Siapa Bilang Diet Plastik Itu Sulit?

belanja di pasar tanpa kantong plastik

Belakangan bisa dibilang saya getol untuk diet kantong plastik. Sebetulnya sudah lama, tapi ya masih angot-angotan karena terkadang suka lupa bawa tas belanja. Lalu dari kejadian demi kejadian, yang menunjukkan fakta bahwa memang Indonesia ini darurat sampah plastik. Menteri Perikanan Susi Pudjiastuti pernah mengatakan bahwa Indonesia adalah negara kedua terbesar penyumbang sampah plastik.

Berdasar data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), dikutip dari kompas.com, ada 64 juta ton per tahun sampah plastik di Indonesia dan sebanyak 3,2 juta ton adalah sampah plastik yang dibuang ke laut. Sementara itu kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 miliar lembar per tahun atau sekitar 85.000 kantong plastik.

Memang sih, kita sudah membuang sampah di tempatnya tetapi setelah diangkut truk sampah, apa kita pernah tahu? Saya mengalaminya di lingkungan tempat tinggal Kebetulan selokan air di depan rumah itu tersumbat, singkat cerita setelah dibongkar ada lebih dari 20 botol minuman kemasan tersumbat di sana. Belum termasuk sampah-sampah minuman gelas lainnya yang memenuhi selokan. Saya rasanya harus marah tapi nggak tahu marah sama siapa. Padahal sampah saya juga bukan. Peristiwa itulah yang membuat saya membulatkan tekad untuk mengurangi penggunaan plastik.

Semula saya mencoba hanya membutuhkan satu kantong plastik ketika belanja dan semua belanjaan nyemplung di situ, kemudian bawa tas sendiri tapi masih pakai kantong plastik kecil untuk wadang bawang, cabe, dan lain-lain. Sampai kemudian berusaha tanpa kantong plastik ketika belanja baik ke supermarket, pasar, bahkan ke warung tetangga.

Ada seorang kawan yang pesimis.”Mana bisa, kalau ke pasar kita beli ikan pasti dikasih kantong plastik,” kata dia. Ucapan itu membuat saya terhenyak dan berpikir, apa tidak ada alternatif lain. Lalu saya iseng-iseng mencoba bawa kotak sendiri ketika beli ayam atau ikan. Mulanya penjual masih terlihat gagap. Mereka kekeuh menawarkan kantong plastik. Hadeeeuh, saya tolak dong. “Basah mbak tasnya,” kata si penjual. “Nggak apa-apa Pak, nanti juga kering,” jawab saya. Sekarang, penjual ikan dan ayam langganan saya di pasar sudah hafal kebiasaan saya. Alhamdulillah senang.

beli ikan di pasar pakai kotak sendiri.

Postingan seorang kawan membuat kantong belanja dari kerudung yang sudah tak lagi terpakai, menginspirasi saya. Lalu saya bongkar-bongkar jilbab lama, dan taraaaaa.. saya bikin kantong untuk wadah bumbu dapur, cabe, dan bawang ketika belanja. Komentar para penjual juga beragam.”Ih cantik kali kantongnya, ini bikin sendiri?” tanya ibu penjual bawang di pasar. Saya mesem-mesem. ”Iya bu,” jawab saya. Duh padahal andai ibu tahu, saya jahitnya ngasal dan penuh perjuangan pakai tusuk jait bermacam-macam mulai dari silang, jelujur, sampai tikam jejak, pokoke nyambung lah. Hahahahaha.

kantong bawang/cabe alakadarnya kreasi sendir

Penjual lain komentar,”Sayang mbak, nanti kotor ini”. Kebetulan saya pakai kantong warna putih. “Nggak apa-apa Pak, nanti bisa dicuci kalau kotor,” jawab saya. Akhirnya si penjual mengalah. “Masuk sini semua mba?Emang cukup” kata penjual lain. “Insya Allah cukup Bu, kalau nggak cukup tenang, saya ada kantong lain,” jawab saya sembari ngubek-ngubek tas nyari kantong ajaib lainnya. “Kenapa sih mba kok nggak mau pakai kantong plastik, aneh banget,” kata penjual lainnya. “Biar nggak nambah volume sampah Bu,” jawab saya.

“Ibue go green yo?” kata mas penjual sayur berlogat ngapak tanggung. Lain waktu, saya belanja lagi. Si penjual sayur ini sudah mafhum. Suatu hari, saya berbelanja. Eh, si mas ngapak ini ambil plastik. Spontan saya teriak,”Ora nganggo plastik, Mas”.

“Iya, ngarti. Nggo ibune kuwe,” kata dia sambil menunjuk ibu-ibu lain di depan saya. Hahahahaha.

Rejeki saya, ketika dihitung eh saya diberi diskon. Lumayan tiga ribu rupiah. Si penjual sayur bilang,”Udah hemat kantong, diskon tiga ribu”. Alhamdulillah, asal yang ngasih diskon penjual artinya halal.  

Biar Ribet , Patut Dicoba

Buat apa mbak, kotaknya banyak banget,” kata penjual tahu yang saya datangi pagi itu. Saya jawab,”Ya biar nggak pakai plastik bu, nggak nyampah,” kata saya. Coba ya, bayangkan saja kalau saya beli tahu di tukang tahu langganan itu si ibu ngasih kresek dobel belum lagi kemasan tahunya. Sebetulnya, kalau datang agak pagi bisa dapat tahu tanpa kemasan tapi karena kesiangan ya saya  cuma bisa beli tanpa kantong plastik saja. 

Ribet ya, mau belanja ke pasar saja pakai macam-macam bawaannya. Untuk mencoba lebih ramah terhadap bumi, nggak ada salahnya dicoba. Memang sih belum seutuhnya terbebas dari plastik, tetapi jika tidak dimulai mau kapan lagi?

Seorang teman pernah bilang ke saya,”Saya pengen, tapi kok rasanya sulit ya”. Itu karena kamu nggak pernah mencoba. Jadi sulit terus. Seperti halnya  tesis atau skripsi, nggak akan pernah selesai kalau hanya dipikirkan terus. Mau selesai, ya ditulis dan dikerjakan. Sesederhana itu.

Keribetan saya nggak hanya di pasar saja. Tetapi juga ketika belanja di supermarket. Saya bawa tas belanja sendiri, yang sering bikin si kasir bingung. Pernah saya sodorkan tas belanja, lalu si kasir malah ambik kresek dan memasukkan belanjaan saya ke kresek, lalu baru dimasukkan ke tas belanja. Saya bilang,”Mbak, langsung saja masuk ke tas itu, nggak perlu pakai kresek”. Baru dia paham dan memasukkan belanjaan ke tas belanja.

Kejadian ini bukan untuk pertama kalinya. Pernah juga si mas kasir malah bengong, dan memandang takjub tas belanja saya. Mungkin karena unyu ya, kuning bunga-bunga gitu. “Ini maksudnya gimana bu?” kata dia, sambil membolak-balikan tas belanja saya. “Nggak usah pakai kresek Mas, langsung masukkan situ saja,” kata saya. Padahal sebelumnya saya sudah bilang, “Pakai ini ya Mas”. Miris ya, padahal ritel-ritel itu menjual kantong belanja reuseable juga.

beli buah di supermarket bawa kantong sendiri

Ohiya saya juga pernah mencoba belanja buah di supermarket pakai kantong sendiri. Ini memang iseng nyoba, seramah apa mereka. Semula si mas di bagian timbangan sudah mengambil plastik.

“Nggak usah pakai plastik Mas, ini saja kalau boleh,”kata saya.

Si mas bingung. Untung temannya satu lagi paham, dan langsung mengangguk tanda setuju.”Boleh bu, nggak apa-apa,” kata dia. Si mas yang pertama ini bingung.”Nanti kalau dimarahi gimana?” tanyanya. “Nggak, nggak apa-apa,” kata temannya satu lagi. So, apa alasanmu untuk nggak mencoba diet kantong plastik. Nggak punya kotak? Ya belilah, nggak harus merek tupperware kok, Merek lain asal nutup rapat juga oke. Nggak punya kantong belanja? Ya belilah..harganya juga nggak mahal kok, nggak perlu jual alun-alun. Hehehehe.

Ohiya, ada pertanyaan lagi.”Buang sampah gimana? Saya baru saja mencoba telo bag, alias plastik dari pati singkong. Harganya  belum bersahabat, kemarin saya beli waktu kebetulan ada promo ongkir belanja Rp 22 rb di shopee. Jadi lumayankan yeee… ehehehehe.

Sebetulnya ada banyak cara untuk meminimalisir sampah. Ini yang belum saya coba dan ingin saya coba. Yaitu memilah sampah organik dan anorganik. Sampah organik diolah menjadi komposter (saya sedang belajar cara bikinnya) kemudian sampah anorganik bisa diolah menjadi bahan tepat guna lainya. Botol-botol kopi misalnya, saya manfaatkan untuk bikin sunlight oplosan. Jadi apapun itu bisa bermanfaat dan nggak hanya berakhir di tempat sampah.

Tentang armadita

Jurnalis biasa-biasa saja. Manusia yang juga biasa-biasa saja. Mencoba menjadi bisa karena biasa. Belajar dari mana saja dan siapa saja. Termasuk juga kamu. Menerima dengan terbuka segala bentuk makian dan masukan soal tulisan. Boleh di kolom komentar atau via surel arma.dita@gmail.com. Terimakasih sudah singgah ^^
Pos ini dipublikasikan di essaylepas dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s