Apa Rasanya 62 Jam Tanpa Air Mengalir di Rumah

air 1

Kali ini saya mau bercerita tentang apa rasanya tanpa air mengalir di rumah selama 62 jam. Jadi begini, ini cerita saya sebagai perantau baru. Cerita ini berawal hari Kamis (15/11) kemarin.  Sekitar pukul 08.00, saya ke kamar mandi dan menyalakan keran. Saya punya kebiasaan cek keran setiap ke kamar mandi, meski itu hanya cuci tangan atau kaki. Maklum di wilayah kami sering sekali mati air. Dan jeeng..jeng… bener, pagi itu air mengalir kecil sekali. Saya tetap hidupkan keran, meski air di ember penuh. Dan benar saja, nggak lama tidak lagi terdengar suara air mengalir dari keran.

Dua jam berselang, tak ada tanda-tanda air mengalir (lagi). Kemudian saya menghubungi CS ATB (perusahaan air di Batam), CS bilang bahwa debit air di perumahan tempat tinggal saya sedang tidak normal karena masih ada beberapa rumah yang mengalir. Saya diminta menunggu, baeeeklaah saya mah udah biasa nunggu. Dua jam berselang nggak ada tanda-tanda juga. Saya coba hubungi lagi, daaan ternyata ada pipa atb segede gaban kena garuk alat berat. Ini bukan pertama kali terjadi, mulai dari pipa kecil sampai pipa yang muat untuk saya ngumpet.

Lalu, beredarlah informasi di media sosial dan juga pesan pendek, bahwa perbaikan sedang dilakukan dan akan selesai pada pukul 24.00. Saya masih merasa ‘tenang’ karena masih punya persediaan air satu ember gede (lebih tepatnya mencoba tenang, karena kalau marah juga nggak simsalabim air ngalir). Ternyata kenyataan tak semanis harapan, estimasi pekerjaan perbaikan selesai jam 24.00 mundur jadi jam 05.00 (hari Jumat) dan mundur lagi jam 15.00 atau pukul 17.00. Ternyata masih kena PHP dan estimasi pekerjaan selesai baru pukul 23.00.

Legaaaa banget waktu ada informasi kalau pekerjaan sudah selesai. Air diperkirakan nyala jam 01.00 baeeklaaah. Saya gak tidur, buka lapak di depan tv nunggu babi ngepet eh nunggu air nyala sambil jaga lilin.  Tapi ternyata belum nyala juga. Daan ternyata untuk pemulihan air itu butuh waktu hampir 24 jam. Lelaah hayati…

Nah, lalu apa rasanya 62 jam tanpa air mengalir di rumah?

Jumat pagi mulai panik.  Untuk antisipasi, suami berinisiatif beli galon, iyaa beli galon bukan isi ulang. Horaang kayaaah. Nggak apa-apa deh, mau gimana lagi. Nggak punya pilihan, karena depot air langganan pun sudah kehabisan stok air. Jumat seharian itu saya pakai air super irit, selesai buang air kecil,kamar mandi langsung saya semprot pakai campuran air dan karbol yang kebetulan selalu ready.

Suami pun saya wanti-wanti ketika mandi pagi,”Boleh mandi tapi nggak boleh lebih dari empat gayung atau setengah ember.” Hehehehehe (sadiiss). Sore hari saya ada kondangan, tapi air belum juga mengalir. Mandi bebek dengan empat gayung pun saya jabanin.

Jumat malam, saya sudah mulai risih, panggilan alam pun tak dapat dibendung. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke masjid yang memang agak jauh dari rumah, dan pastinya tidak di wilayah terdampak mati air. Saya bawa handuk kecil dan sabun..hihihi siapa tahu bisa numpang mandi.  Alhamdulillah badan bisa kena air rada banyak dan lebih segar.

Sampai di rumah, berharap air sudah mengalir ternyata sama juga belum ada air setetes pun sodara-sodara. Saya cek media sosial, beredar informasi kalau pekerjaan perbaikan pipa bocor segede gaban itu sudah selesai kali ini nggak PHP. Alhamdulillaaah saya lega banget dan tentu saja berharap air mengalir dini hari atau subuh. Tetapi sama juga, kami kena PHP lagi cyiin…harapan tinggal harapan, sampai menjelang adzan subuh tak setetespun. Saya yang tertidur di depan tv dibangunkan oleh suami dan mengajak (lagi) ke masjid yang semalam kami sambangi. Tanpa cuci muka (mau cuci muka pakai apa juga) , cuss kami menembus hawa dingin pagi menuju masjid. Alhamdulilah, badan kena air sedikit (meski nggak mandi) yang penting bersih-bersih.

air 33

Pantau grup WA emak-emak kompleks, ada yang bilang kalau air di rumahnya sudah mengalir. Dengan tingkat optimis yang tinggi, saya pun pulang dan membatalkan niat ke pasar dan setia menunggu air datang. Dan lagi-lagi kecewa, karena air tak setetespun mengalir sampai jam 10.00 di hari Sabtu. Pagi hari sempat hujan deras, saya buru-biri mengeluarkan ember untuk menampung air hujan. Lumayan lah, bisa untuk cuci kaki. Saya coba hubungi CS ATB, mereka kembali meminta maaf dan meminta saya bersabar karena air dalam tahap normalisasi. Tenang stok sabar saya masih banyaaaaak.

Iya sih saya paham, di waktu yang bersamaan orang buka keran perjalanan air mampir-mampir dulu di keran yang telah terbuka ini dan mengisi bak dan juga tandon yang kosong. Kalau Cuma satu-dua rumah tidak masalah, tapi ini ada puluhan mungkin juga ratusan rumah. Hikss…

Kami memutuskan untuk pergi ke masjid (lagi)  tapi ini bukan yang semalam atau sabtu subuh. Kami pun numpang mandi (lagi) di masjid hihihihi. Menjelang sore, pulang ke rumah berharap sudah mengalir, lagi-lagi  kami kena PHP,  air belum juga menyalaaa. Sampai akhirnya ada tetangga baik hati yang menawarkan air, kebetulan di rumahnya sudah mengalir lancar. Alhamdulillah, ada banyak orang baik di sekeliling kami.

Air baru mengalir jam 10 malam, ketika kamu sudah pergi (lagi) untuk menghilangkan bete air tak kunjung mengalir. “Daripada suntuk ayo jalan-jalan.” kata suami saya. Begitu menyala saya nyalakan keran depan (nampung air di galon) dan keran kamar mandi. Intinya semua tampungan di depan dan belakang langsung diisi semua. Drama queen air mati selesai sudah setelah genap 62 jam air tidak mengalir di rumah.

Siapa saja yang mengalami ini punya banyak cerita. Mulai yang pasrah dan milih tidur, sampai rela ambil air di daerah yang jauh. Hihhi. Selalu ada hikmah dari setiap peristiwa. Jadi, hadapi ini dengan senyuman aja. Asal nggak lupa pastikan semua tampungan penuh selama air mengalir. Kedua, pastikan air galon terisi terus, jangan biarkan kosong. Untuk jaga-jaga, ketimbang beli galon (lagi) mahaaal cyiiiiiinn. Ketiga jangan malas-malasan cuci piring kalau nggak pengen cucian numpuk ketika mati air.  Tentu saja, jangan lupa guyon dengan teman senasib sepenanggungan biar nggak merana.

Saya jadi merenung, apa kabar ya, mereka yang nyaris tanpa air bersih di belahan bumi manapun. Jadi harus lebih banyak bersyukur dan tak mudah buang-buang air bersih, karena setiap tetesnya sangat berharga.

Tentang armadita

Jurnalis biasa-biasa saja. Manusia yang juga biasa-biasa saja. Mencoba menjadi bisa karena biasa. Belajar dari mana saja dan siapa saja. Termasuk juga kamu. Menerima dengan terbuka segala bentuk makian dan masukan soal tulisan. Boleh di kolom komentar atau via surel arma.dita@gmail.com. Terimakasih sudah singgah ^^
Pos ini dipublikasikan di curcol, essaylepas, Uncategorized dan tag , , , , , . Tandai permalink.

17 Balasan ke Apa Rasanya 62 Jam Tanpa Air Mengalir di Rumah

  1. wenny prihandina berkata:

    Saya juga pernah kena dampak mati air ketika di Batam. Memang tidak selama 62 jam, alhamdulillah, tapi tetap saja sengsara. Mau apa-apa susah. Kalau udah gitu pasti jadi emosi. Lantas, untuk hilangkan emosi pasti makan. Akhirnya jadi endut deh…

  2. Silviana Noerita berkata:

    ATB ini sampai sekarang masih suka kayak gitu yaaa. Pernah merasakan waktu puasaan, habis sahur mau gosok gigi, waktu nyalain keran,yang keluar bukannya air bening malah air lumpur. Memang kabarnya baru ada perbaikan sambung selang atau entah apa. Omaegat. Secara di Jawa belum pernah nemu yang kayak gini hehe. Meski air mati, beruntung masih punya persediaan air ya.

    • armadita berkata:

      Iya mbaa… apalagi saya ini perantauan baru.. jd msh sering kaget liat kondisi begini… meski sy akui sih debit air lumayan bagus kalau dibandingkan dg daerah lain yg sering kecilll alirannya

  3. Dulu waktu tinggal di Greenland, Batamcenter juga pernah terdampak mati air. Nggak sampai 62 jam sik mbak. Tapi ya itu, tetap menderita banget. Apalagi pas panggilan alam dan mau mandi. Terpaksa beli Aqua galon… Jadi karena pengalaman mati air, pas air hidup, langsung tampung di dua ember besar (kebetulan hanya punya itu, maklum anak kos), eh sekalinya sudah ditampung, besok2nya air ga mati lagi. wkwkwkwk

    Sabar ya mba.. semoga permasalahan air ini selesai di kompleknya mba.

  4. ahmadi sultan berkata:

    Mandi dengan empat gayung air?? Oh my god, hebat benerr bisa mandi hanya empat gayung air.

  5. Rizka berkata:

    Ya ampun lama bangetttt… Tempo hari pernah seharian mati air trus akhirnya ke hotel buat sewa kamar biar bisa mandi.. Wkwkwkwk… Berasa tajir padahal mah rakyat jelata.. Aku malah gak kepikiran mandi di masjid.. Wkwkwkw…

  6. Rahap berkata:

    Lama banget ya ampe 62 jam sehari saja bikin kesel

  7. Juli berkata:

    Duh ga kebyang kalau mati air punya anak kicik kayak aku gini, mbak. Mungkin kami minggat ke rumah orang tuaaa… Parah bgt smpe 62 jam. Semoga nggak terjadi lg kerjadiaan sprti ini ya, mbak…

  8. aliansera berkata:

    Memang sulit banget kalau ngak ada air, saya pernah juga merasa.tapi ngak selama itu sih. Kalau hujan yah terpaksa buat nampung air hujan..

  9. Citra berkata:

    Pernah mengalami perasaan itu, susah Dan sedih nggak ketulungan kak… Semangat

  10. Sri Murni berkata:

    Hwhwhwhw 62 jam tanpa air ya puyeng… apalagi kalau anak-anak mo sekolah and semuanya mau kerja.. bisa nangis bombai… Untung ada hujan ya? Kalau saya memang pakai sumur, jadi gak tergantung sama PDAM ataupun ATB di Batam hehehehe

  11. Dian Radiata berkata:

    Duh 62 jaaam?! Gak kebayang gimana gak enaknya. Kalo mandi sih masih bisa dikondisikan, buat urusan buang hajat ini yang susah hehehe

Tinggalkan Balasan ke Silviana Noerita Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s