Ketika pertanyaan ‘Kapan’ itu sudah nggak lagi horor

syahrini3333

Nggak perlu ngurusin orang lain, iya sebab ngurusin diri sendiri aja udah ribet. Apalagi sekarang makin gendut, mau kurus aja susah. Hehehehe.

Kira-kira pertengahan tahun lalu, salah satu grup whatsapp saya heboh. Pemicunya adalah lontaran kawan saya, yang nggak ada angin nggak ada hujan bilang:”Pernah nggak, orangtua panik soal jodoh?” lebih kurang begitu yang dia tulis di grup.

Ketika membaca itu saya terdiam. Lalu sebuah jawaban muncul,”Ya pernah lah, apalagi usiaku udah kepala 3, pastilah orangtua panik dan bingung, buntutnya mereka jodoh-jodohin deh sama anak temennya”. Jawaban ini jelas semi curcol sih. Jawaban teman lain muncul, apalagi orang Jawa yang masih khawatir ketika anak gadisnya yang sudah kepala 3 belum menikah. “Orangtua khawatir, nanti siapa yang bakal melindungi padahal anaknya santai-santai dan masih hobi main”.

Obrolan lalu mengalir, ke masalah jodoh dan seputar pertanyaan ‘kapan kawin’ maklum, teman-teman saya di grup itu sebagian besar masih berstatus lajang.

Saking seringnya ditanya ‘Kapan’ itu bikin saya kebal dan cuma bisa jawab sambi nyengir. Kalau lagi bener ya dibumbui jawaban,”Insya Allah segera,” kalau lagi kambuh, ya pengen saya jawab,”Lha situ kapan mati?” jawaban sadis sih, tapi yakin deh saya nggak pernah jawab gini kok. Paling kalau lagi males cuma nyegir doang.

Mereka yang nanya itu bukan cuma sekali dua kali. Apalagi kalau ada bumbunya,”Aku aja nyesel baru nikah sekarang, kenapa nggak dari dulu”. Atau ada lagi”Pertanyaan standart nih kalau ada nikahan, kapan nyusul? Nunggu apa?” Atau pertanyaan lain lagi,”Kamu cari yang kayak gimana sih?” ketika dijawab,” kamu cariin dong, kenalin aku sama siapa gitu, nggak Cuma nanya doang,” eh, dia diem nggak bisa jawab lagi.

Dulu, waktu masih usia 25-28an ketika ditanya’Kapan’ emang sensi abis.  Ya, mau jawab pertanyaan itu juga nggak bisa, apalagi emang nggak ada jawabannya. Tapi setelah melewati usia itu dan sampai tulisan ini diturunkan, saya kebal.  Pertanyaan itu sempat membuat hubungan saya dan kawan renggang lho. Jadi gini ceritanya, saya dan kawan itu udah lost contact sekian tahun. Tiba-tiba dia muncul di friend request, ya saya seneng dong..bertemanlah kami di dunia maya. Setiap chat, dia selalu tanya,”Kapan aku mbok kirimi undangan,” masih saya jawab baik-baik.

Sampai suatu saat dia nanya pertanyaan yang sama,”Kapan sidane undangane? Kok ora ono progress ki piye?”. Saya yang sedang capek, kesal abis alias muntap. Saya jawab agak sedikit keras,”Menikah itu bukan soal usia, dan itu bukan urusanmu kapan saya menikah!” eh dia jawab lagi, “Kok kowe oleh kata-kata ngono sinau nang ndi?”

Tapi pernah pertanyaan ‘kapan’ itu bikin saya meleleh. Pertanyaan itu datang dari sahabat saya dia bilang gini”Piye kowe kapan? Selak anakku 3 lho,” kata dia. Saya Cuma jawab dengan emoticon senyuman waktu itu. Lalu, dia bilang lagi,”Aku ming pengen kowe bahagia,”. Duh.. meleleh sih dibilang gitu, tapi juga ngakak.  Masalahnya teman saya ini preman abis. Padahal ukuran kebahagiaan bukan hanya dari sudah menikah atau belum

Sampai sekarang saya hindari pertanyaan2 ‘kapan’ ke teman saya. Apapun itu. Kapan nikah, kapan punya anak, kapan dan kapan lainnya.

Hanya satu pertanyaan ‘kapan’ yang bikin saya horor belakangan ini.’Kapan bimbingan’, ‘kapan lulus’ dan ‘Kapan Wisuda’ hehehehe.

Tentang armadita

Jurnalis biasa-biasa saja. Manusia yang juga biasa-biasa saja. Mencoba menjadi bisa karena biasa. Belajar dari mana saja dan siapa saja. Termasuk juga kamu. Menerima dengan terbuka segala bentuk makian dan masukan soal tulisan. Boleh di kolom komentar atau via surel arma.dita@gmail.com. Terimakasih sudah singgah ^^
Pos ini dipublikasikan di curcol, essaylepas, Uncategorized, urban dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Ketika pertanyaan ‘Kapan’ itu sudah nggak lagi horor

  1. Misni Parjiati berkata:

    kapan kita hangout?

  2. Elisabeth Murni berkata:

    Aku pun mbok. Sekarang berusaha menghindari melontarkan pertanyaan kapan kepada kawan-kwan lain. Entah kapan lulus, kapan nikah, kapan punya momongan. Kita nggak akan pernah tahu seberapa dalam luka atau kesedihan yang bisa timbul hanya gara-gara pertanyaan kepo atau basa-basi itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s