Sobat Kecil Saya dan Anak Keduanya

IMG-20171117-WA0002

 

Awal bulan ini saya ditampar oleh sobat kecil saya. Sakit? Bangeettt! sakit, tapi nggak berdarah. Ditampar beneran? Ya enggaklah cuma disindir aja. Lalu ditampar bagaimana? Kawan kecil saya ini baru saja melahirkan ‘anak rohaninya’ yang kedua. Anak pertama ya usianya sudah lima tahun lebih kurang. Anak pertamanya itu lahir menjelang pernikahan dan ulangtahunnya. Lho? Punya anak sebelum nikah? Hehehe. Anak rohani yang saya maksud adalah buku.

Bulan ini lahir ‘anak keduanya’. Saya salut pada keuletan dan kegigihannya menulis. Dan saya masih kalah jauh. Dia sahabat kecil saya.   Tidak pada setiap orang saya bercerita, dia salah satu orang yang menyimpan rapi cerita-cerita saya. Nah, dalam perbincangan tersebut kami berbagi cerita tentang menulis. Saya bilang, jari-jari saya ini tak selincah dulu di atas keyboard laptop. Hihihi. Saya bilang salah satu alasannya adalah saya belum menemukan posisi wueenaaak alias PW untuk menulis. Dan dia bilang itu hanya cari-cari alasan. Saya tertawa, lantaran tudingannya itu benar.

Tanpa pikir panjang saya memesan satu karyanya. Kawan saya bertanya untuk apa? Apalagi buku yang ditulisnya itu nggak ada hubungan dengan latar belakang saya selama ini. Saya hanya menjawab singkat,”Kanggo tondo tresnoku marang sliramu,” (untuk tanda cintaku pada dirimu). Demikian saya bilang padanya. Dan dia hanya terkekeh mengetahui jawaban saya.

Lima belas tahun saya berkawan dengannya. Bukan waktu yang sebentar untuk kami saling berbagi apa saja. Sepuluh tahun kami terpisah jarak. Ketika saya memutuskan untuk bekerja di luar Yogyakarta dan menyusul dia meninggalkan Yogyakarta. Kangen? Jelas… jika ada kesempatan bertemu waktu satu atau dua jam nggak pernah cukup buat kami berbagi cerita.

Membuka buku karyanya membuat saya senyum-senyum sendiri. Pasalnya banyak foto dia sedang berinteraksi dengan murid-muridnya. Entah kenapa saya membayangkan dulu ketika dia mengajarkan lagu bebek-ayam dan kepiting cina kepada mahasiswa baru yang badannya segede gaban.

Berikut ini kata-kata mutiara yang ditulisnya untuk saya, “Kita dibesarkan dengan satu mantra sakral. Cerita seru kita berakar dari satu mantra sakral, walaupun terpisah jarak. Kita tetap menyatu dalam satu mantra sakral. Dan satu mantra sakral itu adalah ‘Membaca dan Menulis.Titik’.

IMG-20171120-WA0003

Tentang armadita

Jurnalis biasa-biasa saja. Manusia yang juga biasa-biasa saja. Mencoba menjadi bisa karena biasa. Belajar dari mana saja dan siapa saja. Termasuk juga kamu. Menerima dengan terbuka segala bentuk makian dan masukan soal tulisan. Boleh di kolom komentar atau via surel arma.dita@gmail.com. Terimakasih sudah singgah ^^
Pos ini dipublikasikan di Ekspresi, essaylepas, Sahabat dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s