Si Doel, Kisah Sederhana yang Tak Lekang Waktu

IMG_20180806_145553

 

Aseli ini bukan spoiler

Saya termasuk orang yang gembira ketika Si Doel naik ke layar lebar. Menurut saya sejauh ini cuma Si Doel, sinteron yang tak pernah bosan ditonton kendati sudah berulang kali diputar. Bagi saya guyonan dan celetukan khas pemainnya itu natural dan nggak terlalu dibuat-buat. Semua pemain punya karakter kuat. Cerita yang nggak melulu soal harta dan jabatan, kendati bagi Babe Sabeni kerja kantoran adalah harga mati untuk ukuran sukses.

Sederhana. Itu adalah komentar pertama saya usai nonton Si Doel kemarin. Suami saya pun berujar,”Udah segini aja? Simple banget ceritanya”. Hahaha si abang kebanyakan nonton film action sih. Film ini sederhana, di luar bayangan saya. Bayangan saya, khas film Indonesia yang seringkali menye-menye apalagi diangkat dari sinetron.

Tapi ternyata kekhawatiran saya tak terbukti. Sederhana sekali film ini, sesederhana sinetronnya. Meski ada banyak pertanyaan terkait benang merah antara sinetron terakhirnya dan sekarang. Ah tapi sudahlah saya tak mau ambil pusing. Pastinya, sinetron ini menghadirkan nostalgia. Film yang mungkin dianggap receh oleh sebagian orang.”Hah…nonton Si Doel? Hahahahaha,” kata seorang kawan begitu tahu saya nonton Si Doel. “Segitu recehkah? Lalu, kamu yang hobi nonton film Hollywood atau drama Korea lebih berkelas gitu?”

Screenshot_2018-08-06-16-57-29-186_com.google.android.youtube

Sebagian besar orang Indonesia mungkin sudah tak lagi percaya dengan film karya bangsa sendiri. Pun saya. Apalagi ketika tahu siapa sutradara dan pemainnya. Pasti ini bakal menjadi bahasan panjang. Seperti Iqbal Ramadhan yang memerankan Minke. Bagi sebagian orang penggemar Dilan dan Iqbal dan tidak tahu siapa Minke, itu nggak masalah. Tetapi buat sebagian pecinta Pram, tentu ini sebuah kesalahan. Tak urung sumpah serapah dan bully-an terhadap Iqbal terus mengalir. Meski kita belum tahu sesukses apa Iqbal memerankan Minke.

Si Doel dalam layar lebar, adalah kisah sederhana, minim dialog, tetapi ada banyak adegan yang mengena. Doel kecil contohnya dialognya tak lebih dari 10 kalimat. Padahal bayangan saya, dia bakal menanyakan kenapa baru sekarang ayahnya datang? Atau ada drama ala sinetron,”Ngapain orang ini di sini Mama. Dia bukan Papaku!” (jreng jreeng diucapkan dengan bibir bergetar). Percayalah tak ada adegan seperti ini.

Screenshot_2018-08-06-16-56-31-712_com.google.android.youtube

Atau adegan ketika Sarah bertemu Doel di sebuah museum. Pertemuan suami istri setelah 14 tahun, hampir sama kayak Rangga dan Cinta. Bedanya, kalau Rangga dan Cinta menghabiskan waktu berdua semalam suntuk keliling dari Prawirotaman, Sate Klathak, ngopi di Klinik Kopi, nonton PaperMoon, liat sunrise di Gereja Ayam Magelang, sampai balik lagi ke villa Cinta, dkk.

Pertemuan Doel dan Sarah hanya sederhana. Tanya kabar, tak ada adegan Doel balik arah untuk gantian meninggalkan Sarah. Saya sangka semula akan ada adegan kejar-kejaran antara Sarah dan Doel. Tapi ternyata itu cuma imajinasi saya. Hahahaha. Mereka hanya duduk berdua, minum, saling bertukar cerita seperti melepas kangen. Saling meminta maaf, nggak ada kata-kata,”Tega kamu Doel nggak nyariin saya”. Percaya deh dialog ini cuma ilusi. Sementara Mandra? dia terperangah melihat Sarah.

Kemudian mereka bertemu lagi di rumah Sarah untuk makan sayur asem. Konon sayur asem dan ikan asin adalah sayur andalan Maknyak kalau Sarah datang ke rumah Doel. (dan saya jadi pengen masak sayur asem dan ikan goreng, oke besok ke pasar beli ikan). Momen itulah yang mempertemukan dua Doel. Doel besar dan Doel kecil.

Screenshot_2018-08-06-16-57-41-497_com.google.android.youtube

Pertemuan yang tak diduga, dan ya tak ada reaksi apapun dari Doel besar.  Ada sedikit perubahan sikap. Kalau dulu Doel gampang tersinggung, sekarang dia tak banyak bicara ketika anaknya bersikap jutek. Hahaha. Dia juga nggak memilih pergi tetapi tinggal di rumah Sarah. Beda kalau dulu, kalau dia diejek Roy- penggemar sejati Sarah- dia langsung tersinggung dan pergi begitu saja. Tapi Doel bertahan. Entah apa yang dia harapkan.

Endingnya pun bikin komentar,”Oh gini aja?” Hahaha. Kendati sederhana, yakin deh film ini langsung ke jantung pertahanan sodara-sodara. Tenang netizen yang budiman. Anda boleh mencaci, tapi film ini layak diapresiasi karena cerita yang simple itu tadi.

Sekian dan terimakasih.

Tentang armadita

Jurnalis biasa-biasa saja. Manusia yang juga biasa-biasa saja. Mencoba menjadi bisa karena biasa. Belajar dari mana saja dan siapa saja. Termasuk juga kamu. Menerima dengan terbuka segala bentuk makian dan masukan soal tulisan. Boleh di kolom komentar atau via surel arma.dita@gmail.com. Terimakasih sudah singgah ^^
Pos ini dipublikasikan di artis, essaylepas, Uncategorized dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s