Terimakasih sudah singgah ^^
Pos ini dipublikasikan di curcol, essaylepas, jakarta, Kota besar, Uncategorized, urban. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s