Rina Nose, Jilbab, dan Hak Pribadi yang Terusik

Saya termasuk orang yang mengagumi Rina Nose ketika dia memutuskan untuk berjilbab beberapa waktu lalu. Gaya jilbab yang dipilihnya sederhana, nggak neko-neko. Rina, di mata saya terlihat lebih anggun dan asyik berjilbab. Lama saya tak memperhatikan kehidupan Rina Nose, maklum saya termasuk orang yang jarang kepo kehidupan selebriti kecuali kalau sedang heboh dan ramai diperbincangkan. Follow akun Instagramnya pun tidak.

rina nose 2

youtube.com

Sepekan terakhir Rina Nose kembali bikin heboh, lagi-lagi karena jilbabnya. Si Periang itu memutuskan untuk melepas hijabnya. Ada apa? Rina Nose tak bilang blak-blakan. Bahkan dalam wawancara ekslusif dengan Dedy Corbuzer di UCeleb talk, beberapa waktu Rina tak menjawab gamblang. Dia menuliskan alasannya di buku catatan Dedy. Namun Dedy tak membacakannya.”Lo tahu kalau gua nggak mungkin ngomong ini kan?” ujar Dedy, disertai anggukan Rina Nose.

Rina Nose sepertinya ingin menutup rapat alasannya melepas hijab. Sangat pribadi dan sangat Rahasia. Tak tanggung-tanggung 125.000 komentar memenuhi laman Insatgramnya. Rina bilang, nggak semua negatif, Ada juga menguatkannya pada laman Instagramnya. ”Meski bukan berarti mereka membenarkan apa yang aku lakukan, tapi mereka tahu saya sedang down dan ini keputusan berat,” kata Rina, dikutip dari wawancara dengan Deddy Corbuzier, di Ucelebtalk beberapa waktu lalu.

Rina Nose

dream.co.id

Saya yakin bukan perkara mudah bagi Rina untuk memutuskan hal ini. Butuh waktu yang panjang baginya sampai pada keputusan, melepas hijab. Itu terlihat dari ekspresi Rina dan gaya bicara Rina yang cenderung hati-hati. Berbanding terbalik dengan Rina yang biasa kita lihat di televisi. Rina pun mengatakan hal itu, butuh enam bulan baginya untuk mencari dan mempertimbangkan banyak hal. Rina pun menyadari banyak konsekuensi dan risiko yang harus ditanggungnya. Bukan saja dia, tetapi juga kedua orangtuanya.

Saya teringat seorang kawan yang dulu berjilbab, lalu bertemu dengan saya dia melepas jilbabnya. Saya sudah bisa mengira-ira dia bakal melepas jilbab, karena kantor tempatnya bekerja memang tidak memberikan izin kepada karyawan perempuan untuk berjilbab. Kami berbincang lama di sebuah kafe di bilangan Jakarta Selatan. Sampai di tengah perbincangan dia bilang seperti ini,”Mbak, kamu nggak tanya kenapa aku lepas jilbab?” katanya. Saya tertegun, mendengar pertanyaannya. Lalu saya tertawa. ‘Kok malah ketawa mba?”. Bagi saya pertanyaan dia itu lucu, karena saya tidak pernah mengusik urusan orang lain termasuk kenapa dia melepas jilbabnya.

“Itu hak kamu, mau berjilbab atau enggak,” saya hanya menjawab demikian padanya. Dia tersenyum. Lalu bilang lagi,”Makasih mba, tapi jangan bilang teman-teman ya kalau aku lepas jilbab,” kata dia. Saya kembali tertawa dan menimpali,”Kurang kerjaan bilang ke teman-teman kalau kamu lepas jilbab”. Bukan cuma Rina Nose yang kalangan selebriti saja yang resah dan harus menyiapkan mental ketika melepas jilbab. Kawan saya yang hanya pekerja kantoran juga resah dan perlu menyiapkan mental ketika melepas jilbab. Dia tahu konsekuensinya ketika melepas jilbab, akan muncul banyak pertanyaaan,”Apa alasannya?”

Belum lagi banyak orang yang grenengan alias membatin di belakang,”Kok dia lepas jilbab sih?” “Ih, sayang ya, padahal lebih cantik berjilbab lho,” atau komentar lainnya “Pindah agama ya?” dan segudang komentar beragam lainnya yang bikin ingin tutup telinga.

Benar atau salah, tepat atau tidak, bagi saya melepas jilbab adalah hak pribadi seseorang. Termasuk ketika seseorang memutuskan untuk mengubah gaya jilbabnya, itupun hak pribadinya yang tak bisa seorangpun mengusik bahkan menghujatnya.

Saya pun pernah dibikin terkejut oleh seorang kawan yang tiba-tiba melepas jilbab. Bukan karena alasan atau keputusannya, tetapi karena saya pangling. Tiba—tiba seseorang memanggil saya dan kemudian memeluk saya erat. Saya butuh beberapa detik untuk mengenalinya. Dan saya tidak menanyakan alasannya, hanya bilang,”Pangling, gue pikir siapa,” dan dia pun tertawa terbahak.

Ada juga seorang kawan yang semula berjilbab biasa lalu tiba-tiba bercadar. Saya menghakiminya? Atau bertanya alasannya? Sejujurnya ada pertanyaan itu dalam hati dan ingin mencari tahu, tapi niat itu saya urungkan karena bagi saya itu adalah hak dan keyakinannya.

Bagi saya memakai atau melepas jilbab adalah hak seseorang. Alasan pekerjaan, keyakinan, atau apa saja saya tetap menghargai mereka sebagai kawan.   Seperti halnya saya menghargai setiap orang yang memutuskan untuk memakai jilbab dengan gaya apa saja. Saya yakin mereka memutuskan itu semua tidak dengan mudah. Termasuk Rina Nose, yang pada akhirnya mematikan komentar di laman Instagramnya.

Tentang armadita

Jurnalis biasa-biasa saja. Manusia yang juga biasa-biasa saja. Mencoba menjadi bisa karena biasa. Belajar dari mana saja dan siapa saja. Termasuk juga kamu. Menerima dengan terbuka segala bentuk makian dan masukan soal tulisan. Boleh di kolom komentar atau via surel arma.dita@gmail.com. Terimakasih sudah singgah ^^
Pos ini dipublikasikan di artis, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s