Nggak usah dibaca ntar nyesel lho…

writing

istimewa

Februari sudah memasuki hari ke 18. Itu artinya tiga minggu sudah saya resmi menyandang ‘pengangguran terselubung’. Terhitung 30 Januari 2017 lalu saya resmi mengundurkan diri dari pekerjaan yang saya cintai. Hanya demi satu alasan, memulai babak kehidupan baru. Selain itu saya harus fokus menyelesaikan study saya yang dalam hitungan hari kemajuannya baru nambah dua halaman. Hehehehe. Ya, daripada saya mentok nulis tesis mending nulis di blog. Itung-itung sudah lama banget ini blog saya anggurin. Seminggu nggak keja, saya ditanya, “Sibuk apa? Nggak bosan di rumah?” Saya jawab,”Saya malah nggak pernah di rumah sejak resign”.

Pekan pertama, saya mulai semedi di lantai dua, lalu berkunjung ke lantai empat FIB UGM. Saking asyiknya semedi saya sampai lupa mempersiapkan apa saja yang mau saya bawa ke Batam. Alhasil banyak banget yang ketinggalan dan kurang, maklum packing dan mencari barang-barang yang saya bawa, cuma dilakukan hanya dalam satu malam saja. Hehehehe.

Wah apa rasanya nggak lagi kerja? Suntuk? Itu yang paling saya takutkan sebetulnya suntuk dan bosan. Apalagi saya punya kecenderungan sakit nggak jelas ketika ritme hidup saya berubah. Saya masih ingat ketika tahun 2008, ketika memutuskan kembali ke Yogyakarta setelah gagal mencari kitab suci di Jawa Timur. Dua minggu pertama saya baik-baik saja. Masih haha-hihi..ketawa-ketiwi. Menginjak minggu ketiga saya tiba-tiba sakit. Iyaa..sakit nggak jelas gitu. Bangun tidur, badan saya panas, kaki dan tangan suah digerakkan. Sekeliling saya seperti berputar. Bahkan bangun subuh dan mengambil air wudlu saja saya harus rambatan dan digandeng ibu saya. Alhamdulillah saya sembuh dalam tiga hari, dengan sakit yang nggak jelas itu. Sembuh aja gitu. Cuma dikasih obat pengurang rasa sakit oleh Pakde Dokter yang kebetulan sahabat ayah saya.

131207bmood

istimewa

Belum cukup badan sakit. Setelah itu, saya sariawan. Bisa bayangkan sariawan satu tempat aja udah nggak enak banget rasanya. Lah ini di bibir iya, di gusi, di lidah kanan kiri, di bagian atas mulut. Rasanya wow banget. Mau makan apa aja salah. Saya cuma mampu menelan cairan panas dalam dan susu ultra saja. Bubur ayam juga deh, tapi dengan daya telan satu sendok persepuluh menit. Sakit yang serba unik tadi berlangsung dua minggu. Sampai akhirnya saya dapat panggilan ke Jakarta untuk ikut tes di Kanalone. Rasanya nano-nano. Kesimpulan sementara ketika itu, saya mengalami streess ringan, efeknya ke badan saya yang meriang dan nggak jelas gitu.

Awal kerja di Ibukota, saya juga sakit yang bisa dibilang,”Kok bisa sih?” wkwkwkw. Pertama nggak sengaja saya kejeglok (nggak nemu padanan bahasa Indonesia yang pas) ketika mengejar narasumber. Awalnya biasa saja dan merasa ‘kuat’. Begitu sampai kantor, kebetulan ada rapat, kaki saya bengkak dan sepatunya nggak muat. Walhasil saya balik dari ke kantor ke kos (waktu itu kantor ada di lantai 31) dengan menyeeret sebelah kaki saya. Dan pulang ke kos jalan kaki. Untung ada teman yang baik hati mengurut kaki saya sehingga rada mendingan.

Lima tahun saya di Ibukota, saya memutuskan kembali ke Yogyakarta. Dengan kondisi psikologis yang betul-betul nggak ingin saya ingat lagi (jadi nggak saya tulis di sini). Hehehe. Pulang ke Yogya dengan status ‘pengagguran’ dan nggak tau mau ngapai saya alami. Setiap hari kerja saya cuma main dan nongkrong nggak jelas sana-sini. Alhamdulillah masa-masa itu terlewati dengan mendapat pekerjaan freelance yang hasilnya nggak seberapa tetapi tetap harus disyukuri nggak minta uang jajan ke orangtua. Meski ibu saya sering tanya,”Kamu masih punya uang?”. Saya menikmati pekerjaan sebagai freelance, karena saya bisa atur waktu sesuka saya. Saya bisa atur kapan saya harus lembur kerja dan kapan saya harus main dan seneng-seneng.

kopi1

istimewa

Agustus 2014 saya resmi menyandang status baru. Mahasiswa pascasarjana. Masa seneng-seneng dan main harus berubah. Seabrek tugas dan bacaan segambreng harus saya lahap tiap hari. Kondisi yanng berubah itu membuat saya sakit. Iyaaa.. sakit lagi. Sakit kali ini batuk nggak berkseudahan, hampir sebulan. Sampai-sampai di kelas saya nggak mau duduk yang terkena ac, karena dijamin saya batuk-batuk. Sakit yang lebih aneh lagi adalah kepala saya pusing, bahkan harus disandarkan setiap pusing itu datang. Mendingan merem sambil nyandar dari pada buka mata dan melihat dunia berputar. Uniknya itu hanya terjadi setiap bada maghrib. Saya harus rela tutup laptop dan nggak lihat monitor karena sakit kepala yang nggak ketulungan itu.

Satu tahun berjalan sebagai mahasiswa ‘esdua’, teori dan tugas sudah mulai berkurang. Alhamdulillah saya mendapat pekerjaan kantoran. Yeaaay. Keisbukan yang tadinya suka-suka, mulai kembali teratur. Ada jamkantor yang harus saya patuhi dan membagi konsentrasi saya dengan satu tugas besar,”tesis”. Hahahaha. Yang sampai detik ini baru nambah tiga halaman. Dua setengah ding. Awal-awal kerja saya mengalamki perubahan hidup yang luar biasa. Saya harus ngantor dan duduk yang dekat dengan AC. Hasilnya, bisa ditebak saya batuk nggak sembuh-sembuh. Dan baru kerja dua minggu saya izin dua hari karena batuk nggak bisa ditolerir lagi.

Semua yang terjadi di atas hanya awal-awal ritme hidup saya berubah kok. Selanjutnya tentu banyak hal menyenangkan dan nggak terlupakan. Kalau ditulis jadi satu di sini bisa bikin paging dan nanti pageview saya nambah banyak hahahaha. Sejatinya kehidupan seseorang memang harus mengalami perubahan. Cerita-cerita unik pembangkit semangat bisa menjadi sebuah kisah nggak terlupakan sepanjang hidup.

pengantin

istimewa

Kalau sekarang bosan nggak? Jawabannya, InsyaAllah nggak bosan. Kehidupan baru saya sekarang ini betul-betul saya nikmati. Mengatur ritme hidup baru, di tempat baru, dan dengan orang-orang baru membuat saya tertantang dan ya ini yang harus dijalani. Banyak yang bertanya,”Nanti setelah pindah ke sana, mau kerja apa?” atau “Rencananya mau ngapain?” adalagi “Udah dapat kerja di sana?”. Saya Cuma menjawab dengann senyuman dan kalimat begini,”Nggak tau nanti, kita lihat saja dulu, sekarang ini yang penting fokus ke satu hal dulu, mau ngapain ya belum terpikirkan”.

Nah, beneran nyeselkan udah dibilang jangan dibaca. Saya curhat nggak penting.. hehehe.  Oh iya kalau ada gambar yang nggak nyambung maafkan ya. Namanya juga asal comot.

Tentang armadita

Jurnalis biasa-biasa saja. Manusia yang juga biasa-biasa saja. Mencoba menjadi bisa karena biasa. Belajar dari mana saja dan siapa saja. Termasuk juga kamu. Menerima dengan terbuka segala bentuk makian dan masukan soal tulisan. Boleh di kolom komentar atau via surel arma.dita@gmail.com. Terimakasih sudah singgah ^^
Pos ini dipublikasikan di curcol, essaylepas, urban dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Nggak usah dibaca ntar nyesel lho…

  1. jalanjalankenai berkata:

    Saya juga berhenti kerja sesaat menjelang memasuki hidup baru. Awal-awalnya merasa bebas merdeka aja. Tapi sekarang juga makin seneng, sih 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s