Menabung Itu nggak Harus di Bank, Ini Cara Lainnya

istimewa

Suatu hari seorang teman mengirimkan pendek. Begini lebih kurang bbunyinya,”Mbak, kalau ada duit satu juta, mending buka tabungan emas atau beli kalung emas ya?” Saya jawab,” buka tabungan emas”. Maklum, ketika itu saya sedang getol-getolnya menabung emas. New bie begitu ceritanya.

Kok tiba-tiba tertarik menabung emas? Sebetulnya sudah sejak lama saya tahu, kalau menabung emas itu disarankan untuk jangka panjang karena tidak tergerus inflasi. Waktu itu saya sempat tanya kanan kiri, kemudian menghitung dana yang saya saya punya, dan saya putuskan,”Nggak berani,” hahahahaha. Padahal kalau mau diniatkan sih sebetulnya bisa saja. Hehehe.

Setelah menikah, barulah saya berpikir tentang menabung secara serius. Saya coba memperhitungkan, kalau kita biarkan uang di bank, lama kelamaan akan habis terpotong biaya administrasi dan macam-macam. Jumlahnya nggak main-main cuy.  Kalau kata teman saya,”Rasanya pengen nangis, kalau ngitung biaya admin bank”.  Saya mencoba mencari tahu, akhirnya menemukan salah satu instrumen menabung emas yang cocok, yaitu menabung emas di pegadaian. Selain terjangkau biaya administrasinya juga murah.  

Saya mulai mencari tahu, di mana pegadaian paling dekat dan mudah dijangkau oleh saya sendiri. Maklum ketika hari kerja, kalau mau pergi ya harus sendiri. Selain itu saya juga nggak berani pergi jauh sendiri (jiriihh). Alhamdulillah ada pegadaian di dekat rumah, lebih tepatnya dekat pasar tempat saya biasa belanja.

Ketika pertama kali membuka rekening, saya putuskan menabung Rp150.000.  Kalau nggak salah sih, pembukaan pertama yang ditetapkan pegadaian sekitar Rp55.000. Sejak itu saya niatkan bisa menabung emas setiap bulan. Besarnya? Rahasiyaaa…pastinya saya sisihkan dari sisa uang belanja dan juga penghasilan saya yang nggak seberapa. Ya, pokoknya setiap bulan diusahakan ada nominal yang masuk, berapapun. Boleh lho, bikin target pribadi, misal satu gram emas setiap bulan. Kalau dari pegadaian sih, tidak menetapkan besaran tabungan. Sama seperti menabung di bank.

Salah satu tujuan adalah menabung untuk jangka panjang, meminjam istilah orba, rencana pembangunan lima tahun (repelita) hahahahaha. Misalnya, untuk pendidikan Anak.Kalau belum ada anaknya? Ya, nggak salah kan jika dipersiapkan dari sekarang. Atau utnuk tabungan persiapan haji, bisa juga menggunakan tabungan emas. Nilai emas juga cenderung naik lho, dan dari situlah keuntungan yang bisa didapat.

Jika malas ke pegadaian, ada juga fasilitas transfer atau setor melalui m-banking, tetapi hanya bank tertentu saja. Kalau saya lebih suka datang langsung ke pegadaian, karena kita akan melihat buku tabungan dicetak dan tentu saja tertera nominal. Rasanya bikin makin semangat untuk nabung dan nabung.

Ohiya, menabung emas juga nggak harus di pegadaian. Ada beberapa cara. Ini sih cara yang menurut saya terjangkau. Bisa juga membeli emas batangan, namun jika ingin harga lebihh murah tentu harus membeli emas dengan nominal lebih besar. Kan syedddih kalau uangnya belum cukup.

Menabung emas membuat saya rutin mengontrol harga emas, padahal sih tabungan nggak seberapa. Kalau pas harga turun, rasanya ingin segera menabung. Padahal konsep menabung tidak seperti itu, berapapun harga emas, kalau diniatkan menabung  ya sudah setoran saja. Hasilnya memang untuk jangka panjang.

Lalu, boleh nggak  intip harga emas? Tentu boleh lah.  sebagai investor wajib hukumnya mengetahui kisaran harga. Hahaha, siapa tahu sudah cuan alias untung. Ketika orang lain datang ke pegadaian untuk gadai atau tebus, kita datang ke pegadaian untuk menabung emas.

Ohiya, satu lagi salah satu keuntungan menabung emas adalah keinginan untuk belanja online berkurang jauh, apalagi untuk barang printilan yang hanya lapar mata.  Jadi saya sudah nggak mantengin flash sale lagi juga nggak tergiur dengan iming-iming harbolnas akhir tahun kemarin. Tapi tetap nggak bisa lepas dari godaan beli buku. Kok bisa nggak tergiur belanja online? Karena saya selalu berpikir,”Harga barang ini, kalau ditabungkan emas jadi berapa gram ya?”. Hehehehe. Nggak percaya? Coba saja

Tentang armadita

Jurnalis biasa-biasa saja. Manusia yang juga biasa-biasa saja. Mencoba menjadi bisa karena biasa. Belajar dari mana saja dan siapa saja. Termasuk juga kamu. Menerima dengan terbuka segala bentuk makian dan masukan soal tulisan. Boleh di kolom komentar atau via surel arma.dita@gmail.com. Terimakasih sudah singgah ^^
Pos ini dipublikasikan di essaylepas dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s