Kali Ini Untukmu, Teh Irma!

irma bule

Nama Irma Bule mendadak masyhur sepekan belakangan. Bukan karena goyangan yang fenomenal seperti Inul Daratista yang dulu terkenal karena goyang ngebornya. Bukan pula seperti Ayu Ting-ting yang mendadak tenar karena ‘Alamat Palsunya’. Pedangdut asal Karawang itu meninggal dengan cara tragis, dipatuk ular cobra yang biasa manggung bersamanya.

Bagi sebagian orang mungkin bukan sesuatu yang wow,  Irma Bule meninggal. Apalagi dia adalah penyanyi dangdut pantura yang biasa tampil dari satu panggung ke panggung lainnya. Sekali tampil dia hanya dibayar Rp 500 ribu, tak sepadan dengan risiko yang dia hadapi, kematian.  Ditambah lagi, dangdut pantura selama ini lekat dengan stereotipe musik recehan yang lazim dikonsumsi masyarakat kelas bawah.

Kematian Irma menyedot perhatian dunia, bahkan tak sedikit media asing yang memberitakannya. Tulisan Budi Setiawan, salah satu netizen yang sejak kemarin ramai dibagikan cukup bikin sesak dada. Apalagi ketika saya menuliskan ulang untuk media tempat saya bekerja. Tragis! Irma masih berusaha menuntaskan tugasnya meski dia sudah diminta turun oleh kru.

Kaki Irma tak sengaja menginjak ekor kobra, teman duetnya dipanggung. Kobra yang terusik itupun lalu mematuk paha Irma. Sempat jatuh, tapi dia tak mau turun.  Dia memilih bangkit lagi dan meneruskan ‘tugas’nya. Bisa jadi Irma menghiraukan bahaya itu. Di benaknya hanya ada wajah tiga anaknya yang butuh biaya. Irma barangkali takut bayarannya tak penuh jika dia turun dan tak menyelesaikan tugasnya. Logika yang mungkin tak mudah dipahami oleh orang kebanyakan.

Irma mencoba bertahan hidup dengan bergoyang dan menantang maut. Bukan hanya bertahan hidup dari bisa ular cobra, tapi juga bertahan hidup dan keluar dari jerat kemiskinan. Tragis memang, apalagi Karawang tak jauh dari ibu kota.

Tak sedikit orang yang menganggap kematian Irma adalah kecelakaan kerja biasa. Tak banyak yang peduli, bisa jadi karena Irma hanya dianggap penyanyi dangdut pantura yang selama ini lekat dengan musik recehan.  Bukan sesatu yang penting jika dibandingkan dengan orang dengan strata lebih tinggi. Miris memang.

Bukan, kematian Irma bukan hal biasa. Menurut saya dia adalah potret riil masyarakat Indonesia yang berusaha keluar dari jerat kemiskinan. Irma tak sendiri, masih ada Irma-Irma lain di luar sana yang juga kerap nekat bekerja hanya demi uang yang tak seberapa. Sementara pemerintah masih asyik dengan pembangunan ini itu. Atau ada lagi sebagian masyarakat yang ribut soal agama dan merasa disikriminasi.  Ada lagi mengutuk penguasa karena persoalan keyakinan.

Kontrasnya lagi, di ajang pemilihan penyanyi dangdut berbakat peserta kerap mendapat bonus dari penyanyi dangdut ‘nasional’ itu. Seandainya saja Irma seberuntung mereka, mungkin Irma tak akan bertaruh nyawa.  Irma, si pejuang hidup itu berpulang dengan jalan demikian. Meninggal di panggung yang memberikannya kehidupan.

Selamat jalah Teh Irma!

Tentang armadita

Jurnalis biasa-biasa saja. Manusia yang juga biasa-biasa saja. Mencoba menjadi bisa karena biasa. Belajar dari mana saja dan siapa saja. Termasuk juga kamu. Menerima dengan terbuka segala bentuk makian dan masukan soal tulisan. Boleh di kolom komentar atau via surel arma.dita@gmail.com. Terimakasih sudah singgah ^^
Pos ini dipublikasikan di artis, essaylepas, hot issue, selebriti, urban dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s